
Michael Jackson seolah hidup kembali dari kuburnya. Bukan dengan teriakan, bukan pula dengan keajaiban langit, tetapi lewat cahaya proyektor yang memantul di layar-layar raksasa bioskop dunia.
Film biopik terbaru, Michael, menghadirkan Michael Jackson kembali bukan sebagai jenazah sejarah, melainkan sebagai gema yang menolak padam. Dan anehnya, gema itu tidak hanya terdengar, tetapi juga menghitung uang.
Film ini tak sekadar ramai dibicarakan, ia berlari seperti kuda pacu di lintasan box office. Dalam debutnya, ia melesat jauh melampaui ekspektasi, seperti moonwalk yang menipu arah yaitu mundur, tapi terasa maju.
Proyeksi pembukaan pemutaran domestik Amerika Serikat mendekati 90 juta dolar AS, seolah publik dunia sepakat bahwa rindu pun punya harga, dan harga itu mahal.
Pada hari pertama saja, film ini diperkirakan meraup sekitar 37 hingga 38 juta dolar. Tiga hari kemudian, angka itu menggelembung menjadi sekitar 88 juta dolar atau lebih.
Angka itu tidak sekadar statistik, tetapi semacam tepuk tangan global yang diterjemahkan ke dalam mata uang. Produsernya, Lionsgate, mungkin tersenyum, tetapi yang lebih menarik adalah: dunia masih mau membeli kenangan.
Secara global, daya tarik Michael Jackson melampaui batas negara, bahasa, bahkan generasi. Ia bukan sekadar artis; ia seperti bahasa universal yang tidak butuh terjemahan.
Maka tidak heran jika film ini diproyeksikan menembus 180 juta dolar pada pekan debutnya, seolah dunia berkata, “Kami belum selesai denganmu, Michael.”
Ini bukan hanya film. Ini pentas yang menjelma. Bayangkan stadion-stadion raksasa yang dulu bergemuruh kini dilipat, dipadatkan, lalu dipindahkan ke ruang gelap bioskop.
Layar lebar menjadi panggung baru, kursi-kursi menjadi tribun, dan nostalgia menjadi tiket masuk yang tak pernah habis terjual.
Film ini hadir seperti mesin waktu yang tidak hanya membawa kita mundur, tetapi juga menipu perasaan.
Michael Jackson yang wafat pada 2009, dalam film ini tampak seperti hanya berganti kostum realitas. Ia tidak pergi, hanya berpindah medium dari panggung ke layar, dari konser ke sinema.
Disutradarai Antoine Fuqua dan diproduseri Graham King, proyek ini mulai dirancang sejak sekitar 2021, dengan ambisi yang terdengar sederhana tapi sesungguhnya mustahil yakni menghidupkan kembali seorang legenda.
Bukan untuk mereka yang pernah menyaksikannya langsung, tetapi juga untuk generasi yang mengenalnya dari algoritma, dari rekomendasi, dari serpihan video yang melintas di layar kecil.
Peran Michael dimainkan oleh Jaafar Jackson, keponakannya sendiri, sebuah pilihan yang terasa seperti takdir yang menyamar sebagai keputusan casting. Ia terpilih dari ribuan kandidat dalam audisi global selama dua tahun.
Colman Domingo tampil sebagai Joe Jackson, sosok ayah yang keras seperti palu yang memahat, sementara Nia Long menjadi Katherine Jackson, ibu yang lembut seperti kain yang menyerap luka tanpa suara.
Secara teknis, film ini seperti konser yang disuling menjadi esensi sinema. Koreografinya presisi seperti jam Swiss, musiknya mengalir dari rekaman asli yang membawa roh masa lalu.
Panggung-panggung ikonik direkonstruksi seperti arsitek yang membangun ulang kenangan. Penonton tidak sekadar menonton; mereka diajak kembali, dipandu masuk ke lorong waktu yang sudah dipoles agar terasa indah.
Dari sisi produksi, semuanya tampak megah dan meyakinkan. Dukungan penuh dari estate Michael Jackson membuat film ini memiliki akses ke harta karun musik yang tidak semua orang bisa sentuh.
Nama besar, dana besar, ekspektasi besar, sebuah paket lengkap yang biasanya menjanjikan keberhasilan.
Namun seperti pesta pernikahan yang terlalu mewah, kadang kita terpesona pada dekorasi hingga lupa menanyakan, apakah pengantinnya bahagia?
Secara naratif, film ini berjalan di jalur aman. Ia membawa penonton dari masa kecil Michael bersama The Jackson 5 menuju puncak kejayaan globalnya di era 1980-an.
Lagu-lagu legendaris menjadi tulang punggung cerita, menciptakan nostalgia yang nyaris seperti hipnosis kolektif. Kita menari, kita bernyanyi, kita tersentuh dan semuanya dalam dosis yang sudah diatur rapi.
Namun kritik datang, seperti hujan yang tak bisa ditahan dengan payung retorika. Film ini menghindari pembahasan tuduhan pelecehan seksual yang pernah membayangi Michael Jackson. Bukan karena lupa, tetapi karena hukum melarangnya. Sejarah dipotong, bukan karena tidak penting, tetapi karena tidak diizinkan.
Akibatnya, cerita berhenti di era terang. Seolah kehidupan Michael adalah siang tanpa malam. Para kritikus menyebutnya “whitewash”, realitas yang diputihkan, seperti tembok lama yang dicat ulang agar tampak baru.
Michael dalam film ini menjadi ikon tanpa luka, legenda tanpa bayangan. Ia bersinar terus, seperti lampu yang tidak pernah diberi kesempatan untuk redup.
Padahal, bagian paling jujur justru ada di awal. Di Gary, Indiana, kita melihat Michael kecil, anak yang belum percaya diri, berdiri di bawah tekanan ayahnya, Joe Jackson.
Ia ditempa latihan keras, disiplin tanpa kompromi, bahkan hukuman fisik. Adegan-adegan ini tidak nyaman, seperti cermin yang terlalu jujur. Tapi justru di situlah kebenaran muncul tanpa make-up.
Dan di titik itu, pelajaran penting itu menyala. Anda pun tahu, Michael Jackson tidak “tiba-tiba jadi”.
Ia ditemukan sejak sangat dini. Bakatnya terlihat seperti bara kecil, lalu ditiup, dijaga, dipaksa menyala hingga menjadi api besar.
Ayahnya mungkin keras, bahkan problematik, tetapi ia tahu satu hal bahwa anak ini berbeda. Lingkungan keluarga mendukung dimana saudara-saudaranya satu panggung, satu latihan, satu arah. Ini bukan kebetulan. Ini rekayasa yang rapi.
Bandingkan dengan realitas kita hari ini, yang sering terasa seperti pabrik. Anak-anak dicetak seragam, dipaksa masuk ke cetakan yang sama. Orangtua tahu angka, tapi tidak tahu arah. Guru tahu kurikulum, tapi lupa membaca jiwa.
Michael Jackson adalah pengecualian yang nyaris mustahil diulang. Ia ditemukan cepat, dipupuk serius, didukung penuh, dan ditempatkan dalam lingkungan yang konsisten. Namun bahkan dalam sistem itu, ada harga yang harus dibayar.
Film ini memberi isyarat tentang kesepian itu. Michael kecil membeli hewan-hewan aneh bukan karena eksentrik, tetapi karena mencari teman.
Ia anak yang dipuja dunia, tetapi kehilangan masa kecilnya. Ia memberi kebahagiaan kepada jutaan orang, tetapi menyimpan ruang kosong dalam dirinya.
Lalu muncul pertanyaan yang menggantung seperti nada yang tidak selesai, mengapa hanya Michael yang mencapai puncak itu? Mana saudara-saudara yang membersamainya?
Jawabannya sederhana, tapi pahit. Bakat bisa ditemukan. Lingkungan bisa dibentuk. Latihan bisa dilakukan. Tetapi kejeniusan adalah misteri. Michael bukan sekadar berbakat. Ia jenius, ia fenomena.
Film ini memilih berhenti pada cahaya, menghindari bayangan. Hasilnya adalah potret yang indah, tetapi tidak utuh seperti bulan purnama yang hanya kita lihat dari satu sisi.
Namun di situlah tugas kita sebagai penonton dimulai. Jangan hanya melihat hasil akhirnya, Michael Jackson sang legenda.
Lihat prosesnya, seorang anak kecil yang ditemukan bakatnya, dipupuk tanpa henti, didorong, diangkat sampai ke puncak, dan perlahan kehilangan sesuatu yang tak bisa dikembalikan: masa kecilnya.
Pelajarannya sederhana, tetapi berat dijalankan. Temukan bakat anak sejak dini. Rawat, dukung, dan beri lingkungan terbaik. Tetapi jangan sampai dalam proses itu, kita kehilangan anak itu sendiri.
Karena dunia ini tidak kekurangan bintang. Yang sering langka justru manusia yang utuh.
AHMADIE THAHA (Cak AT)
Wartawan Senior








