KH Hamdi Sholeh: NU Itu Wadah Dari Emas

KH Hamdi Soleh (tengah) saat menyampaikan pesan dalam Lailatul Ijtima’ di Masjid Mustawa Mojosongo, Jombang, Selasa (2/6/2026) malam. (foto: Mukani)

JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Ratusan jamaah memadati Masjid Mustawa Mojosongo, Selasa (2/6/2026) malam. Mereka menghadiri Lailatul ljtima’ yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Diwek.

Para jamaah yang hadir berasal dari para pengurus NU di berbagai desa di Kecamatan Diwek. Termasuk para pengurus badan otonom dan lembaga NU.

Tampak hadir KH Ahmad Nurul Fuad, wakil ketua PCNU Jombang. Termasuk KH Hamdi Soleh, ketua tanfidziyah MWCNU Diwek. Juga hadir KH Imam Muhid, sesepuh warga NU Kecamatan Diwek.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan jamaah shalat lsya dan berbagai shalat sunah. Dilanjut dengan istigosah yang dipimpin Kiai Muhammad Rofiq. Lalu berlanjut dengan pembacaan shalawat Nabi Muhammad Saw.

Selaku pengurus ranting NU Balongbesuk, Gus Sobih merasa senang desanya ditempati kegiatan Lailatul Ijtima MWCNU Diwek. “Semoga bisa menambah ketenangan hati dan meningkatnya iman kita bersama,” ujarnya.

Dia berharap para jamaah yang hadir bisa terus menambah ilmu lewat kegiatan ini. “Karena manfaatnya sangat luar biasa bagi kehidupan kita,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan KH Hamdi Soleh, ketua MWCNU Diwek. “Karena NU itu wadah yang terbuat dari emas, yang dibikin para muasis dulu,” ujarnya.

Dia berharap agar warga NU terus berada dalam satu wadah emas itu. “Kita ini tetap satu saudara, meski ditaruh di manapun, yang namanya emas tetaplah emas,” imbuhnya.

Perjalanan bangsa lndonesia, lanjutnya, juga tidak lepas dari peran para tokoh yang diwadahi dalam NU. “Seperti tahun 1965, saat PKI memberontak, NU berada di garis terdepan untuk melawan,” tambahnya.

Saat menyanpaikan pengajian, KH Ahmad Nurul Fuad lebih banyak mengutip isi kitab At-Tibyan karya pendiri NU KH Hasyim Asy’ari. Dia menegaskan bahwa semua perbuatan bisa bernilai ibadah.

“Yang penting tergantung niatnya sehingga bernilai ibadah,” ujarnya. Sehingga dirinya menekankan pentingnya mencari ilmu lalu diamalkan. “Karena ilmu tanpa diamalkan ibarat pohon tidak berbuah,” imbuhnya. “Sedangkan amal yang penting itu istikomah dan langgengnya, meski sedikit,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin KH Imam Muhid. Selama kegiatan berlangsung, jamaah mengikuti kegiatan dengan tertib.(*)

Kontributor: Mukani

Editor: Abdel Rafi