
SIDOARJO, CAKRAWARTA.com – Arus informasi yang bergerak begitu cepat di ruang digital menuntut warga Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu menghadirkan konten yang kredibel, moderat, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Di tengah maraknya disinformasi dan banjir informasi di media sosial, penguatan literasi digital dinilai menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.
Founder Pesantren Digipreneur Al Yasmin Surabaya, Helmy M Noor, menilai tantangan utama yang dihadapi warga NU saat ini bukan lagi soal akses terhadap teknologi, melainkan kemampuan mengisi ruang digital dengan narasi yang berbasis ilmu pengetahuan, nilai-nilai keislaman moderat, dan semangat kebangsaan.
“Hari ini perang informasi berlangsung sangat cepat. Jika warga NU tidak aktif mengisi ruang digital dengan konten yang berbasis ilmu, nilai keislaman yang moderat, dan semangat kebangsaan, maka ruang tersebut akan diisi oleh informasi yang belum tentu benar. Karena itu, literasi digital harus menjadi gerakan bersama,” ujar Helmy yang juga Ketua LTN PWNU Jatim itu saat menjadi pemateri dalam “Seminar Tantangan Literasi NU di Ruang Digital” yang diselenggarakan PAC ISNU Taman bekerja sama dengan LPPM Universitas Ma’arif Hasyim Latif (UMAHA) Sidoarjo, Kamis (11/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Gedung A UMAHA itu menghadirkan Helmy M Noor sebagai pembicara utama serta Wakil Rektor II UMAHA, Dr Dheasy Herawati, S.Si., M.Si., sebagai keynote speaker. Seminar diikuti dosen, mahasiswa, pengurus ISNU, dan berbagai elemen masyarakat yang memiliki perhatian terhadap penguatan literasi digital dan pengembangan tradisi keilmuan di lingkungan NU.
Ketua PAC ISNU Taman, M Syarif Hidayatullah, M.Pd.I., mengatakan perkembangan teknologi informasi harus diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang memadai agar masyarakat mampu memilah informasi secara kritis sekaligus berkontribusi positif di ruang publik digital.
Menurut dia, ruang digital kini telah menjadi arena baru dalam membangun peradaban ilmu pengetahuan. Karena itu, warga NU, terutama kalangan muda dan akademisi, perlu mengambil peran lebih besar sebagai produsen pengetahuan, bukan sekadar konsumen informasi.
“Ruang digital saat ini menjadi arena baru dalam membangun peradaban ilmu pengetahuan. Warga NU, khususnya generasi muda dan kalangan akademisi, harus hadir tidak hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai produsen gagasan, pengetahuan, dan narasi yang mencerahkan masyarakat,” kata Syarif.
Ia menambahkan, penguatan literasi digital menjadi bagian penting dari upaya menjaga tradisi intelektual NU agar tetap relevan menjawab tantangan zaman sekaligus mampu menjangkau masyarakat yang semakin akrab dengan teknologi digital.
Pada kesempatan yang sama, panitia juga meluncurkan Jurnal NUSCIENCE: Journal of Religion, Education and Social Humanities. Kehadiran jurnal ilmiah tersebut diharapkan menjadi wadah publikasi bagi hasil penelitian, gagasan, dan pemikiran akademik di bidang keagamaan, pendidikan, serta humaniora.
Peluncuran jurnal itu sekaligus menegaskan komitmen kalangan akademisi dan intelektual NU untuk memperkuat budaya literasi, riset, dan publikasi ilmiah sebagai fondasi pengembangan pengetahuan di era digital.(*)
Kontributor: Fitrah
Editor: Abdel Rafi








