
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Imam Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, KH A. Muzakky Al Hafidz, mengingatkan bahwa ujian hidup bukanlah tanda kebencian Tuhan, melainkan justru bukti kasih sayang-Nya kepada orang beriman. Melalui ujian, manusia ditempa untuk mencapai derajat spiritual yang lebih tinggi.
“Jika Allah mencintai seseorang, maka Dia akan mengujinya. Ujian bukan hukuman, tetapi sentuhan kasih sayang Tuhan,” kata Muzakky dalam Kajian Senja Al-Yasmin bertema Sentuhan Kasih Sayang Lewat Ujian di Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya, Rabu (25/2/2026).
Menurut dia, Al-Qur’an secara tegas menyebutkan bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar. Kesabaran, kata dia, merupakan fondasi utama keimanan karena setiap ibadah dan perjalanan hidup manusia selalu mengandung ujian.
“Tidak ada orang beriman yang tidak diuji. Bahkan para nabi pun diuji. Nabi Ayub diuji dengan penyakit, Nabi Sulaiman diuji dengan kekayaan, Nabi Yusuf diuji dengan ketampanan, dan Siti Maryam diuji dengan kemuliaannya,” ujar Muzakky.
Ia mengutip hadis yang menyebutkan bahwa besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Jika seseorang menerima ujian dengan kerelaan, maka Tuhan meridhainya. Sebaliknya, penolakan terhadap ujian menunjukkan ketidakmampuan menerima kehendak Ilahi.
Dalam pandangannya, ujian merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pembentukan karakter manusia. Kesabaran bukanlah sikap pasif, melainkan bentuk keyakinan bahwa setiap kesulitan mengandung makna dan tujuan.
“Calon penghuni surga adalah mereka yang tahan banting. Kesabaran adalah proses latihan batin. Tidak ada ibadah yang tidak membutuhkan kesabaran,” katanya.
Ia menambahkan, Al-Qur’an juga menggambarkan bahwa manusia tidak akan mencapai derajat tertinggi tanpa melewati berbagai ujian, seperti kesulitan hidup, kegoncangan batin, maupun penderitaan.
Menurut Muzakky, kesabaran tidak muncul secara instan, tetapi harus dilatih secara bertahap, misalnya melalui ibadah puasa yang mengajarkan pengendalian diri, emosi, dan keinginan.
“Pada awalnya berat, tetapi jika dilatih, kesabaran akan menjadi kekuatan. Orang yang mampu bersabar justru menyelamatkan dirinya dan lingkungannya,” ujarnya.
Ia menekankan, dalam kehidupan, manusia selalu dihadapkan pada dua pilihan, yakni membalas perlakuan buruk atau memilih bertahan dengan memaafkan. Meski membalas diperbolehkan secara setara, memaafkan memiliki nilai spiritual yang lebih tinggi.
“Siapa yang memaafkan, pahalanya langsung dari Allah. Itulah ihsan, membalas keburukan dengan kebaikan,” katanya.
Muzakky juga mengibaratkan ujian sebagai proses kenaikan derajat, sebagaimana seseorang harus melewati seleksi untuk memperoleh jabatan yang lebih tinggi.
“Ujian bukan tanda Allah murka. Justru melalui ujian, Allah mempersiapkan derajat yang lebih tinggi bagi hamba-Nya,” ujar anggota Dewan Pembina Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya tersebut.
Ia menutup kajian dengan mengajak umat memandang ujian sebagai bagian dari perjalanan menuju kebahagiaan hakiki.
“Setiap ujian memiliki balasan. Jika manusia mampu bersabar, maka balasannya adalah kemuliaan, bahkan surga,” katanya.(*)
Kontributor: Al-Yasmin
Editor: Abdel Rafi



