Kolibri Angkat Gajah

(gambar dibuat oleh penulis dengan sedikit perubahan dari redaksi)

Seekor burung kecil sedang mencoba mengangkat gajah. Begitulah kira-kira kesan pertama membaca kisah Colibrì, proyek perangkat lunak yang memungkinkan komputer kelas jangkrik menjalankan otak AI raksasa seperti GLM-5.2.

Otak AI bernama GLM-5.2 itu tersusun dari sekitar 744 miliar parameter, semacam angka-angka hasil belajar yang menentukan bagaimana AI mengenali pola, memahami pertanyaan, dan menyusun jawaban. Setelah dipadatkan pun besar filenya masih sekitar 370 GB.

Tapi ajaibnya, Colibrì bisa menjalankannya pada laptop 12-core dengan RAM hanya 25 GB. Ia tak memasukkan seluruh parameter raksasa itu ke dalam RAM komputer sekaligus. Ia hanya mengambil bagian yang sedang dibutuhkan, sementara bagian lain tetap disimpan di SSD atau NVMe dan baru dipanggil ketika tiba gilirannya bekerja.

Untuk sekarang, Colibrì memang baru menggendong “gajah” bernama GLM-5.2. Otak AI ini mempunyai cara kerja yang disebut Mixture-of-Experts (MoE). Ia dapat diumpamakan seperti sebuah perusahaan dengan 744 ribu pegawai, tapi setiap pekerjaan hanya membutuhkan sekitar 40 ribu orang yang keahliannya sesuai.

Sisanya, 704 ribu tak perlu ikut berdesakan masuk kantor; mereka boleh menunggu sampai keahliannya dibutuhkan. Itulah celah yang dimanfaatkan Colibrì. Pada cara biasa, menjalankan GLM-5.2 membutuhkan komputer dengan memori luar biasa besar atau beberapa kartu grafis kelas atas yang harganya tentu bukan kelas jangkrik.

Colibrì memilih jalan berbeda yaitu yang sedang bekerja masuk RAM, yang belum diperlukan menunggu di SSD. Namun, detail teknisnya tentu lebih rumit. Yang pasti, eksperimen Colibrì membuktikan sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin melalui kreativitas dan kecerdikan mengatasi sebuah masalah.

Nama Colibrì sendiri terasa seperti metafora yang terlalu sempurna untuk disebut kebetulan. Dalam bahasa Italia, colibri berarti burung kolibri, makhluk mungil dari benua Amerika dengan kemampuan terbang yang tidak biasa. Ia dapat melayang, berputar, melesat, bahkan terbang mundur.

Tubuh kecilnya membutuhkan pasokan energi terus-menerus dari nektar bunga. Kolibri tidak menjadi perkasa dengan membesarkan tubuhnya seperti rajawali. Ia mengatasi keterbatasannya dengan kelincahan dan cara bergerak yang berbeda.

Begitu pula perangkat lunak yang memakai namanya. Ia tidak melawan model AI raksasa dengan komputer yang sama raksasanya. Ia bergerak antara RAM, VRAM, dan tempat penyimpanan di komputer, mengambil yang diperlukan, meninggalkan yang belum diperlukan, lalu berpindah lagi.

Ia tidak mengalahkan berat dengan tenaga, tetapi dengan gerak. Ia tidak menandingi kebesaran dengan kebesaran, tetapi dengan kecerdikan.

Di sinilah Colibrì memberi pelajaran yang lebih luas: keterbatasan tidak selalu harus dijawab dengan menambah kekuatan; kadang ia justru memaksa kita menemukan cara baru via kreativitas.

Kita hidup pada zaman yang gemar menyelesaikan kekurangan dengan penambahan. Komputer lambat, tambah RAM. Model AI tidak muat, beli GPU. Server kurang kuat, beli server baru. Perusahaan kekurangan kapasitas, tambah anggaran. Semua itu tak salah, apalagi kalau ada uang untuk membelinya.

Colibrì lahir justru karena pembuatnya, Vincenzo yang dikenal sebagai JustVugg, tak memiliki mesin yang dianggap pantas menjalankan model sebesar itu. Ia bisa saja menerima nasib: model 744 miliar parameter memang bukan kelas laptop saya. Selesai.

Tetapi Vincenzo tak diam. Ia mengajukan pertanyaan lain: bagian mana dari model sebesar itu yang benar-benar diperlukan pada suatu saat? Dari pertanyaan itulah tembok yang tampaknya kokoh mulai mempunyai pintu.

Dalam sejarah teknologi, pintu semacam itu sering ditemukan oleh mereka yang tak punya cukup uang untuk membeli tembok baru. Keterbatasan memang mempunyai dua wajah: menjadi alasan untuk menyerah, atau menjadi ibu kreativitas.

Sebab kreativitas sering bukan kemampuan membuat sesuatu semakin rumit, melainkan menemukan jalan sederhana yang tak terlihat karena kita terlalu terbiasa dengan jalan mahal.

Bagi kita di Indonesia, pelajaran itu terasa dekat. Tidak setiap sekolah, pesantren, kampus, perpustakaan, kantor hukum, puskesmas, atau lembaga penelitian mampu membeli server AI bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Laboratorium komputer kita tak semuanya mempunyai GPU mutakhir. Anggaran riset kita pun sulit bertanding dengan perusahaan teknologi dunia yang belanja komputasinya dihitung dalam miliaran dolar.

Kalau gelanggang perlombaan ditentukan semata-mata oleh siapa mempunyai komputer terbesar, kita sudah kalah sebelum peluit dibunyikan. Tetapi siapa bilang kita harus berlomba di gelanggang itu? Kolibri tidak mendaftarkan diri dalam lomba angkat besi melawan gajah. Ia memilih terbang.

Kita bisa mengembangkan AI yang lebih hemat, perangkat lunak yang bekerja pada komputer yang sudah dimiliki sekolah, perpustakaan digital yang melayani pesantren tanpa pusat data raksasa, atau teknologi pertanian yang dapat digunakan petani tanpa langganan mahal.

Ukuran keberhasilannya bukan betapa mengagumkan spesifikasinya ketika dipamerkan, melainkan berapa banyak persoalan manusia yang dapat diselesaikannya. Di sinilah teknologi bertemu dengan sesuatu yang jauh lebih tua daripada komputer: nilai.

Al-Qur’an memakai ungkapan yang indah yaitu fastabiqul khairat, berlomba-lombalah dalam kebaikan. Manusia memang suka berlomba. Perusahaan, universitas, dan negara berlomba; pembuat model AI pun hampir setiap minggu mengumumkan model yang diklaim paling pintar.

Islam tidak mematikan naluri berlomba itu. Ia mengarahkan garis finisnya: kebaikan. Maka pertanyaannya bukan hanya siapa membuat model terbesar, memiliki GPU terbanyak, atau memuncaki benchmark.

Yang lebih penting: siapa membuat pengetahuan lebih mudah dijangkau, pendidikan lebih murah, pekerjaan manusia lebih ringan, layanan kesehatan lebih merata, dan mereka yang selama ini berada di pinggir ikut memperoleh manfaat? Di situlah fastabiqul khairat memperoleh makna yang sangat modern.

Tradisi open source seperti Colibrì memberi contoh kecil: seseorang menemukan jalan, lalu membukanya ke publik agar orang lain dapat belajar, memperbaiki, dan melangkah lebih jauh.

Tentu kekurangan tak perlu diromantisasi; laboratorium tetap membutuhkan dana, peneliti harus dihargai, dan komputer cepat lebih menyenangkan daripada komputer yang memberi kita waktu menanak nasi sambil menunggu jawabannya. Tetapi modal besar tanpa kreativitas hanya melahirkan konsumen yang lebih kaya.

Pelajaran Colibrì justru jangan membiarkan kekurangan menjadi vonis. Dunia boleh berlomba membesarkan otak AI, GPU, server, dan segala “gajah” teknologi. Kita pun boleh membangunnya jika mampu.

Tetapi fastabiqul khairat mengingatkan, garis finis perlombaan bukan siapa memiliki kendaraan paling besar, melainkan siapa membuat manfaat sampai kepada lebih banyak manusia.

Burung kolibri tak pernah mencoba menjadi gajah. Dengan tubuh beberapa gram, ia memilih cara terbang yang tak dimiliki kebanyakan burung.

Barangkali kita pun perlu berhenti berkata, “Kita tidak punya sumber daya sebesar mereka,” lalu menggantinya dengan pertanyaan yang sejak dahulu menggerakkan penemuan manusia: adakah cara lain?

Sebab dunia boleh terus membesarkan gajah. Tetapi untuk berlomba mendatangi sebanyak mungkin bunga kebaikan, kadang-kadang kolibri justru lebih pantas menjadi guru.(*)

Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 26 Juli 2026

AHMADIE THAHA (Cak AT)

Wartawan Senior