Wednesday, April 17, 2024
HomeSains TeknologiPakar Nanoteknologi Ini Sebut Sampah Plastik Efektif Jadi Campuran Aspal

Pakar Nanoteknologi Ini Sebut Sampah Plastik Efektif Jadi Campuran Aspal

Ilustrasi sampah plastik di Indonesia. (foto: Aliansi Zero Waste Indonesia)

Surabaya, – Limbah plastik merupakan salah satu isu lingkungan terbesar di dunia. Menurut data Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia dan Badan Pusat Statistik, limbah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton setiap tahunnya dengan sekitar 3,2 juta ton dibuang ke laut.

Di Indonesia, terdapat perusahaan yakni PT Chandra Asri Pasificc Tbk, mengambil langkah nyata untuk mengatasinya melalui program ekonomi sirkular Aspal Plastik. Program tersebut memanfaatkan limbah plastik sebagai campuran pembuatan aspal. Hingga saat ini, Chandra Asri telah membangun lebih dari 100 kilometer jalanan dengan aspal plastik, memanfaatkan lebih dari 1.000 ton limbah plastik.

Menurut Pakar Nanoteknologi Tahta Amrillah, Ph.D., penggunaan limbah plastik dalam campuran aspal tergolong efektif. Limbah plastik dengan kuantitas yang sangat banyak akan lebih bermanfaat daripada hanya terbuang sia-sia.

“Dalam nanoteknologi, kini beberapa plastik telah mengalami modifikasi dengan menggunakan bahan yang mudah terdegradasi, seperti selulosa. Prinsip rekayasa material memungkinkan ekstraksi selulosa ini dari berbagai sumber alami seperti singkong, bahkan limbah bonggol jagung,” ujarnya.

Aspal dengan campuran limbah plastik, la njut Tahta, memiliki karakteristik dan ketahanan yang berbeda dengan aspal konvensional. Meskipun kandungan aspal dan plastik hampir serupa, lebih dari 80% karbon, namun perbedaan dalam ikatan kimia keduanya menyebabkan perbedaan dalam sifatnya.

“Perlu adanya rekayasa material yang cukup baik, sehingga plastik dapat berguna dalam pembuatan aspal. Bahkan, plastik dapat memiliki sifat yang lebih baik seperti tahan panas dengan titik leleh tinggi, dapat menyerap air, dan sifat daktilitas yang tinggi,” imbuhnya.

Penggunaan limbah plastik dalam pembuatan aspal menawarkan potensi pengurangan biaya bahan dasar yang signifikan. Tetapi, menurut Tahta, proses fabrikasi limbah plastik dapat menimbulkan biaya tambahan yang tidak kecil. “Maka, perlu adanya pendekatan fabrikasi yang sederhana dan ekonomis,” tegasnya.

Aspal yang menggunakan limbah plastik, lanjut Tahta, memiliki keunggulan dalam meningkatkan elastisitas dan daktilitas. Hal tersebut disebabkan oleh polimer karbon dalam limbah plastik yang memiliki ikatan polimer yang lebih panjang daripada aspal biasa.

Tahta menyoroti risiko yang mungkin timbul dalam proses fabrikasi yang kompleks. Untuk mengatasi hal tersebut, butuh perlakuan ekstra supaya memastikan bahwa plastik menjadi kompatibel sebagai campuran aspal.

“Jika campuran aspal tidak tepat, misalkan komposisi yang salah atau fabrikasi yang salah, maka kualitas aspalnya juga akan jelek. Implikasinya, memang butuh treatment khusus. Pada akhirnya akan meningkatkan biaya fabrikasi,” tukasnya.

Menurut Tahta, dari segi infrastruktur dan teknologi, Indonesia telah siap memanfaatkan limbah plastik dalam pembuatan aspal karena teknologi yang dibutuhkan tidak terlalu advance.

“Penggunaan limbah plastik sebagai campuran aspal dapat mengurangi limbah plastik yang telah berubah menjadi mikroplastik yang mengancam ekosistem perairan, seperti laut,” tandas pria yang juga merupakan Dosen Rekayasa Nanoteknologi Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga itu.

(pkip/mar/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular