Allah Tidak Menilai Rupa dan Harta, tetapi Hati dan Amal

BANGKALAN, CAKRAWARTA.com – Ukuran kemuliaan manusia di hadapan Allah SWT bukanlah rupa, kekayaan, maupun status sosial. Yang menjadi perhatian Allah adalah kebersihan hati dan amal perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Saidiyah Aermata, Buduran, Arosbaya, Bangkalan, KH Syarifuddin Damanhuri, saat mengingatkan pentingnya menjaga hati dan memperbanyak amal kebajikan dengan menukil hadist dalam Kitab Al-Amtsal wal Hikam karya Imam Al-Mawardi.

Menurut KH Syarifuddin, manusia kerap menilai dirinya dan orang lain berdasarkan sesuatu yang tampak secara lahiriah. Padahal, ukuran tersebut tidak menjadi penentu utama kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT.

Ia mengutip sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Makhlul dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal perbuatan kalian.” ujarnya, Minggu (6/9/2026).

Hadis tersebut, kata KH Syarifuddin, mengandung pelajaran mendalam bahwa penampilan fisik dan kepemilikan harta bukanlah ukuran hakiki seseorang di hadapan Allah.

“Allah tidak melihat rupa dan harta kita. Allah melihat hati dan amal perbuatan kita,” ujarnya.

Karena itu, ia mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada kebanggaan terhadap penampilan, kekayaan, jabatan, ataupun kedudukan sosial.

Menurut dia, semua yang bersifat lahiriah pada akhirnya akan mengalami perubahan dan kehilangan nilainya. Sebaliknya, hati yang bersih dan amal saleh menjadi bekal yang jauh lebih penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Menjaga Hati

KH Syarifuddin menekankan pentingnya menjaga hati karena hati menjadi tempat tumbuhnya niat seseorang. Amal yang tampak baik sekalipun perlu disertai niat yang benar agar memiliki nilai di sisi Allah SWT.

“Yang perlu kita perhatikan adalah hati kita. Jangan sampai amal yang kita lakukan hanya mengejar penilaian manusia, sementara melupakan penilaian Allah,” katanya.

Ia mengajak masyarakat untuk terus melakukan introspeksi. Setiap orang perlu bertanya kepada dirinya sendiri apakah kebaikan yang dilakukan benar-benar lahir dari keikhlasan atau justru karena ingin mendapatkan pujian dan pengakuan.

Dalam konteks kehidupan sosial, pesan tersebut juga menjadi pengingat agar seseorang tidak mudah merendahkan orang lain hanya karena perbedaan kondisi ekonomi, penampilan, pekerjaan, ataupun status sosial.

Sebab, menurut KH Syarifuddin, manusia tidak mengetahui secara pasti kedudukan seseorang di hadapan Allah.

“Bisa jadi orang yang kita anggap sederhana justru lebih mulia di hadapan Allah karena hatinya lebih bersih dan amalnya lebih baik,” tuturnya.

Amal sebagai Cermin Keimanan

Lebih jauh, KH Syarifuddin mengingatkan bahwa keimanan tidak cukup hanya disimpan dalam hati atau diwujudkan melalui simbol-simbol keagamaan. Keimanan harus tercermin dalam perilaku.

Kejujuran, kepedulian kepada sesama, membantu orang yang membutuhkan, menjaga lisan, menghormati orang lain, serta menjauhi perbuatan zalim merupakan bagian dari amal yang menunjukkan kualitas hati seseorang.

Dengan demikian, seseorang tidak cukup hanya memperbaiki penampilan lahiriah. Perbaikan yang lebih mendasar adalah memperbaiki hati sekaligus memperbanyak amal kebaikan.

Pesan tersebut juga relevan di tengah kehidupan masyarakat yang semakin mudah menilai seseorang berdasarkan apa yang terlihat. Media sosial, misalnya, membuat ukuran keberhasilan sering kali dikaitkan dengan penampilan, kepemilikan, popularitas, dan jumlah pengikut.

Padahal, kata KH Syarifuddin, apa yang terlihat oleh manusia belum tentu mencerminkan keadaan seseorang yang sesungguhnya di hadapan Allah SWT.

Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk lebih berhati-hati dalam menilai diri sendiri maupun orang lain.

“Jangan sibuk memperindah apa yang terlihat oleh manusia, tetapi lupa memperbaiki apa yang dilihat oleh Allah,” pesannya.

Karenanya, kehidupan seorang Muslim bukanlah perlombaan untuk mendapatkan pengakuan manusia. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap langkah kehidupan diisi dengan niat yang baik, hati yang bersih, dan amal yang bermanfaat.

Pesan tersebut sejalan dengan prinsip bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh apa yang dimiliki atau bagaimana rupa seseorang, melainkan oleh kualitas hati dan amal perbuatannya di hadapan Allah SWT.(*)

Kontributor: Abdel Rafi 

Editor: Umar Faruq