Sunday, April 21, 2024
HomePolitikaPuSKoM: Tingkat Kepuasan Publik Terhadap Walikota Rendah

PuSKoM: Tingkat Kepuasan Publik Terhadap Walikota Rendah

Direktur Eksekutif Pusat Studi Kota Medan (PuSKoM) Sukamto, M.Kes., menjelaskan hasil survei yang dilakukan lembaganya sekaitan ulang tahun Kota Medan dan menjelang berakhirnya masa jabatan Dzulmi Eldin sebagai Walikota Medan, Minggu (5/7) malam, di Hotel Grand Kanaya, Jalan Darussalam, Medan.
Direktur Eksekutif Pusat Studi Kota Medan (PuSKoM) Sukamto, M.Kes., menjelaskan hasil survei yang dilakukan lembaganya sekaitan ulang tahun Kota Medan dan menjelang berakhirnya masa jabatan Dzulmi Eldin sebagai Walikota Medan, Minggu (5/7) malam, di Hotel Grand Kanaya, Jalan Darussalam, Medan.

MEDAN – Tokoh muda asal Kota Medan, Ir. Abdullah Rasyid, ME. mampu mengimbangi popularitas maupun elektabilitas calon petahana Dzulmi Eldin, jika bertarung pada Pilkada Kota Medan Desember mendatang. Fakta ini diketahui berdasarkan survei yang dilakukan Pusat Studi Kota Medan (PuSKoM).

“Survei kita membuktikan sejauh ini tidak ada sosok yang dominan. Meskipun Dzulmi Eldin berada di urutan teratas, namun persentase popularitas dan elektabilitasnya tidaklah bisa dikatakan memadai,” jelas Direktur Eksekutif PuSKoM Sukamto, M.Kes., usai acara berbuka puasa bersama wartawan di Hotel Grand Kanaya, Jalan Darussalam, Medan, Minggu (5/7).

Berkaca pada hasil survei di daerah-daerah lain, lanjut akademisi dari Universitas Sumatera Utara (USU) ini, popularitas calon petahana rata-rata di atas 70%. Nah, dalam survei yang digelar PuSKoM terhadap 400 responden dari 10 kecamatan di Medan, sebanyak 40,2% di antaranya tidak mengetahui bahwa Dzulmi Eldin adalah Walikota Medan saat ini.

“Di antara 40,2% responden itu, bahkan ada yang menyebut Abdillah, Afifuddin Lubis dan Rahudman Harahap sebagai Walikota Medan saat ini,” tambah Sukamto, sembari menyebut survei yang dilakukan pihaknya menggunakan metode wawancara langsung (tatap muka), dengan tingkat kepercayaan mencapai 95%.

Dalam survei yang digelar pertengahan Juni lalu, PuSKoM menguji popularitas dan elektabilitas 10 nama calon Walikota Medan. Ke-10 calon itu dipilih berdasarkan fakta bahwa mereka mendaftar resmi dalam penjaringan calon yang dilakukan partai-partai politik, atau telah memublikasikan diri siap menjadi calon. Mereka adalah Dzulmi Eldin, Tifatul Sembiring, Muhammad Raden Syafii (Romo), Syofian Tan, Hasyim, Sastra, Ramadhan Pohan, Ikhwan Ritonga, Camelia Panduwinata Lubis dan Abdullah Rasyid.

Dari ke-10 calon tersebut, 5 besar peraih elektabilitas tertinggi adalah Dzulmi Eldin (28%), disusul Abdullah Rasyid (16,8%). Peringkat selanjutnya ditempati Tifatul Sembiring (15,3%), Syofian Tan (14,8%) dan Ramadhan Pohan (5,0%).

“Nama Gus Irawan Pasaribu tidak kita masukkan lantaran yang bersangkutan tidak ikut penjaringan bakal calon lewat partai mana pun, termasuk partainya sendiri, yakni Gerindra. Kemudian, dia juga tidak pernah memublikasikan diri sebagai calon lewat media apapun,” jelas Sukamto.

Sosok Pilihan

Dalam survei yang berlangsung 4 hari dan melibatkan 20 interviewer ini, PuSKoM juga menempatkan pertanyaan yang memberi kebebasan kepada responden untuk menyebut satu nama calon Walikota Medan yang menjadi pilihannya. Hasilnya, nama Gus Irawan muncul sebagai salah satu pilihan.

Selengkapnya, 5 besar calon pilihan responden adalah Dzulmi Eldin, Gus Irawan Pasaribu, Abdullah Rasyid, Sofyan Tan dan Tifatul Sembiring. Dzulmi Eldin dipilih oleh 15,3% responden, Gus Irawan 10,0%, Abdullah Rasyid 6,8%, Sofyan Tan 6,5%, dan Tifatul Sembiring 5,8%.

“Namun, lebih dari setengah responden atau sebanyak 50,1% belum menentukan pilihan. Ini bisa dimaklumi lantaran belum gencarnya sosialisasi para calon, yang tentu terkait erat dengan sikap partai politik. Sejauh ini belum satu pun partai politik memastikan siapa calon yang diusungnya pada Pilkada Kota Medan Desember 2015 mendatang,” papar Sukamto.

Terkait fenomena ini, pengamat politik USU Dadang Dharmawan sebelumnya telah menyimpulkan bahwa partai politik baru akan menentukan siapa calonnya pada Pilkada Kota Medan pada menit-menit akhir pendaftaran. Menurutnya, fenomena ini tidak sehat untuk iklim demokrasi. Partai politik seolah tidak memberi kesempatan kepada masyarakat untuk segera mengetahui sosok yang akan dipilihnya pada Pilkada Medan nanti.

“Kita tidak melihat parpol (partai politik) berpikir di luar kotak. Dalam artian tidak ada yang mencoba membangun metode rekrutmen calon secara kompetitif dan komprehensif. Sejauh ini kebanyakan parpol berkeinginan mengusung calon incumbent Dzulmi Eldin,” papar Dadang.

Evaluasi Kinerja

Dalam keterangannya kepada wartawan, Sukamto mengatakan lembaganya memilih momentum survei tepat menjelang ulang tahun Kota Medan dan akan berakhirnya periode jabatan Dzulmi Eldin sebagai Walikota Medan. Karenanya, survei juga ditujukan untuk menguji sejauh mana tingkat kepuasan masyarakat Kota Medan terhadap walikotanya saat ini.

“Pemilihan responden maupun kecamatan yang menjadi lokasi survei, didasari pada proporsi penyebaran penduduk, heterogenitas, latar belakang pendidikan, kelompok umur, etnik dan agama. Kita terlebih dahulu telah menyesuaikannya dengan data dari Biro Pusat Statistik (BPS). Kemudian, kita melakukan pengecekan ulang mengenai data responden, untuk menghindari kesalahan pemilihan responden oleh interviewer. Karenanya, kita meyakini akurasi dari survei ini bisa mencapai 95%,” jelas Sukamto.

Nah, dari 400 responden yang diwawancarai, hanya 16,75% yang mengaku puas dengan kinerja Walikota Medan saat ini. Selebihnya, 46,25% menyatakan tidak puas dan 37% mengaku tidak bisa memberi penilaian.

Kemudian, sebanyak 61,75% responden menyatakan Walikota Medan saat ini kurang respon terhadap persoalan-persoalan yang terjadi. Hanya 15,25% yang menyatakan walikotanya sudah responsif dan selebihnya (23%) mengaku tidak bisa memberi penilaian.

Kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun penyelenggara Pemilu lainnya juga ikut diuji dalam survei ini. Kesimpulannya, ujar Sukamto, penyelenggara Pemilu kurang maksimal melakukan sosialisasi terkait even-even politik yang akan digelar.

“Terbukti, sebanyak 74,5% responden tidak mengetahui bahwa Kota Medan tahun ini akan menyelenggarakan pilkada. Dari 25,5% responden yang mengaku telah mendapat informasi mengenai akan digelarnya pilkada di Kota Medan, pun lebih dari setengahnya tidak tahu persisnya kapan pilkada berlangsung,” pungkasnya.

(sk/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular