Uang Itu Tak Punya Agama

Ilustrasi. (foto: istimewa)

“Uang adalah puncak toleransi manusia. Uang lebih berpikiran terbuka dibandingkan bahasa, hukum negara, aturan budaya, keyakinan agama, dan kebiasaan sosial. Uang adalah satu-satunya sistem kepercayaan yang diciptakan manusia yang dapat menjembatani hampir semua kesenjangan budaya, dan tidak melakukan diskriminasi atas dasar agama, jenis kelamin, ras, usia, atau orientasi seksual.” — Yuval Noah Harari (50), Sapiens: A Brief History of Humankind (2011)

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) baru saja usai. Jika sebuah drama, endingnya happy. Namun, bisik-bisik informalnya nyaris belum usai jua.

Salah satunya, ketika seorang muktamirin dari kuota “romli”(rombongan liar) maupun romlah (rombongan lillahi ta’ala), berbisik pada saya, “Dekati saja ke Ketua, PWNU tentunya, ia bawa uang lumayan.”

Walhasil, isu uang di Muktamar NU hampir mirip hasil judol. Haram, halal dan syuhbat dalam masalah isu politik uang di Muktamar bukan lagi perkara fikih.

Ada pula yang isukan, salah satu calon ketua umum (caketum) telah didekati dan didanai George Soros.

Bahkan seorang muktamirin kelas “romlah” sebelum perhelatan membuang isu George Soros sudah beri hibah 500 buah ambulans.

Juga, ada urusan uang dari istana, oligarki non pribumi dan haji taipan pribumi.

Mencuat isu uang dalam segala manfaat mudarat maupun berkat dan kutuk telah menjadi problem teologis yang pelik.

Karena itu, ada ulama sufi pernah mengasumsikan bahwa uang itu sama gaibnya dengan makhluk gaib lainnya.

Untuk mendekati uang secara filosofis, filsafat uang versi George Simmel perlu dikemukakan berikut.

Georg Simmel, lahir 1 Maret 1858 di Berlin dan wafat 26 September 1918 di Strassburg.

Dalam karir filsafatnya, ia menulis karya besar Die Philosophie des Geldes yang pertama kali terbit tahun 1900.

Buku ini bukan teori ekonomi sempit, melainkan analisis filosofis-sosiologis tentang uang sebagai medium budaya modern.

Dalam Die Philosophie des Geldes, Simmel melihat uang sebagai bentuk abstrak yang mengubah cara manusia memberi nilai pada dunia.

Nilai uang, menurutnya, lahir dari jarak dan kesulitan memperoleh sesuatu.

Kelak, uang kemudian menjadi alat universal yang menjembatani jarak itu, membuat segala hal dapat dibandingkan dan ditukar.

Simmel mengungkapkan, “Der Sinn und Zweck des Ganzen ist nur der: von der Oberfläche des wirtschaftlichen Geschehens eine Richtlinie in die letzten Werte und Bedeutsamkeiten alles Menschlichen zu ziehen.“

Yang artinya, “Tujuan dan keseluruhan hanyalah ini: dari permukaan peristiwa ekonomi menarik garis menuju nilai-nilai terakhir dan makna terdalam dari segala yang manusiawi.”

Filsafat uang Simmel menekankan ambivalensi dimana di satu sisi uang memberi kebebasan, fleksibilitas, dan rasionalitas baru.

Di sisi lain ia mereduksi kualitas menjadi kuantitas, menstandarkan hubungan sosial, dan menimbulkan “tragedi kebudayaan” di mana sarana mengalahkan tujuan.

Modernitas, bagi Simmel, ditandai oleh kehidupan kota yang blasiert (sikap acuh) sebagai mekanisme bertahan terhadap banjir rangsangan dan kalkulasi.

Dengan demikian, uang bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol dari rasionalisasi dan fragmentasi budaya modern.

Dengan pandangan ini, bisa dikatakan uang itu sepenuhnya ditimbun hasrat materialistik tiada tara.

Akibatnya, spiritualisme uang — jika pun terselip — itu sangat personal dan non religius.

Dengan kata lain, tak ada pengaruh agama pada seluruh kebudayaan yang diakibatkan bahkan dihasilkan oleh nilai eksistensial uang.

Ringkasnya, Filsafat Uang dari Simmel menawarkan filsafat tentang bagaimana uang membentuk kebebasan sekaligus keterasingan manusia.(*)

Manado, 5 September 2026

REINER EMYOT OINTOE

Fiksiwan