Empat Skenario AS-Iran

Dinihari tadi, televisi pemerintah Iran berbicara dengan nada datar, hampir seperti penyiar cuaca yang mengumumkan kemungkinan hujan ringan di sore hari. Tujuannya, untuk memberi kepastian kepada rakyat apa yang akan segera terjadi.

Namun yang diumumkan bukan hujan, melainkan waktu berakhirnya gencatan senjata. “Rabu pukul 00.00 GMT,” kata sang penyiar. Jika dikonversi ke waktu kita, itu berarti pukul 07.00 WIB, saat sebagian orang baru saja menyesap kopi pertama.

Lalu datang versi lain dari Pakistan, tuan rumah diplomasi yang tampaknya lebih sibuk menjahit luka daripada merajut damai. Mereka menyebut pukul 23.50 GMT, atau 06.50 WIB. Selisih sepuluh menit.

Dalam kehidupan biasa, sepuluh menit hanya cukup untuk menunda bangun atau menambah satu episode serial. Tapi dalam geopolitik, sepuluh menit bisa berarti sepuluh tahun ketegangan, atau bahkan satu generasi yang tumbuh dalam bayang-bayang perang.

Jam itu kini bukan lagi sekadar angka. Ia berubah menjadi semacam lonceng tak terlihat, yang bisa berbunyi kapan saja, menandai apakah dunia masih punya akal sehat atau sudah menyerah pada naluri destruksi.

Gencatan senjata dua pekan yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 7 April itu semula dijadwalkan berakhir pukul 20.00 waktu Washington, DC, pada Selasa malam. Itu setara dengan tengah malam GMT, pukul 03.30 di Teheran, dan pukul 05.00 di Islamabad pada Rabu.

Namun dalam pernyataan-pernyataan terbarunya, Trump memberi sinyal bahwa tenggat tersebut tidak lagi kaku, bahkan telah digeser mundur setidaknya satu hari, seolah waktu pun kini menjadi bagian dari strategi negosiasi, bukan sekadar penanda berakhirnya jeda perang.

Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan suara yang terdengar seperti doa yang diucapkan berulang-ulang tanpa kepastian dikabulkan, meminta agar gencatan ini diperpanjang. Namun di sisi lain, dari Washington, nada yang muncul lebih menyerupai ultimatum daripada ajakan.

Presiden AS menyatakan dengan terang bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, maka opsi militer akan kembali dibuka. Bukan sekadar dibuka, bahkan dipersiapkan dengan retorika yang nyaris teatrikal: penghancuran jembatan, pembangkit listrik, dan infrastruktur vital Iran.

Seolah dunia ini adalah papan catur raksasa, dan pion-pionnya adalah kota-kota yang dihuni jutaan manusia.

Di Islamabad, pihak Pakistan mencoba memainkan peran sebagai tuan rumah yang sabar. Mereka menyiapkan meja perundingan, kursi-kursi diplomasi, dan secangkir teh yang mungkin akan dingin sebelum sempat diminum.

Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi, didampingi tokoh-tokoh lama dalam lingkaran kekuasaan seperti Jared Kushner.

Dari pihak Iran, harapan digantungkan pada figur seperti Mohammad Bagher Ghalibaf dan Abbas Araghchi, jika mereka benar-benar datang. Masalahnya, Iran mulai memberi sinyal: negosiasi di bawah ancaman blokade Selat Hormuz bukanlah negosiasi, melainkan undangan untuk menyerah.

Dan sejarah menunjukkan, bangsa yang merasa dipaksa menyerah justru sering memilih bertahan sampai titik terakhir.

Anda sudah menyaksikan, pertemuan 11 April lalu di Islamabad yang tanpa hasil itu menjadi semacam trailer dari kegagalan yang lebih besar. Tidak ada terobosan. Tidak ada titik temu.

Yang ada justru eskalasi yaitu blokade laut di Selat Hormuz, penembakan kapal, penyitaan kapal oleh pasukan AS, yang oleh Teheran disebut sebagai “pembajakan”. Diplomasi berjalan, tetapi diiringi suara dentuman yang semakin dekat.

Dari titik inilah, para analis mulai membaca masa depan seperti membaca langit mendung yang penuh kemungkinan, tetapi tidak pasti. Setidaknya ada empat skenario yang kini mengintai.

Skenario pertama adalah optimisme yang hati-hati yang berarti perundingan benar-benar terjadi dan menghasilkan kesepakatan sementara. Bukan perdamaian, tentu saja, melainkan semacam jeda yang diperpanjang.

Mereka bikin memorandum, istilah halus untuk mengatakan “kita belum sepakat, tapi mari kita pura-pura tidak saling menembak dulu”. Ini adalah kemenangan kecil bagi diplomasi, meski hanya cukup untuk membeli waktu, bukan menyelesaikan masalah.

Skenario kedua lebih realistis, bahkan sedikit sinis dimana perundingan terjadi, gagal mencapai kesepakatan besar, tetapi gencatan senjata tetap diperpanjang.

Dunia tetap berada di ruang tunggu, menanti keputusan yang tak kunjung datang. Ini seperti pasien yang belum sembuh, tapi juga belum meninggal. Stabil, tetapi rapuh.

Skenario ketiga lebih ganjil, namun bukan mustahil yaitu tidak ada perundingan sama sekali, tetapi gencatan senjata diperpanjang secara sepihak, mungkin lewat satu unggahan media sosial dari Washington.

Ini sebuah “pause” tanpa fondasi, tanpa kesepahaman, hanya sekadar menunda benturan berikutnya. Dalam bahasa analis, ini bukan stabilitas, melainkan ilusi stabilitas.

Dan akhirnya, skenario keempat, yang paling ditakuti sekaligus paling jujur yaitu perundingan gagal, gencatan senjata berakhir, dan perang kembali meledak.

Dalam versi ini, kata-kata berhenti bekerja. Yang berbicara adalah misil, drone, dan api yang tidak mengenal diplomasi. Seperti yang diisyaratkan sendiri oleh Trump, jika Iran tidak datang ke meja perundingan, maka meja itu akan diganti dengan medan tempur.

Sepuluh menit perbedaan waktu itu kini terasa seperti metafora yang terlalu sempurna. Empat skenario telah terbentang, tetapi hanya satu yang akan dipilih oleh sejarah.

Dan mungkin di situlah pelajaran paling pahitnya. Bahwa di balik angka-angka waktu, di balik jadwal diplomasi, di balik istilah-istilah canggih seperti “memorandum of understanding”, pada akhirnya manusia tetap saja memiliki kecenderungan aneh.

Ia memilih jalan yang paling mahal, paling berisik, dan paling sulit diperbaiki. Masih mampukah ia menahan diri, atau justru terus membuktikan bahwa ia satu-satunya makhluk yang bisa menghancurkan rumahnya sendiri dengan penuh kesadaran.(*)

 

AHMADIE THAHA (Cak AT)

Wartawan Senior