
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Media sosial membuat siapa pun dapat dikenal dalam waktu singkat. Namun, popularitas tidak otomatis menjadikan seseorang layak diteladani. Sosok yang viral pun belum tentu mampu mempertahankan perilaku baik ketika sorotan publik menghilang.
Pesan itu disampaikan pengasuh Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Ning Imaz Fatimatuz Zahra, saat mengisi Majelis Subuh GenZI (MSG) episode ke-28 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Minggu (6/9/2026) pagi.
Dalam kegiatan yang dihadiri ratusan generasi Z itu, Ning Imaz tampil bersama suaminya, Gus Rifqil Muslim Suyuthi, pengasuh Pesantren Mambaul Hikmah, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah. Keduanya membahas keteladanan dalam MSG yang mengangkat tema “Satu Teladan Sejuta Kebaikan”.
Ning Imaz mengingatkan peserta agar tidak terburu-buru menjadikan seseorang sebagai panutan hanya karena sosok tersebut populer di media sosial.
“Kalau karena viral itu kita masih bisa kecewa kalau tiba-tiba sosok yang viral itu menimbulkan kontroversi,” kata Ning Imaz.
Menurut dia, keteladanan tidak lahir dari seberapa sering seseorang muncul di media sosial, banyak memiliki pengikut, atau menghasilkan kutipan-kutipan yang kemudian dibagikan secara luas. Keteladanan tumbuh dari kebiasaan baik dan pengetahuan yang dijalankan secara konsisten.
Seseorang, lanjut dia, bisa saja terlihat baik ketika berada di depan kamera. Namun, perilaku tersebut belum tentu mencerminkan watak sebenarnya ketika sorotan berhenti.
“Kalau karena quote itu banyak yang nggak kenal banget. Itu pun bisa saja menjadi baik karena ada sorotan kamera, tapi kalau sendirian bisa kembali ke watak aslinya. Itu bukan teladan,” ujarnya.
Bagi Ning Imaz, contoh keteladanan yang paling sempurna adalah Rasulullah SAW. Keteladanan Rasulullah tidak berhenti pada perkataan, tetapi tampak dalam kepedulian terhadap umat.
Rasulullah, kata dia, senantiasa memikirkan keselamatan umat dan menunjukkan kasih sayang kepada sesama. Nilai itulah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui kebiasaan berbagi dan membantu orang lain.
“Kalau kita sulit mencontoh akhlak Rasulullah, paling tidak kasih sayangnya kepada umatnya dapat dicontoh dengan berbagi yang kita lakukan kepada orang lain,” katanya.
Di Tengah Banjir Informasi
Ning Imaz juga mengingatkan generasi muda mengenai tantangan lain di era media sosial: banjir informasi.
Banyaknya sosok yang menjadi viral membuat masyarakat tidak selalu mudah membedakan mana pengetahuan yang benar-benar memberikan manfaat dan mana yang sekadar menarik perhatian.
Karena itu, menurut Ning Imaz, ilmu semestinya tidak hanya berhenti sebagai informasi. Ilmu perlu menjadi pegangan batin yang mendorong seseorang untuk terus berada dalam kebaikan.
Ia kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan Rasulullah SAW yang memiliki kedudukan berbeda. Rasulullah merupakan sosok ma’shum, yang senantiasa dijaga Allah dalam kebaikan.
“Kalau Nabi itu ma’shum, sosok yang selalu dijaga Allah untuk selalu dalam kebaikan,” ujarnya.
Pandangan tersebut dilengkapi Gus Rifqil. Menurut dia, salah satu ukuran penting seseorang dapat menjadi teladan adalah konsistensi.
Orang yang baik hanya sekali belum tentu menjadi teladan. Sebaliknya, orang yang terus-menerus menjaga perilaku baik, bahkan ketika tidak mendapatkan perhatian, memiliki peluang lebih besar untuk menjadi panutan.
“Kalau konsisten berarti dia baik beneran, sehingga bisa menjadi teladan,” kata Gus Rifqil.
Ia menggunakan istilah Jawa “jarkoni” untuk menggambarkan perilaku yang tidak sejalan antara perkataan dan perbuatan. Jarkoni merupakan kependekan dari ujar ning ngelakoni alias pandai mengatakan, tetapi tidak menjalankan.
Contohnya sederhana. Seorang ayah melarang anaknya bermain telepon seluler, tetapi pada saat yang sama dirinya justru terus menggunakan telepon seluler di hadapan anak.
“Misalnya ada seorang Bapak yang melarang anaknya main HP, tapi dia sendiri ngomong begitu dengan bawa HP dan anaknya sering melihatnya main HP. Itulah jarkoni, cuma ujar, tapi nggak ngelakoni,” katanya.
Teladan Dimulai dari Diri Sendiri
Gus Rifqil mengatakan, seseorang tidak perlu terlebih dahulu mendapatkan pengakuan sebagai teladan untuk mulai berbuat baik. Keteladanan justru bermula dari kemampuan seseorang mendisiplinkan dirinya sendiri.
Ketika kebaikan dilakukan terus-menerus, orang lain akan melihatnya. Dari situlah perilaku baik dapat ditiru dan berkembang menjadi kebiasaan bersama.
Ia mencontohkan Rasulullah SAW yang telah dikenal sebagai Al-Amin, sosok yang dapat dipercaya, bahkan sebelum menerima wahyu. Predikat itu bukan hasil pencitraan, melainkan buah dari perilaku yang konsisten.
“Jadi, teladan itu memang bukan karena popularitas atau kalau di era medsos itu viral, tapi teladan itu sosok yang konsisten atau istiqamah dalam melakukan kebaikan bagi dirinya sendiri,” ujar Gus Rifqil.
Kebaikan yang dilakukan secara konsisten, lanjut dia, dapat menjadi teladan bagi orang lain. Dari satu orang, kebiasaan itu dapat menular kepada lingkungan dan melahirkan kebaikan yang lebih luas.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








