Sunday, April 14, 2024
HomeSosial BudayaTumor Terus Membesar, Mbah Tengeng Terpaksa Jalan 'Ngesot'

Tumor Terus Membesar, Mbah Tengeng Terpaksa Jalan 'Ngesot'

Mbah Tengeng, warga Dusun Dukuh Selatan Desa Dukuh, Ngadiluwih Kediri, Jawa Timur, Terbaring Kesakitan Karena Tumor Perut Yang Dideritanya. (Dok. Akun FB Komunitas Orang Jawa Timur)
Mbah Tengeng, warga Dusun Dukuh Selatan Desa Dukuh, Ngadiluwih Kediri, Jawa Timur Terbaring Kesakitan Karena Tumor Perut Yang Dideritanya. (Dok. Akun FB Komunitas Orang Jawa Timur)

KEDIRI – Sudah belasan tahun, perut Nenek Waginah terus membuncit. Wanita berusia 80 tahun yang akrab disapa Mbah Tengeng ini hidup sebatangkara dan saat ini menghabiskan hari tuanya dengan berbaring di tempat tidurnya yang kurang layak. Kadang ia berjalan-jalan namun jalannya dengan cara ngesot di tanah karena ia tidak bisa menahan beban diperutnya yang semakin membesar.

Warga Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur ini memang sudah lama menderita tumor perut. Akibat dari tumor yang diderita perutnya semakin lama semakin membuncit layaknya orang hamil tua. Kondisi itu tak pelak membuat penderita semakin kesulitan bergerak.

Menurut informasi dari akun Facebook Komunitas Orang Jawa Timur, awal mulanya Mbah Tengeng bekerja di sebuah pabrik pengolahan ketela. Saat bekerja ia jatuh ke dalam lubang pembuangan limbah yang akhirnya ia sakit dan tidak bisa lagi bekerja. Pasca terjatuh itulah muncul benjolan di bagian samping perutnya seukuran kelereng. Namun makin lama benjolan itu semakin besar hingga saat ini. Akibatnya, ia terpaksa berjalan dengan cara ngesot karena tidak kuat menahan beban tumor diperutnya.

Menurut keterangan Katemi, warga setempat dan sekaligus tetangganya, Mbah Tengeng tidak pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, baik itu berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT) ataupun beras bagi warga Miskin (Raskin).

“Kami dulu pernah mengupayakan KTP lewat pamong desa, namun ditolak dengan alasan tidak perlu. Selain itu, upaya mendapatkan kartu Penjaminan Kesehatan dari pemerintah juga tidak membuahkan hasil,” ujar Katemi dengan sedikit emosional.

Mbah Tengeg pernah mendapatkan kursi roda bantuan orang yang iba kepadanya. Berhubung Mbah Tengeng tidak bisa menggunakannya, Katemi dan para tetangga hanya memakai kursi roda itu untuk menjemputnya jika ia kelelahan seusai berjalan dengan cara ngesot.

“Kemarin ia baru jatuh ke parit dijalan depan rumah. Kasihan sekali melihatnya,” pungkas Katemi.

(bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular