
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Media sosial tidak hanya menjadi ruang interaksi dan pertukaran informasi bagi remaja, tetapi juga berpotensi membentuk kerentanan psikologis, terutama ketika digunakan tanpa pendampingan dan kesadaran emosional yang memadai. Dalam situasi tertentu, paparan digital yang intens dapat memperkuat tekanan emosional yang sudah dialami remaja dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Suko Widodo, mengatakan, kehidupan remaja saat ini berlangsung dalam dua ruang yang berjalan bersamaan, yakni ruang fisik dan ruang digital. Kedua ruang itu saling memengaruhi dan dapat memperkuat pengalaman emosional individu.
“Remaja hari ini hidup dalam dua ruang sekaligus. Di ruang digital, tekanan bisa hadir tanpa jeda, berlangsung sepanjang waktu, dan sering kali tidak terdeteksi oleh lingkungan terdekat, termasuk orang tua dan guru,” ujar Suko Widodo, Rabu (25/2/2026), di Surabaya.
Ia menjelaskan, dari perspektif komunikasi, fenomena tersebut dapat dipahami melalui Teori Kultivasi yang diperkenalkan George Gerbner. Teori ini menjelaskan bahwa paparan media secara terus-menerus dapat membentuk persepsi individu tentang realitas sosial, termasuk persepsi mengenai kebahagiaan, keberhasilan, dan penerimaan sosial.
Menurut Suko, media sosial kerap menampilkan representasi kehidupan yang ideal, seperti kebahagiaan, popularitas, dan pencapaian personal. Paparan berulang terhadap konten semacam itu dapat membentuk standar sosial yang tidak selalu sejalan dengan pengalaman nyata remaja.
“Ketika remaja menghadapi pengalaman personal yang sulit, seperti konflik relasi atau tekanan akademik, paparan konten di media sosial dapat memperkuat perasaan negatif yang sudah ada. Media sosial menjadi ruang yang mengamplifikasi emosi,” katanya.
Selain itu, algoritma media sosial dirancang untuk menampilkan konten yang selaras dengan preferensi dan aktivitas pengguna. Kondisi ini dapat memperkuat kondisi emosional tertentu karena individu cenderung terus terpapar pada jenis konten yang serupa.
Dalam konteks ini, Suko menekankan pentingnya literasi digital yang tidak hanya berfokus pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kesadaran akan dampak psikologis dari interaksi digital.
Ia juga menyoroti pentingnya peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial dalam mengenali perubahan perilaku remaja sebagai bagian dari upaya deteksi dini terhadap potensi gangguan kesehatan mental.
“Remaja bisa terhubung dengan banyak orang secara digital, tetapi tetap merasa terasing secara emosional. Karena itu, kehadiran lingkungan yang mampu mendengar dan memahami menjadi sangat penting,” ujarnya.
Menurut dia, media massa juga memiliki tanggung jawab etik dalam memberitakan isu kesehatan mental, termasuk menghindari pendekatan sensasional dan mendorong edukasi publik tentang pentingnya dukungan psikologis.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di balik kemudahan konektivitas digital, terdapat tantangan baru bagi kesehatan mental remaja. Pendampingan, literasi digital, dan kehadiran lingkungan yang suportif menjadi faktor penting untuk membantu remaja menghadapi tekanan di era digital.(*)
Kontributor: Khefti
Editor: Abdel Rafi



