
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur menilai modernisasi profesi dan pengembangan pekerjaan digital menjadi kunci menyiapkan sumber daya manusia Indonesia menghadapi era bonus demografi menuju 2045.
Koordinator Biro Pengembangan Jaringan, Media, dan Teknologi Informasi Pengurus Wilayah ISNU Jawa Timur, Tomy Gutomo, mengatakan transformasi dunia kerja harus direspons dengan penguatan keterampilan baru yang sesuai dengan perkembangan teknologi.
“Kita bisa belajar dari Tiongkok yang melakukan modernisasi profesi melalui berbagai pelatihan yang sesuai dengan era digitalisasi,” kata Tomy dalam forum Ngaji Kentong Ramadhan di Kantor PWNU Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (14/3/2026) petang.
Dalam diskusi bertema “Tantangan Ketenagakerjaan Modern” itu, Tomy menjelaskan langkah cepat Tiongkok dalam modernisasi industri dan pelatihan tenaga kerja mampu menekan angka kemiskinan secara signifikan.
Ia menyebutkan, tingkat kemiskinan di negara tersebut turun drastis dari sekitar 20% pada tahun 2000 menjadi hanya sekitar 0,6% pada 2026.
Menurut dia, pendekatan Tiongkok berbeda dengan Jerman dan Jepang yang cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan modernisasi industri digital. Kedua negara tersebut sempat menunda otomatisasi secara luas demi melindungi pekerja yang berpotensi kehilangan pekerjaan.
“Tiongkok justru langsung merespons dengan pelatihan tenaga kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan industri modern,” ujarnya.
Pendekatan itu, kata Tomy, terlihat dari langkah Tiongkok yang agresif mengembangkan industri mobil listrik dengan menyiapkan tenaga kerja melalui pelatihan profesi yang relevan.
Sebaliknya, sejumlah negara maju masih mempertahankan industri otomotif konvensional lebih lama sebagai strategi transisi.
Karena itu, menurut Tomy, tantangan ketenagakerjaan ke depan bukan hanya soal upah, tetapi juga peningkatan keterampilan pekerja.
“Isu buruh ke depan bukan sekadar soal upah, tetapi pelatihan dan peningkatan kompetensi agar tenaga kerja mampu mengikuti perkembangan industri,” katanya.
Selain modernisasi profesi formal, Tomy juga menilai sektor pekerjaan digital non formal semakin terbuka luas. Profesi seperti kreator konten di platform digital dinilai menjadi peluang baru bagi generasi muda.
“Profesi digital seperti kreator di YouTube atau TikTok juga menjadi alternatif pekerjaan yang sesuai dengan perkembangan zaman dan potensinya cukup besar,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Serikat Buruh Muslim Indonesia (Sarbumusi) Jawa Timur, Imam Muchlas, mengatakan penyelesaian persoalan perburuhan seharusnya tidak selalu ditempuh melalui demonstrasi.

Sarbumusi, kata dia, mendorong penyelesaian berbasis nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya prinsip tawazzun atau keseimbangan.
“Buruh dan pengusaha memiliki kepentingan berbeda. Yang satu memikirkan keuntungan, yang lain memikirkan upah. Karena itu, yang diperlukan adalah mencari titik tengah melalui musyawarah agar kedua pihak tetap memperoleh manfaat,” ujar Imam.
Dalam rangkaian Ngaji Kentong Ramadhan tersebut, sejumlah narasumber juga menyoroti tantangan era digital bagi generasi muda.
Dosen Teknologi Pendidikan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Abdullah Hamid, menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi secara produktif.
“Solusi di era telepon pintar bukan menjauh dari teknologi, tetapi bagaimana mengaturnya agar kita tidak justru dikendalikan oleh teknologi,” katanya.
Ia mencontohkan pemanfaatan gawai untuk kegiatan positif seperti membaca Al Quran melalui aplikasi digital.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Timur, Aprilia Nur Azizah.
Ia mengajak generasi muda menyikapi era digital melalui tiga langkah, yakni re-branding, relevance, dan re-connect.
“Re-connect artinya menjaga hubungan. Jika ada persoalan atau informasi yang belum jelas, sebaiknya dilakukan tabayun atau konfirmasi langsung dan memperkuat silaturahmi,” ujarnya.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi



