
JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Relawan Kesehatan Indonesia (REKAN Indonesia) mengkritik pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono yang mengaitkan kebiasaan mengonsumsi telur dengan munculnya bisul berdasarkan pengalaman pribadi. Pernyataan itu dinilai berpotensi menimbulkan persepsi keliru mengenai telur sebagai salah satu sumber protein hewani.
Ketua Umum REKAN Indonesia Agung Nugroho mengatakan, pejabat publik, terutama yang memimpin lembaga di bidang gizi, perlu berhati-hati menyampaikan informasi yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat.
Menurut dia, pernyataan mengenai gizi semestinya berpijak pada bukti ilmiah agar tidak memperkuat kembali anggapan yang selama ini berkembang di masyarakat, salah satunya mitos bahwa mengonsumsi telur dapat menyebabkan bisul atau bintitan.
”Di masyarakat masih banyak orang tua yang percaya bahwa makan telur menyebabkan bisulan atau bintitan. Ketika pernyataan seperti itu disampaikan oleh Kepala Badan Gizi Nasional, kekhawatiran kami adalah mitos tersebut justru kembali dipercaya,” kata Agung dalam keterangannya, Minggu (26/7/2026).
Ia menambahkan, telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Karena itu, informasi yang keliru mengenai telur dikhawatirkan justru membuat sebagian masyarakat mengurangi konsumsinya.
REKAN Indonesia menyatakan, sejauh ini tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa konsumsi telur secara langsung menyebabkan bisul ataupun bintitan.
Bisul pada umumnya terjadi akibat infeksi bakteri, antara lain Staphylococcus aureus, pada folikel rambut atau jaringan di sekitarnya. Adapun bintitan umumnya berkaitan dengan infeksi atau peradangan pada kelenjar di kelopak mata.
Atas dasar itu, REKAN Indonesia menilai hubungan sebab-akibat antara konsumsi telur dan munculnya bisul tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan pengalaman seseorang.
”Kami menghormati pengalaman pribadi siapa pun. Namun, pengalaman pribadi tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat secara ilmiah,” ujar Agung.
Khawatir Pengaruhi Konsumsi Protein
REKAN Indonesia juga mengingatkan bahwa pernyataan pejabat mengenai makanan tertentu dapat memengaruhi pilihan konsumsi masyarakat. Hal itu dinilai perlu menjadi perhatian di tengah upaya meningkatkan pemenuhan protein hewani, terutama bagi anak-anak.
Menurut Agung, tantangan perbaikan gizi di Indonesia masih mencakup pemenuhan asupan protein hewani yang memadai. Oleh karena itu, komunikasi publik mengenai pangan dan gizi semestinya memperkuat pemahaman masyarakat berdasarkan bukti ilmiah.
”Pernyataan pejabat publik memiliki pengaruh besar terhadap perilaku masyarakat sehingga penyampaiannya harus lebih berhati-hati,” katanya.
REKAN Indonesia pun meminta BGN memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai pernyataan tersebut. Klarifikasi dinilai diperlukan agar masyarakat tidak menangkap pesan bahwa telur perlu dihindari karena dapat menyebabkan bisul.
Organisasi itu berharap polemik tersebut tidak mengaburkan pesan mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang dan konsumsi sumber protein hewani dalam mendukung pertumbuhan anak.
REKAN Indonesia juga mendorong lembaga pemerintah yang menangani persoalan gizi untuk mengedepankan komunikasi publik berbasis bukti ilmiah sehingga informasi kesehatan yang diterima masyarakat tidak menimbulkan salah persepsi.(*)
Editor: Abdel Rafi








