
Menarik sih menyimak tanggapan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya terhadap masukan dari diplomat senior yang juga mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal. Akhirnya mengundang komentar dan tanggapan publik lebih luas. Biarlah publik yang menilai kualitasnya. Pak Dino diplomat itu mengimbau, kenapa jadinya Pak Teddy Seskab membela diri?
Apa yang dinyatakan Pak Teddy, itu bukti pentingnya literasi di Indonesia. Manusia literat itu bukan hanya “melek huruf”. Tapi mampu memahami realitas yang terjadi di masyarakat dan cara merespon masukan atau kritik. Semestinya pejabat publik, termasuk Pak Teddy Seskab menjadikan masukan atau kritik sebagai bahan pertimbangan, bukan justru seolah “menyerang balik” orang yang memberi masukan atau mengkritik.
Sebagai catatan literasi di balik Pak Dino diplomat mengimbau, Pak Teddy Seskab membela diri, ada 5 (lima) poin yang harus menjadi perhatian bersama.
Pertama, pejabat publik harus paham kritik itu bukan ancaman, melainkan konsekuensi alami dari jabatan publik. Maka bila ada tokoh, masyarakat atau netizen yang mengimbau atau memberi masukan, respons pertama yang perlu muncul bukanlah pembelaan diri, melainkan upaya memahami esensi pesannya apa?
Kedua, ada prinsip sederhana dalam komunikasi adalah “jangan pernah berniat mengalahkan pengkritik tapi kalahkanlah keraguan publik”. Kebijakan, cara dan langkah diplomasi pemerintah memang boleh dikritik. Tapi untuk menjawabnya berikan penjelasan yang objektif atas kritik yang disampaikan. Sebenarnya, Pak Teddy sudah bagus kasih data-data dampak dari diplomasi cuma “jangan menyerang personal”. Fokus pada substansi, bukan personal.
Ketiga, kesalahan fatal Pak Teddy itu saat menyebut “mantan wakil menteri walau hanya diberikan kesempatan 3 bulan”. Kalimat itu ”ad hominem”, sehingga layak ketika publik mempertanyakan kenapa malah menyerang atribut personal. Apa hubungannya imbauan dengan “menjabat 3 bulan?”. Etika komunikasi pejabat publik harusnya “ad rem”, tetap berpegang pada esensi. Fokusnya pada masalah bukan lainnya.
Lalu, keempat, mungkin Pak Teddy perlu memahami bedanya “menjelaskan” dengan “membela diri”. Setiap penjelasan itu tujuannya memberikan pemahaman atau pengertian, sedangkan “membela diri” itu untuk memenangkan persepsi, kesannya lebih defensif. Pejabat publik itu tidak harus sempurna dan boleh salah. Tapi harus disadari pejabat publik juga tidak identik dengan kebenaran. Di mana-mana, pemimpin itu tidak selalu benar tapi harus mampu memberi penjelasan.
Kelima, ada juga pembelaan yang menyebutkan “bila biaya perjalanan presiden melebihi budget, maka presiden menggunakan biaya pribadi”. Jelas statement ini “sesat berpikir” alias logical fallacy. Karena jelas membela diri dan upaya pengalihan isu. Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah kan sudah mengatur kunjungan kepresidenan pasti atas biaya negara dimana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar transparan dan akuntabel. Kenapa bisa ada biaya pribadi presiden? Terus cara hitungnya bagaimana? Ditambah lagi penekanan emosi bahwa “Presiden yang rela berkorban mengeluarkan dana pribadi untuk kepentingan negara”. Publik jadi bingung, kok bisa begitu negara kita?
Maka ada pelajaran literasi di balik Pak Dino diplomat mengimbau, Pak Teddy Seskab membela diri. Apabila pejabat publik kualitas komunikasinya bergeser dari esensi ke personalisasi, maka kualitas diskusi dan demokrasi jadi ikut hilang. Dan akhirnya yang dipertaruhkan adalah kepercayaan publik. Seharusnya pejabat publik memberi ruang masyarakat untuk dialog, diskusi sambil memberi masukan. Bukan malah lebih reaktif dan membela diri.
Kita sepakatlah, bahwa pejabat publik atau pemimpin sama sekali tidak diukur dari seberapa keras ia menjawab kritik. Tapi seberapa tenang dan objektif menjawab masukan dan kritik dari rakyatnya. Pemimpin yang kuat itu justru mau menerima dan cukup percaya diri untuk mendengar kritik tanpa merasa kehilangan wibawa. Bukan malah membela diri atau menyerang personal pengkritik.
Apa yang diimbau Pak Dino diplomat, sebenarnya bisa dijawab Pak Teddy dengan sederhana. “Terima kasih atas masukan dan kritiknya kepada pemerintah. Kami menghormati pandangan tersebut. Akan tetapi perlu kami jelaskan sebagai berikut ……… bla-bla-bla” Selesai dan dapat dipahami. Bukan malah jadi ramai di media sosial. Apapun bila jadi pro dan kontra, itu bukan penjelasan, bukan jawaban. Laksanakan Pak Teddy!(*)
SYARIFUDIN YUNUS
Dosen dan Pegiat YBM Lentera Pustaka








