
JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Sebanyak 311 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dari berbagai jenjang pendidikan di Kabupaten Jombang mengikuti workshop pemanfaatan artificial intelligence atau akal imitasi (AI), Kamis (23/7/2026). Pelatihan yang digelar Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Kabupaten Jombang di Aula SMKN 3 Jombang itu diarahkan untuk meningkatkan kompetensi guru sekaligus mendorong lahirnya buku pegangan siswa yang lebih kreatif dan relevan dengan perkembangan teknologi.
Peserta berasal dari jenjang taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, sekolah menengah kejuruan, hingga sekolah luar biasa. Selain memperoleh materi konseptual, para guru juga mengikuti praktik penyusunan buku kerja siswa dengan memanfaatkan teknologi AI.
Ketua DPD AGPAII Kabupaten Jombang Mukhammad Zainur Rofiq mengatakan, pelatihan tersebut merupakan bagian dari program tahunan organisasi untuk memperkuat kompetensi guru PAI dalam menghadapi perubahan dunia pendidikan.
“Setiap tahun kami menyelenggarakan workshop atau bimbingan teknis sebagai upaya meningkatkan kompetensi guru PAI agar mampu mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.
Menurut Rofiq, peserta workshop berjumlah 311 orang yang terdiri atas dua guru SLB, 23 guru TK, 217 guru SD, 15 guru SMP, 34 guru SMA, dan 20 guru SMK.
Ketua DPW AGPAII Jawa Timur Mokh Fakhrudin Siswopranoto mengapresiasi konsistensi AGPAII dalam meningkatkan kapasitas guru PAI. Menurut dia, organisasi tersebut tidak hanya memberikan pendampingan profesi, tetapi juga memperkuat advokasi bagi para guru.
Ia berharap DPD AGPAII Kabupaten Jombang terus menghadirkan program peningkatan kompetensi. “Di AGPAII tidak ada lagi sekat jenjang pendidikan. Seluruh guru PAI menjadi satu dalam pengembangan kualitas profesi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang Muhajir meminta peserta memanfaatkan pelatihan secara optimal agar mampu menghadirkan proses pembelajaran yang lebih bermakna.
Menurut dia, AI dapat menjadi solusi inovatif dalam pembelajaran karena mampu membantu personalisasi materi sehingga penyampaian pelajaran tidak lagi sebatas narasi, melainkan lebih menarik dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Dalam sesi materi, trainer AI Go To School Halimatus Sa’adah menegaskan bahwa kemajuan AI tidak akan menggantikan peran guru. Teknologi tersebut, kata dia, hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk meningkatkan efektivitas kerja pendidik.
“AI secanggih apa pun tidak dapat menggantikan peran guru. Teknologi ini hadir untuk membantu guru bekerja lebih efektif, bukan mengambil alih tugas mendidik,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Trainer AI Ready ASEAN Hanifah Atmi Nurmala. Ia menekankan bahwa guru tetap menjadi pihak yang menentukan kualitas materi pembelajaran, termasuk saat menyusun buku pegangan siswa dengan bantuan AI.
Menurut Hanifah, materi yang dihasilkan AI harus tetap melalui proses verifikasi dan penyuntingan oleh guru karena teknologi belum mampu memahami konteks pembelajaran secara utuh. Ia juga mengingatkan pentingnya mengecek kembali setiap informasi yang dihasilkan AI melalui sumber-sumber tepercaya agar akurasi materi tetap terjaga.
Ketua panitia Mukhammad Sokhib berharap pelatihan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi seluruh guru PAI di Jombang, sehingga pemanfaatan AI mampu mendukung lahirnya pembelajaran agama yang lebih kreatif, adaptif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai pendidikan.(*)
Kontributor: Mukani
Editor: Abdel Rafi








