Al-Yasmin Jadi Kawah Candradimuka, Remaja Masjid Jatim Ditempa Kuasai Digital

Direktur Wilayah Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Remaja Masjid BKPRMI Jawa Timur, Ustadz M. Abdul Rosyid saat menyampaikan sambutan dalam momen pelatihan remas di Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya, Sabtu (25/4/2026). (foto: Al-Yasmin untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya, menjadi semacam kawah candradimuka bagi 60 remaja masjid dari berbagai daerah di Jawa Timur. Selama dua hari, sejak Sabtu (25/4/2026) hingga hari ini, Minggu (26/4/2026), mereka ditempa untuk menguasai manajemen organisasi sekaligus keterampilan digital sebagai bekal menghadapi perubahan zaman.

Kegiatan yang digelar Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Jawa Timur ini tidak sekadar pelatihan teknis. Para peserta didorong menjadi penggerak baru yang mampu menghidupkan masjid sebagai pusat aktivitas sosial, edukasi, hingga pemberdayaan umat di era digital.

Direktur Wilayah Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Remaja Masjid BKPRMI Jawa Timur, Ustadz M. Abdul Rosyid, menuturkan, pelatihan ini dirancang untuk mengisi ruang kosong gerakan remaja masjid agar lebih terarah dan berdampak.

“Peserta hari ini mungkin masih remaja, tetapi dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan mereka akan memegang peran penting. Karena itu, mereka perlu ditempa sejak sekarang, tidak hanya dalam manajemen, tetapi juga penguasaan teknologi digital,” ujarnya, Minggu.

Pelatihan dibuka Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Agung Subagyo. Ia menekankan pentingnya hasil konkret dari proses pembelajaran tersebut.

“Jangan berhenti pada sertifikat. Sepulang dari sini, harus ada gerakan nyata di daerah masing-masing. Pengetahuan yang diperoleh perlu diterjemahkan menjadi aksi yang memberi dampak bagi umat,” kata Agung.

Menurut dia, penguasaan teknologi informasi, khususnya media sosial, kini menjadi kunci dalam memperluas jangkauan syiar masjid. Pola komunikasi yang berubah menuntut pendekatan yang lebih adaptif.

“Publikasi kegiatan masjid tidak lagi cukup melalui pengumuman lisan atau papan informasi. Media sosial harus dimanfaatkan agar pesan yang disampaikan menjangkau lebih luas,” ujarnya.

Pemilihan Pesantren Digipreneur Al-Yasmin sebagai lokasi pelatihan dinilai sejalan dengan kebutuhan pengembangan kapasitas digital generasi muda. Lingkungan pesantren yang berorientasi kewirausahaan digital memberi ruang praktik yang relevan bagi peserta.

Ke depan, masjid diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga berkembang menjadi pusat aktivitas sosial, ekonomi kreatif, hingga wisata religi yang inklusif.

Puluhan remas ikut aktif dalam sesi diskusi mengenai konteks kekinian remas dan kemajuan teknologi dalam momen pelatihan remas di Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya, Sabtu (25/4/2026). (foto: Al-Yasmin untuk Cakrawarta)

Ketua Umum DPW BKPRMI Jawa Timur, Ustadz Ahmad Bahrudin, menambahkan, perkembangan teknologi, termasuk artificial intelligence atau akal imitasi (AI), menghadirkan tantangan baru yang tidak bisa dihindari.

“Kita harus siap. Teknologi bisa menjadi peluang, tetapi juga risiko jika tidak dipahami. Remaja masjid harus menjadi subjek yang mampu mengendalikan teknologi untuk kemaslahatan,” katanya.

Ia juga menyoroti berkurangnya keterlibatan generasi muda di masjid akibat pola pengelolaan yang belum sepenuhnya ramah terhadap anak dan remaja.

“Masjid harus menjadi ruang yang hidup dan terbuka. Tanpa keterlibatan pemuda, sulit membayangkan masjid berkembang sebagai pusat peradaban,” ujarnya.

Dalam pelatihan ini, peserta mendapatkan materi strategis, mulai dari digitalisasi media remaja masjid hingga penguatan manajemen organisasi. Materi tersebut disampaikan langsung oleh pengasuh Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, H. Helmy M. Noor, yang menekankan pentingnya kemampuan mengelola konten digital secara kreatif dan bertanggung jawab.

Dari Al-Yasmin, para remaja masjid itu pulang tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga harapan baru yaitu menjadikan masjid lebih hidup, relevan, dan berdampak di tengah masyarakat yang kian terhubung secara digital.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor; Abdel Rafi