Epic Fury: Ketika Saya Menyaksikan Sendiri Teater Diplomasi yang Berulang

Saya menyaksikan langsung bagaimana dunia bertepuk tangan menyambut gencatan senjata AS vs Iran beberapa hari lalu. Harga minyak turun tipis. Bursa saham AS naik ke rekor tertinggi. Para pemimpin dunia menghela napas lega seolah bahaya telah berlalu.

Maaf, saya tidak bisa ikut bertepuk tangan.

Bukan karena saya anti-perdamaian. Saya bersumpah setia pada perdamaian sejati. Namun sebagai seorang yang pernah duduk di ruang sidang Dewan Keamanan PBB selama dua tahun, saya belajar satu hal: jangan pernah sekali-pun percaya pada gencatan senjata yang lahir bukan dari kemauan, melainkan dari keterpaksaan.

Dan kali ini, Amerika Serikat terpaksa. Saya Ingat Adegan Itu…

Tahun 2018 di Markas PBB, New York. Saya duduk di belakang delegasi AS, mereka dengan penuh semangat memproyeksikan foto-foto satelit yang katanya membuktikan fasilitas rudal Iran di pedalaman gurun.

“Saksi nyata pelanggaran resolusi DK PBB!” kata mereka dengan suara lantang.

Di seberang meja, delegasi Rusia tersenyum tipis. Delegasi China membuka-buka ponselnya tanpa ekspresi. Saya bertanya pelan pada kolega saya dari Pakistan yang duduk di samping kiri, “Apakah serius ini, Kolonel?”

Ia menjawab dengan suara berbisik yang tidak akan saya lupa sampai hari ini, “Ini teater, Jenderal. Teater untuk konsumsi publik. Kalau mereka benar-benar serius, mereka tidak perlu proyeksikan foto ke layar lebar. Mereka cukup panggil rapat tertutup.”

Sembilan tahun kemudian, teater yang sama berulang di Islamabad. Bedanya, kali ini AS tidak sedang pamer kekuatan. Mereka sedang menutupi kelemahan.

Fakta yang Tidak Bisa Disembunyikan

Saya tidak sedang bicara kabar angin. Saya bicara laporan Chatham House yang terkonfirmasi oleh tiga lembaga intelijen independen di Eropa bahwa Amerika Serikat telah menghabiskan lebih dari setengah inventaris rudal Patriot dan Tomahawk-nya dalam operasi “Epic Fury”.

Di dunia militer dan Bapak-Ibu yang membaca opini ini mungkin ibu rumah tangga sekalipun akan mengerti, setengah habis adalah angka yang sangat menakutkan bagi seorang komandan.

Rudal Patriot adalah perisai. Tanpa perisai, pasukan AS di pangkalan-pangkalan Teluk Persia menjadi sasaran empuk rudal Iran. Rudal Tomahawk adalah pedang. Jika pedang tumpul, Anda tidak bisa menyerang.

Dan tanpa perisai dan pedang yang memadai, seorang jenderal tidak akan pernah, saya ulang, tidak akan pernah melancarkan operasi besar lanjutan. Bukan karena takut mati. Tapi karena seorang komandan yang baik bertanggung jawab pada nyawa anak buahnya dan kehormatan bangsanya.

Yang terjadi di Islamabad adalah konsekuensi logis dari stok rudal yang menipis. Bukan keajaiban diplomasi.

Adegan Islamabad yang Menggelikan

Pemerintah Iran sudah dengan tegas mengatakan, “Kami tidak akan mengadakan perundingan langsung dengan perwakilan AS di Islamabad.”

Namun apa yang dilakukan AS? Utusan khusus mereka bahkan Wakil Presiden JD Vance dalam status siaga tetap bersikeras terbang ke Pakistan. Ini bukan diplomasi. Ini seseorang yang panik mencari pintu darurat karena tangga utama sudah terbakar.

Presiden Trump mengatakan “waktu terus berdetak bagi Iran”. Dengan segala hormat pada presiden negara sahabat melihat waktu lebih cepat berdetak bagi persediaan rudal AS sendiri.

Saya tidak bermaksud tidak sopan. Ketika stok rudal Patriot tinggal 47 persen dari inventaris awal, AS tidak mengancam siapa pun. AS berdoa semoga selama jeda ini tidak ada yang menyerang terlebih dahulu.

Pelajaran Pahit bagi Indonesia

Saya tidak menulis opini ini untuk sekadar mengkritik AS atau membela Iran. Saya menulis ini untuk bangsa saya sendiri. Karena ada tiga pelajaran pahit yang harus kita renungkan.

Pertama, soal kemandirian alutsista.

Kita sering mendengar wacana ini di seminar-seminar pertahanan. Tapi wacana tanpa eksekusi hanya akan menjadi pajangan di rak buku. Ketika kita melihat AS, negara dengan anggaran pertahanan triliunan dolar bisa kehabisan rudal strategis, kita bertanya pada diri sendiri: bagaimana dengan persediaan rudal kita?

Saya tidak akan menyebut angkanya,karena tidak pantas. Tapi saya berharap para pengambil keputusan di Kementerian Pertahanan dan Markas Besar TNI membaca paragraf ini dengan pensil merah di tangan.

Kedua, soal definisi gencatan senjata.

Kita harus berhenti menyebut setiap stop shooting sebagai perdamaian. Gencatan senjata adalah gencatan senjata. Perdamaian adalah perdamaian. Dua hal yang sangat berbeda.

Saya mengajak pembaca untuk waspada. Ketika pihak yang sedang bertikai terdengar sangat bersemangat membicarakan “gencatan senjata”, seringkali itu bukan karena mereka tiba-tiba jatuh cinta pada perdamaian. Itu karena mereka butuh waktu. Waktu untuk mengisi magasin yang kosong. Waktu untuk memindahkan pasukan ke posisi yang lebih menguntungkan. Waktu untuk memperbaiki jet tempur yang rusak.

Ketiga, soal peran Indonesia di kancah global.

Sebagai bangsa yang tidak punya musuh abadi dan tidak punya sekutu tetap kecuali kepentingan nasional, Indonesia memiliki modal diplomasi yang sangat berharga: kepercayaan.

Pakistan, berhasil menjadi “jembatan komunikasi” antara AS dan Iran. Bukan karena mereka kaya atau kuat. Tapi karena mereka dipercaya. Dan kepercayaan itu tidak datang gratis. Kepercayaan adalah hasil dari konsistensi, netralitas, dan integritas yang teruji puluhan tahun.

Indonesia memiliki semua itu. Yang kita perlukan sekarang adalah keberanian untuk mengambil peran. Bukan dengan menggurui, tetapi dengan hadir sebagai suara yang rasional dan konsisten memperjuangkan perdamaian sejati bukan sekadar gencatan senjata sementara.

Penutup

Pengalaman mengajarkan bahwa di dunia yang penuh teater ini, realitas selalu berbicara lebih keras daripada retorika.

Realitas hari ini adalah AS berhenti menyerang karena mereka kehabisan rudal, bukan karena mereka tiba-tiba mencintai rakyat Iran.

Realitas hari ini: Iran menolak perundingan langsung karena mereka tahu posisi tawar mereka sedang kuat, bukan karena mereka lebih mencintai perdamaian daripada AS.

Dan realitas hari ini kita semua termasuk Indonesia akan menjadi penonton sekaligus korban dari babak berikutnya jika kita tidak belajar dari jeda ini.

Saya tidak sedang meramal perang. Saya berharap saya salah. Sungguh, dengan segenap hati seorang yang pernah melihat langsung penderitaan akibat konflik, saya berharap prediksi saya tentang “jeda taktis” ini meleset.

Tapi sebagai seorang prajurit yang dididik untuk melihat ancaman sebelum ancaman itu tiba, saya berkewajiban mengatakan kebenaran yang tidak nyaman ini kepada publik.

Jangan keliru mengartikan jeda taktis sebagai perdamaian sejati.

Karena di pusaran politik global, seringkali saat yang paling tenang adalah saat badai sedang mengisi tenaganya untuk menerjang kembali.(*)

 

MAYJEN TNI (PURN) FULAD

Penasihat Militer RI untuk Dewan Keamanan PBB tahun 2017-2019