Pernyataan Cak Imin-Nusron Soal PBNU Tuai Sorotan, Sudarsono: Muktamar Harus Bebas dari Intervensi!

Sudarsono Rahman saat di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi tahun 2024. (foto: dokumen pribadi)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pernyataan dua tokoh Muhaimin Iskandar dan Nusron Wahid yang menyoroti kinerja Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021-2026 memantik respons dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Sudarsono Rahman, eks Ketua PW IPNU Jawa Timur periode 1988-1992 sekaligus Wakil Ketua Umum DPP Barikade Gus Dur.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum Halal Bihalal Ikatan Alumni PMII (IKA PMII) di Jakarta dan menjadi perbincangan luas di ruang publik.

Intinya, kedua tokoh yang kini menjabat sebagai menteri di Kabinet Merah Putih itu menilai kepemimpinan PBNU saat ini belum berhasil mengonsolidasikan “gerbong besar” Nahdlatul Ulama.

Sudarsono mengaku sependapat dengan kritik yang disampaikan. Menurut dia, evaluasi terhadap kepemimpinan organisasi sebesar Nahdlatul Ulama merupakan hal yang wajar dan justru diperlukan untuk menjaga arah gerakan ke depan.

“Saya setuju dengan pernyataan Cak Imin dan Kang Nusron bahwa perlu ada evaluasi terhadap kepemimpinan PBNU periode ini,” ujar pria yang akrab disapa Cak Dar itu dalam keterangannya, Rabu (22/4/2026).

Namun demikian, ia mengingatkan agar kritik tersebut tidak berujung pada praktik intervensi dalam proses pemilihan kepemimpinan NU mendatang. Ia menegaskan, muktamar sebagai forum tertinggi organisasi harus dijaga independensinya.

Menurut Sudarsono, para muktamirin yang terdiri dari kiai dan tokoh NU di berbagai daerah memiliki kapasitas dan kearifan dalam menentukan pilihan kepemimpinan tanpa perlu diarahkan oleh kekuatan tertentu.

“Biarkan muktamirin secara mandiri menentukan pilihannya. Mereka adalah kiai dan tokoh NU di daerah masing-masing, yang memahami betul siapa yang layak memimpin,” kata dia.

Ia juga menyoroti potensi praktik politik transaksional dalam proses tersebut. Sudarsono mengingatkan agar tidak ada upaya memengaruhi pilihan muktamirin melalui iming-iming materi maupun tekanan politik.

Selain itu, ia secara khusus menegaskan bahwa tokoh-tokoh yang sebelumnya terlibat dalam dinamika kontestasi internal NU sebaiknya tidak kembali memainkan peran sebagai tim sukses dalam muktamar mendatang.

“Ke depan, semua pihak, termasuk yang kemarin terlibat dalam konflik, sebaiknya memberi ruang jeda. Jangan sampai proses muktamar diwarnai kepentingan praktis,” ujarnya.

Pernyataan Sudarsono menambah panjang daftar respons atas dinamika yang berkembang di tubuh NU menjelang agenda muktamar berikutnya. Di tengah sorotan publik, berbagai pihak diharapkan dapat menjaga tradisi musyawarah dan kemandirian organisasi yang selama ini menjadi ciri khas NU.

Dengan jutaan warga dan jaringan luas hingga tingkat akar rumput, NU dinilai membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga mampu merawat persatuan di tengah dinamika internal yang kian kompleks.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi