
“Jaga kesehatan, Bung. Masih panjang jalan perjuangan.”
Entah kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja, mendengarnya bicara tentang kesibukannya.
Ia bercerita soal diskusi kelilingnya bersama Rocky (mungkin yang dimaksud Rocky Gerung), tentang Bung Karno, tentang Marhaenisme untuk generasi masa kini.
Bung kita satu ini, Airlangga Pribadi, memang sangat aktif dan prolifik. Sejak dulu tidak bisa diam dan sangat produktif menulis. Dua hal yang sangat saya kagumi darinya.
Sejak dulu pula, Si Bung satu ini sangat menggemari buku. Ketika buku menjadi barang mewah untuk dikoleksi mahasiswa, ia sudah menjadi kolektor buku-buku langka.
Kamarnya di Kali Kepiting Surabaya penuh buku. Di situ pula kami dulu pernah tinggal bersama, –tepatnya saya yang ngekos di rumah yang ia kontrak. Bapak kost yang merepotkan, sekaligus sumber kebahagiaan.
Kita semua memperlakukannya sebagai bungsu kesayangan, dan memang begitu Almarhumah Ibundanya memesankan kepada kami semua.
Di balik kepolosannya, Bung Angga ini seorang pemikir yang kompleks. Minatnya luas, begitu juga perhatiannya. Tiada hari berlalu tanpa dahi berkernyit, dan hebatnya ia selalu punya cara untuk menuangkan itu semua.
Responsivitasnya terhadap isu-isu bernas luar biasa. Tiada hari-hari istimewa di mana isu-isu bernas meluncur tanpa responnya. Sebuah respon yang acap menjadi pandu berharga di tengah hiruk-pikuk massa.
Tidak hanya itu, setiap kali ada gelagat penyelewengan melanda kampus tercinta, Si Bung ini selalu menjadi kawan yang senantiasa sigap ketika didaulat menjadi juru debat.
Staminanya untuk itu tak ada habisnya. Dia memang satu di antara kawan-kawan eksponen 98 Surabaya yang mempertahankan kevokalan dalam atributnya yang intelektual.
Salah satu cita besarnya adalah menjadi intelektual organik, yang senantiasa terlibat dalam dinamika persoalan massa.
Dan ia melakukannya: menjadi pembela Republik yang gigih, hingga penafsir ajaran merah Bung Karno yang penuh semangat.
Karya terakhinya “Marhaenisme: Dalil Baru untuk GenZ” menjadi saksi penting bagi pemikirannya yang prolifik dan upayanya yang tidak pernah diam di tengah derasnya gelombang perubahan.
Pagi ini, sebuah telepon seorang sahabat mengejutkan saya. Menolak percaya, saya mencoba menghubungi siapa saja. Berharap besar mendapatkan ketidakbenaran ikhwal berita kepergiannya.
Tetapi apa daya, semua membenarkannya. Bung Angga yang prolifik itu kini telah pergi. Meninggalkan tugas besar menjaga Republik yang belum selesai.
Sambil tertegun tak percaya, tetiba saya teringat percakapan terakhir kami, “Alih-alih mengiyakan, rupanya ia hanya tertawa, lalu menyuruhku cepat pulang sebagai responnya”.
Selamat jalan, Bung. Tak menyangka, justru engkau yang ber “pulang” begitu cepat, meninggalkan kami semua.
Svarga jati untukmu di sana.
Cambridge, 9 September 2026
JOKO SUSANTO
Dosen FISIP Universitas Airlangga








