37 Program Digeber, DMI Jatim-Demasindo Dorong Masjid Naik Kelas

Ketua DMI Jatim, KH Sudjak menerima cinderamata dalam momen , Seminar Optimalisasi Arsitektur, Akustik, Sarana dan Prasarana Masjid oleh Departemen Pengembangan Arsitektur, Akustik, Sarana dan Prasarana Masjid di Surabaya, Sabtu (25/7/2026). (foto: DMI Jatim untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pengurus Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW DMI) Jawa Timur bersama Yayasan Demasindo menggeber 37 program sepanjang 2026 untuk mendorong masjid di Jawa Timur ”naik kelas”. Tidak hanya berfokus pada kegiatan peribadatan, masjid didorong memperkuat tata kelola, pelayanan kesehatan, pemberdayaan umat, hingga kualitas sarana dan prasarana.

Sekretaris PW DMI Jawa Timur yang juga Ketua Yayasan Demasindo, Suhadi, mengatakan, dengan 37 kegiatan dalam setahun, praktis hampir setiap pekan terdapat program yang menyasar pengembangan masjid.

”Hari ini saja ada tiga kegiatan. Kegiatannya cukup padat sehingga belum semua masjid dapat kami undang karena ada keterbatasan anggaran,” kata Suhadi di Masjid Raya Islamic Center Surabaya, Sabtu (25/7/2026).

Menurut Suhadi, berbagai program tersebut diarahkan untuk mendorong perubahan orientasi pengelolaan masjid. Pengurus diharapkan lebih mengutamakan program yang memberi manfaat langsung kepada umat.

Pada Sabtu itu, tiga kegiatan digelar sekaligus. Pertama, Pelatihan Basic Life Support atau Bantuan Hidup Dasar yang digelar Departemen Kesehatan dan Halal Lifestyle PW DMI Jatim.

Kedua, Seminar Optimalisasi Arsitektur, Akustik, Sarana dan Prasarana Masjid oleh Departemen Pengembangan Arsitektur, Akustik, Sarana dan Prasarana Masjid. Ketiga, Podcast Masjid Inspiratif yang digelar Departemen Komunikasi dan Informatika PW DMI Jatim.

Selain puluhan kegiatan tersebut, DMI Jatim memiliki tiga program unggulan, yakni Uang Kehormatan Imam Masjid (UKIM), Masjid Award, dan Halal Lifestyle.

Menurut Suhadi, Masjid Award dirancang bukan sebatas sebagai ajang pemberian penghargaan. Program tersebut sekaligus menjadi sarana menemukan dan memperkenalkan masjid dengan tata kelola dan pelayanan yang baik sehingga dapat menjadi rujukan bagi masjid lainnya.

Jawa Timur, kata dia, telah memiliki sejumlah masjid yang meraih prestasi hingga tingkat nasional. Karena itu, pengurus masjid di daerah tidak harus selalu melakukan studi banding ke luar provinsi untuk mencari contoh pengelolaan masjid yang baik.

”Mengapa harus studi banding ke daerah lain kalau di Jawa Timur sendiri sudah ada masjid-masjid terbaik, baik tingkat nasional maupun tingkat Jawa Timur,” ujarnya.

Sejumlah masjid yang telah meraih prestasi antara lain Masjid Sabilillah Malang sebagai masjid besar terbaik nasional, Masjid At-Taqwa Bondowoso untuk kategori masjid agung, serta Masjid Polda Jawa Timur sebagai masjid perkantoran terbaik nasional.

Ada pula Masjid Ulul Albab Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya yang berprestasi pada kategori perpustakaan masjid kampus.

Sementara Masjid Nurul Jannah Petrokimia Gresik meraih predikat terbaik pertama Jawa Timur untuk kategori pemberdayaan ekonomi dan Masjid Moedhar Arifin Gresik menjadi terbaik pertama Jawa Timur untuk kategori manajemen.

Masjid-masjid tersebut diharapkan menjadi laboratorium pembelajaran bagi pengurus masjid lainnya, mulai dari tata kelola organisasi dan pelayanan jemaah hingga pemberdayaan ekonomi.

Lebih dari 52.000 Masjid

Besarnya jumlah masjid di Jawa Timur menjadi tantangan tersendiri dalam peningkatan kualitas pengelolaan. Suhadi menyebut terdapat sekitar 52.712 masjid di provinsi tersebut.

Giat Pelatihan Basic Life Support atau Bantuan Hidup Dasar yang digelar Departemen Kesehatan dan Halal Lifestyle PW DMI Jatim di Surabaya, Sabtu (25/7/2026). (foto: DMI Jatim untuk Cakrawarta)

Pada tahun ini, jumlah itu diperkirakan bertambah lebih dari 3.000 masjid. Namun, proses pendataan masih berlangsung sehingga angka tersebut belum bersifat final.

Untuk membantu masjid meningkatkan kualitasnya, DMI Jatim juga menyediakan asesmen mandiri bagi masjid yang belum mampu meraih predikat terbaik dalam Masjid Award.

Asesmen dilengkapi tutorial, instrumen, deskripsi indikator, serta standar penilaian dari tingkat terendah hingga tertinggi. Dengan mekanisme tersebut, pengurus dapat memetakan kekuatan dan kelemahan masjid secara mandiri.

Hasil pemetaan selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan pembenahan internal, baik dalam aspek manajemen, pelayanan jemaah maupun sarana dan prasarana.

Upaya mendorong masjid ”naik kelas” juga menyentuh aspek yang selama ini relatif jarang mendapat perhatian, yakni kesiapan menghadapi kondisi kegawatdaruratan medis di lingkungan masjid.

Ketua Departemen Kesehatan dan Halal Lifestyle PW DMI Jatim, Abdurrohim, mengatakan, Pelatihan Bantuan Hidup Dasar ditujukan untuk membekali peserta dengan kemampuan memberikan pertolongan awal ketika jemaah tiba-tiba mengalami gangguan kesehatan atau kondisi darurat saat berada di masjid.

Pelatihan tersebut diikuti sekitar 90 peserta dari PD DMI Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik.

Kegiatan itu didukung Yayasan Demasindo, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Baznas, RSUD Dr Soetomo Surabaya, Dinas Kesehatan Jawa Timur, dan Dinas Kesehatan Surabaya.

Selain kesiapan menghadapi kondisi darurat, praktik-praktik baik pengelolaan masjid juga akan diperluas melalui Podcast Masjid Inspiratif.

Wakil Ketua PW DMI Jatim Bidang Kominfo, Helmy M Noor, mengatakan, program tersebut dirancang untuk menggali potensi dan inovasi masjid yang dapat direplikasi oleh masjid lainnya.

Potensi itu mencakup tiga pilar pengelolaan masjid, yakni idarah atau tata kelola dan manajemen, imarah atau kegiatan memakmurkan masjid, serta riayah yang berkaitan dengan pemeliharaan sarana dan prasarana.

”Potensi itu meliputi idarah atau tata kelola manajemen, imarah atau bidang peribadatan dan memakmurkan masjid, serta riayah atau bidang perawatan sarana dan prasarana masjid,” kata Helmy.

Melalui 37 program sepanjang 2026, DMI Jatim dan Demasindo ingin mendorong masjid berkembang melampaui fungsi konvensional sebagai tempat ibadah. Masjid diharapkan semakin profesional dalam tata kelola, tanggap terhadap kebutuhan jemaah, serta mampu menjadi pusat pelayanan dan pemberdayaan umat.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi