
JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Warisan keilmuan ulama Nusantara dinilai tidak cukup hanya disimpan sebagai peninggalan sejarah. Manuskrip dan karya-karya ulama masa lalu perlu terus dikaji, diteliti, ditahqiq, didigitalisasi, dan disebarluaskan agar tetap relevan bagi generasi masa kini.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Turots Internasional yang digelar Nahdlatut Turots (NT) di Aula Lantai II MAN 3 Jombang, Minggu (30/8/2026). Seminar yang diikuti sekitar 200 pegiat turots dari berbagai daerah di Indonesia itu menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mengiringi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pesantren Tambakberas, Jombang.
Seminar menghadirkan sejumlah akademisi dan ulama sebagai narasumber. Pada panel pertama tampil Syaikh Prof. Mu’taz As-Syubaini dari Damaskus, Syaikh Muhammad Syadi Arbasy dari Suriah, dan Prof. Oman Fathurrahman dari UIN Jakarta. Sementara panel kedua menghadirkan Prof. Islah Gusmian, Direktur Pascasarjana UIN Surakarta, dan Prof. Faisal Fatawi dari UIN Malang.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengapresiasi penyelenggaraan seminar tersebut. Melalui rekaman video yang diputar dalam kegiatan, ia mengatakan turots merupakan sumber pengetahuan, nilai, dan kebijaksanaan yang penting bagi kehidupan masyarakat.
“Turots sebagai sumber pengetahuan, nilai, dan kebijaksanaan dalam kehidupan kita harus terus dikaji dan diteliti,” ujarnya.
Menurut Brian, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendekatkan khazanah keilmuan tersebut kepada generasi muda. Karena itu, digitalisasi turots dinilai penting agar karya-karya ulama Nusantara dapat diakses lebih luas.
“Turots memberikan peluang pengetahuan baru. Maka harus didigitalisasi secara modern agar generasi muda makin dekat dengan khazanah keilmuan Nusantara,” katanya.
Ia berharap pengkajian terhadap warisan intelektual Nusantara dapat membantu membangun generasi muda yang memiliki karakter dan kepercayaan diri untuk berdiri sejajar dengan bangsa lain.
Syaikh Muhammad Syadi Arbasy menilai karya-karya ulama merupakan bagian penting dari kekayaan intelektual umat Islam. Menurut dia, menjaga keberadaan karya tersebut bukan sekadar pekerjaan dokumentasi, tetapi bagian dari upaya meneruskan tradisi keilmuan kepada generasi berikutnya.
“Melestarikan karya ulama merupakan sebuah jihad keilmuan bagi para penerus,” ujarnya.
Ia mendorong para pegiat turots untuk tidak berhenti pada pelestarian naskah. Karya-karya ulama juga perlu ditahqiq sehingga kandungan keilmuannya dapat dipastikan dan dipertanggungjawabkan sebelum disebarluaskan kepada masyarakat.
“Kewajiban umat Islam sekarang adalah men-tahqiq karya para ulama tersebut, kemudian menyebarkan ilmu yang ada di dalam turots,” katanya.
Syaikh Prof. Mu’taz As-Syubaini, peneliti yang fokus pada manuskrip dari periode sebelum Wali Songo, juga mengapresiasi perhatian terhadap khazanah intelektual ulama Nusantara.
Menurut dia, sejarah perkembangan pemikiran Islam menunjukkan adanya dinamika pemikiran yang tercatat dalam karya-karya ulama. Ia mencontohkan perbedaan pendapat Imam Syafii yang dikenal sebagai qawl qadim dan qawl jadid yang dalam perkembangannya juga menjadi bagian dari kajian ulama di Nusantara.
“Hal itu juga ditulis dan dikaji oleh ulama Nusantara,” ujarnya.
Butuh Ekosistem dan Dukungan Negara
Sementara itu, Prof. Oman Fathurrahman mendorong Nahdlatut Turots menjadi salah satu penggerak ekosistem kajian manuskrip dan warisan intelektual ulama Nusantara.
Menurut dia, manuskrip Nusantara tidak hanya menyimpan informasi keagamaan, tetapi juga merekam pengetahuan, nilai, dan kearifan lokal yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat Indonesia saat ini.
“Bangsa Indonesia sedang membutuhkan inspirasi dan kebijaksanaan yang bersumber dari warisan tertulis ulama Nusantara,” katanya.
Karena itu, menurut Oman, pengembangan dunia pernaskahan Nusantara membutuhkan dukungan yang lebih luas. Hal tersebut mencakup regulasi yang mendukung pelestarian manuskrip, peran aktif pemilik naskah dalam konservasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta publikasi melalui berbagai platform.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan negara dalam bentuk penguatan infrastruktur, pengakuan, afirmasi, dan fasilitasi terhadap upaya pelestarian serta pengembangan kajian manuskrip Nusantara.
Oman bahkan mendorong Nahdlatul Ulama memberikan perhatian lebih serius terhadap agenda pelestarian turots. Menurut dia, upaya menjaga warisan intelektual ulama dapat ditempatkan sebagai tanggung jawab bersama yang dilakukan secara kultural.
“Tidak harus menjadi badan otonom atau lembaga. Gerakan kultural saja sudah cukup untuk terus berjuang bagi peradaban melalui turots,” ujarnya.
Ketua Panitia Seminar Turots Internasional, Ahmad Karomi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan puncak rangkaian program Nahdlatut Turots yang digelar bertepatan dengan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas.
“Ini merupakan puncak kegiatan NT di Muktamar NU Tambakberas. Ada enam kegiatan yang kami laksanakan,” kata Karomi.
Ia mengatakan turots selama ini masih kerap dipahami sebatas peninggalan masa lalu. Padahal, menurut dia, turots merupakan bagian dari tradisi keilmuan yang dapat menjadi sumber untuk memahami pemikiran dan kontribusi ulama pada zamannya.
“Turots adalah kajian keilmuan. Karena itu, tokoh-tokoh yang kita kenal dan jadikan inspirasi perlu dilihat juga melalui manuskrip dan karya yang mereka tinggalkan,” ujarnya.
Seminar tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa turots tidak hanya berkaitan dengan upaya menyelamatkan naskah lama dari kerusakan. Lebih jauh, kajian turots diarahkan untuk menghidupkan kembali pengetahuan yang terkandung di dalamnya agar dapat dibaca, diteliti, dan dikembangkan sebagai bagian dari pembangunan peradaban masa kini.(*)
Kontributor: Mukani
Editor: Abdel Rafi








