Sunday, March 15, 2026
spot_img
HomeEkonomikaGus Lilur dan Mimpi Industri Kretek Raksasa Berbasis Rakyat

Gus Lilur dan Mimpi Industri Kretek Raksasa Berbasis Rakyat

Gus Lilur ketika menikmati malam di Cloud9 Kualalumpur, Malaysia beberapa waktu lalu. (foto: dokumen pribadi)

SURABAYA, KOMPAS — Di tengah perdebatan panjang tentang masa depan industri tembakau, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy yang akrab disapa Gus Lilur, memilih menempuh jalan berbeda. Pengusaha asal Madura ini merancang sebuah ekosistem industri kretek yang tidak hanya bertumpu pada perusahaan besar, tetapi juga melibatkan ribuan usaha kecil dan petani tembakau di berbagai daerah.

Bagi Gus Lilur, industri rokok tidak sekadar bisnis yang berorientasi pada keuntungan. Ia melihat sektor ini sebagai peluang untuk menggerakkan ekonomi rakyat, terutama bagi petani tembakau dan pelaku usaha kecil yang selama ini berada di mata rantai paling bawah industri tersebut.

“Saya ingin usaha ini tidak hanya menjadi perusahaan besar, tetapi juga memberi manfaat bagi banyak orang,” ujarnya dalam keterangan tertulis langsung dari Manila, Filipina, Minggu (15/3/2026) siang.

Langkah awal yang ia sebut sebagai tahap fondasi kini telah ia rampungkan. Dalam beberapa tahun terakhir, Gus Lilur membangun struktur bisnis yang terdiri atas tiga pilar utama, yakni perusahaan rokok, perusahaan tembakau, dan perusahaan distribusi.

Di sektor rokok, ia mendirikan enam induk perusahaan, antara lain Rokok Bintang Sembilan (RBS), Bandar Rokok Nusantara (BARON), Joko Tole Nusantara (JOLENTARA), Madura Tembakau Nusantara (MADANTARA), Bandar Rokok Nusantara Global (BARONG), serta Madura Indonesia Tembakau (MASAKU). Sebagian besar perusahaan tersebut telah menyelesaikan proses legalitas dan mulai menyiapkan fasilitas produksi.

Selain itu, ia juga membangun dua perusahaan di sektor tembakau, yakni Nusantara Global Tobacco dan Bandar Tembakau Indonesia. Di bidang distribusi, ia menyiapkan perusahaan logistik Angkut Barang Seluruh Nusantara (Abang Setara) untuk memperkuat jaringan pemasaran.

Setelah fondasi bisnis terbentuk, Gus Lilur kini menyiapkan langkah ekspansi. Ia merancang pembangunan gudang tembakau di 17 kabupaten yang tersebar di tiga provinsi, yakni Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Tengah.

Di Jawa Timur, lokasi yang disiapkan antara lain Sumenep, Pamekasan, Situbondo, Probolinggo, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi. Sementara di Nusa Tenggara Barat mencakup Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Kota Mataram. Adapun di Jawa Tengah, pembangunan direncanakan di Temanggung, Wonosobo, Demak, Kudus, Pati, Magelang, dan Jepara.

Gus Lilur dengan BARONG Grup, mimpi besar untuk membesarkan industri rokok kretek dan petani tembakau di level nasional dan global. (foto: dokumen pribadi)

Gudang-gudang tembakau tersebut akan menjadi bagian dari rantai pasok bagi pembangunan 19 pabrik rokok yang direncanakan berdiri di berbagai daerah, termasuk di Sidoarjo dan Malang.

Namun bagi Gus Lilur, mimpi besar industri kretek nasional tidak hanya bertumpu pada pabrik-pabrik besar. Ia juga merancang pengembangan perusahaan rokok skala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dalam konsep bisnis yang disusunnya, sekitar 2.000 perusahaan rokok UMKM akan dibina di sekitar wilayah sentra tembakau. Setiap unit usaha diproyeksikan mempekerjakan sekitar 20 pekerja.

Jika rencana tersebut berjalan, industri ini berpotensi menyerap hingga sekitar 40.000 tenaga kerja di berbagai daerah.

Perusahaan-perusahaan UMKM tersebut nantinya akan memproduksi enam jenis rokok kretek berbasis tembakau lokal dari berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya Virginia blend dari Lombok, Oriental blend dari Madura, Burley blend dari Jember dan Banyuwangi, Besuki blend dari Situbondo, Lumajang blend, serta Srintil blend dari Temanggung.

Menurut Gus Lilur, pendekatan tersebut bertujuan memperkuat keterlibatan petani dan usaha kecil dalam rantai produksi industri kretek nasional.

Ia berharap model industri yang memadukan perusahaan besar dan usaha rakyat itu dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat industri kretek dunia.

“Sudah saatnya petani tembakau Indonesia sejahtera dan industri kretek nasional berjaya,” kata Gus Lilur.

Dengan menghubungkan petani, UMKM, hingga industri besar dalam satu ekosistem, Gus Lilur percaya industri kretek Indonesia dapat tumbuh lebih kuat sekaligus memberi manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular