
JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkap rencana pembukaan program studi pascasarjana yang berfokus pada kajian turots di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Izin pembukaan program studi tersebut disebut telah diberikan Menteri Agama.
Khofifah menyampaikan hal itu saat membuka Pameran Turots dalam rangkaian Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Kamis (27/8/2026). Pameran tersebut menampilkan sekitar 2.000 manuskrip atau naskah kuno dari lebih dari 5.000 turots yang telah didigitalisasi.
“Menag sudah memberi izin prodi pascasarjana turots di UINSA. Karena itu, prodi segera dibuka,” kata Khofifah.
Salah satu manuskrip yang dipamerkan adalah Ta’liqat, karya KH Hasyim Asy’ari yang ditulis pada 1932. Manuskrip tersebut menjadi bagian dari khazanah intelektual ulama dan pesantren yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurut Khofifah, pembukaan program pascasarjana kajian turots di UINSA dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat pelestarian sekaligus pengembangan warisan intelektual Islam di Nusantara. Kajian terhadap manuskrip, kata dia, tidak hanya penting untuk kepentingan sejarah, tetapi juga untuk memahami perkembangan pemikiran dan tradisi keilmuan pesantren.
Ia mengatakan upaya pelestarian turots juga perlu ditopang teknologi digital. Teknologi untuk pelestarian manuskrip telah diperkenalkan melalui kerja sama dengan Jepang sejak 2019. Sementara itu, pegiat Nahdlatut Turots telah melakukan digitalisasi manuskrip dari sejumlah pesantren sejak 2020.
“Muktamar bukan hanya soal kepemimpinan, tetapi juga penguatan warisan keilmuan Nusantara yang mulai dikagumi dunia,” ujar Khofifah.
Ribuan Manuskrip Dibuka untuk Publik
Pameran Turots menjadi salah satu agenda dalam rangkaian Muktamar Ke-35 NU. Sekitar 2.000 manuskrip dipamerkan kepada masyarakat selama penyelenggaraan muktamar.
Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhadjir mengatakan keberadaan turots tidak dapat dipisahkan dari perkembangan tradisi keilmuan ulama dan NU. Menurut dia, manuskrip warisan ulama bukan sekadar benda bersejarah, melainkan sumber pengetahuan yang merekam berbagai disiplin keislaman.
“Tidak ada kebangkitan keilmuan atau Nahdlatut Turots tanpa kebangkitan ulama atau NU,” kata Afifuddin.
Ia menjelaskan, turots mencakup warisan keilmuan mengenai fikih, akidah, tasawuf, Al Quran, hadis, hingga ilmu alat seperti nahwu, sharaf, dan ushul fikih.
Menurut Afifuddin, tradisi pesantren memiliki kekuatan dalam mempertemukan warisan keilmuan klasik dengan perkembangan zaman. Karena itu, pelestarian turots perlu dilakukan bersamaan dengan upaya memperkenalkannya kepada generasi baru melalui pendidikan dan teknologi.
Dorong Generasi Muda Kenali Warisan Ulama
Ketua Panitia Turots Muktamar Ke-35 NU, Ayung Bahrurrohim, mengatakan pameran tersebut terbuka bagi masyarakat selama pelaksanaan muktamar. Pameran berlangsung pukul 09.00–22.00 dan dapat dikunjungi secara gratis.
“Pameran ini berlangsung selama muktamar. Gratis untuk umum dan lokasinya berada tepat di depan Kampus IAI Bani Fatah,” ujar Ayung.
Menurut dia, pameran tersebut dirancang agar masyarakat, khususnya generasi muda, dapat melihat secara langsung manuskrip yang selama ini banyak tersimpan di pesantren dan koleksi keluarga.
Selain pameran, rangkaian kegiatan Turots di Muktamar Ke-35 NU mencakup klinik turots, daurah tahqiq, musyawarah besar pegiat turots, ijazahan sanad ilmiah, dan seminar internasional mengenai turots.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa Muktamar Ke-35 NU tidak hanya menjadi forum organisasi dan kepemimpinan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali khazanah intelektual ulama Nusantara kepada masyarakat luas.
Rencana pembukaan program pascasarjana kajian turots di UINSA menjadi salah satu langkah untuk membawa kajian manuskrip pesantren ke ruang akademik yang lebih luas. Dengan demikian, warisan keilmuan yang selama ini tersimpan dalam naskah-naskah lama dapat terus dikaji, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








