Keluarga Milenial, Suami Istri Kerja tapi Cash Flow Berantakan Tiap Bulan

(foto: penulis saat berdiskusi dengan dua generasi milineal dan Z)

Ini cerita pekerja suami-istri yang milenial. Gaji suami Rp 8 juta. Istrinya Rp 6 juta. Totalnya Rp 14 juta sebulan. Dua orang yang kerja. Dua karier. Dua sarjana. Aware terhadap literasi keuangan. Tiap akhir bulan, mereka cek saldo rekening bersama. Tapi di bulan ini ternyata minus Rp 340.000. Bulan lalu ternyata minus Rp 820.000. Dua bulan lalu ternyata juga minus Rp 1,2 juta. Tiga bulan terakhir, justru minus. Gaji keduanya tipa bulan berarti tidak cukup. Keduanya bingung dan saling berkata, “Gaji kita segitu. Kok malah minus tiap bulan?”

Hingga suatu malam, keduanya berdiskusi. Duduk bersama dan menghitung, kenapa bisa minus? Hitung satu per satu. Di mana bocornya? Dan hasilnya, ternyata di luar yang mereka bayangkan.

Satu per satu, alokasi pengeluaran tetap mereka tulis. Cicilan rumah Rp 3.000.000. Biaya listrik, air, internet Rp 800.000. Cicilan utang Rp 1.500.000. Biaya makan harian Rp 2.500.000. Bensin Rp 600.000. Kebutuhan anak Rp 1.200.000. BPJS dan asuransi Rp 400.000. Kiriman ke orangtua Rp 1.000.000. Total pengeluaran tercatat Rp 11.000.000 per bulan. Berarti ada sisa Rp 3.000.000 per bulan. Keduanya sepakat, “Masih ada sisa Rp. 3 juta. Harusnya cukup dong”.

Kok tidak cukup? Ternyata, bulan ini ada kondangan teman kantor plus jenguk bayi Rp. 600.000. Berobat anak ke dokter plus obat Rp 450.000. Keperluan sekolah anak Rp 380.000. Tagihan kartu kredit bulan lalu Rp 870.000. Service motor Rp 350.000 dan lain-lain Rp 700.000. Total biaya tidak terduga mencapai Rp 3.350.000. Sisa gaji Rp 3.000.000. Maka wajar, akhirnya minus Rp 350.000 di bulan ini. Dan “biaya lain-lain” itu selalu ada. Setiap bulan. Berbeda bentuknya tapi selalu ada. Apapun alasannya.

Mungkin cerita dan alokasi keuangan bulanan suami-istri yang bekerja kira-kira begitu. Tergantung pada besaran gaji, standar hidup, dan gaya hidupnya. Ini sekadar potret satu keluarga tapi bisa terjadi di banyak pekerja. Karenanya, survei DBS & Privy Indonesia (2023) menyebut 6 dari 10 milenial Indonesia gaji habis dalam 2 minggu pertama. OJK, Survei Nasional Literasi Keuangan (2024) menyebut 40% masyarakat tidak punya tabungan darurat sama sekali. BPS, Susenas (2024) bilang pengeluaran rumah tangga urban naik rata-rata 8,4% per tahun, sedangkan kenaikan UMP rata-rata berkisar di 6-7% per tahun. Artinya, biaya hidup tumbuh “lebih cepat” daripada pendapatan. Kita tidak boros tapi kita kalah dari angka, kalah secara hitung-hitungan.

Tingkat inflasi tahunan Indonesia sepanjang tahun 2025 sebesar 2,92%. Tapi faktanya, inflasi yang dirasakan keluarga muda atau milenial bisa beda. Biaya pendidikan justru mengalami kenaikan 10-15%/tahun (BPS/Kemendikbud). Biaya kesehatan juga naik 8-12%/tahun (BPS/Kemenkes). Harga BBM jenis Pertalite pun mengalami kenaikan sebesar 31% sejak 2020 (ESDM). Angka-angka itu tidak masuk dalam headline inflasi 2,92%. Tapi aktualnya, masuk ke dalam dompet kita setiap bulan. Diam-diam dan konsisten, sekalipun tanpa pengumuman seperti program MBG atau koperasi merah putih.

Fakta, gaji tahun 2020 Rp 5 juta terasa cukup. Tapi gaji di tahun 2024 Rp 8 juta tapi minus. Bukan karena gaya hidup naik. Tapi memang biaya hidup yang naik lebih besar daripada kenaikan gaji plus inflasi. Ibaratnya, kita berjalan tapi biaya hidup berlari. Apalagi banyak pekerja tidak punya dana darurat, apalagi dana pensiun. Karenanya, sebagai solusi ke depan, maka diperlukan beberapa langkah berikut ini. Pertama, memisahkan masing-masing alokasi tiap bulan, mana yang tetap/darurat/bebas. Begitu gaji masuk langsung transfer otomatis ke masing-masing alokasi. Kedua menganggarkan “biaya tak terduga” sebagai pos tetap minimal Rp 500.000 per bulan, dan terakhir adalah dengan mulai mengecek langganan digital yang tidak pelu (TV berbayar, asuransi yang autodebet, atau aplikasi berbayar. Dan hitung lagi, apa gaji masih tetap minus?

Begitulah cerita di keluarga muda yang suami-istri bekerja, keluarga milenial. Selain dana darurat yang tidak siap, keluarga milenial pun tidak punya dana pensiun untuk hari tua. Hasil penelitian menyebut 61% milenial tidak tahu tentang dana pensiun. Akibatnya, 86% milenial yang bekerja belum memiliki dana pensiun. Artinya, hanya 1 dari 10 milenial yang punya dana pensiun. Suka tidak suka, milenial pun harus bersiap dengan kondisi keuangan saat ini maupun di masa depan. Anda bisa membaca hasil riset yang berjudul “Persepsi Dan Kepemilikan Generasi Milenial Terhadap Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Untuk Kesejahteraan Hari Tua” di Jurnal Jkpim edisi April 2025.

Dan ketahuilah bahwa tidak ada jalan pintas untuk bisa tenang secara finansial setiap bulan. Semuanya harus diperhitungkan, dialokasikan, dan lebih disiplin dalam penggunaan uangnya. Jangan sampai “lebih besar pasak daripada tiang”, sebagai penyakit keuangan yang sulit diobati. Maka, mulailah dari hal sederhana. Catat pengeluaran yang tidak perlu, rapikan alokasi gaji dengan bijak. Pahami ke mana uang pergi? Dan mulai menabung untuk hari tua, di dana pensiun atau DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan).

Mulai pelan-pelan saja, jangan sampai suami istri kerja dan gaji terima. Tapi setiap bulan masih “minus”. Berbenahlah untuk kondisi keuangan kita sendiri. Jangan sampai cash flow berantakan tiap bulan. Semoga. (*)

 

SYARIFUDIN YUNUS

Edukator DPLK Sinarmas Asset Management