
SURABAYA, CAKRAWARTA.com –Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kota Surabaya menggelar diskusi dan bedah buku Mozaik Kehidupan: Refleksi Pemikiran Usia 50 Tahun Yusuf Amrozi, karya Yusuf Amrozi, di kediaman penulis di Gayungan, Surabaya, Selasa (11/8/2026) petang.
Buku tersebut merekam perjalanan pemikiran Yusuf Amrozi melalui 30 tulisan opini yang sebelumnya tersebar di sejumlah media daring. Buku yang diterbitkan Bildung Yogyakarta pada Juli 2026 itu diterbitkan bertepatan dengan momentum ulang tahun ke-50 Yusuf Amrozi.
Ketua PC ISNU Kota Surabaya Ahmad Bashri mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk mendiskusikan gagasan dalam buku, tetapi juga bagian dari upaya menghidupkan aktivitas organisasi ISNU di Surabaya.
“Kegiatan ini juga menjadi bagian untuk menggerakkan roda organisasi di PC ISNU Kota Surabaya,” kata Bashri dalam kegiatan yang dihadiri jajaran pengurus ISNU Surabaya dan sejumlah rekan penulis.
Menurut Bashri, Mozaik Kehidupan menarik karena memperlihatkan keluasan perhatian penulis terhadap berbagai persoalan. Meskipun berlatar belakang akademik teknik, Yusuf Amrozi banyak menulis mengenai pendidikan, sosial-humaniora, serta dinamika Nahdlatul Ulama dan masyarakat Nahdliyin.
“Walaupun dia sebagai dosen teknik, kegelisahan akademik dan sumbangsih pemikirannya dituangkan dalam upaya mengembangkan dan menganalisis isu pendidikan dan sosial. Tentu juga seputar Nahdliyin karena dia berkecimpung sebagai aktivis di lingkungan Nahdlatul Ulama,” ujar Bashri.
Sebanyak 30 tulisan dalam buku tersebut dikelompokkan ke dalam empat bagian, yakni pendidikan, sosial-humaniora, Nahdliyin, serta serba-serbi.
Diskusi yang dipandu Sekretaris ISNU Kota Surabaya Nurvan Indra Praja, menghadirkan dua pembahas, yakni jurnalis senior sekaligus Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur Edy M Yaqub dan dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya Dr Muh Sholihuddin, M.HI.
Dari Desa hingga Dunia Akademik
Dalam pengantarnya, Yusuf Amrozi mengisahkan perjalanan hidup yang menjadi latar belakang lahirnya sejumlah pemikiran dalam buku tersebut.
Ia tumbuh di sebuah desa di Banyuwangi dalam lingkungan masyarakat agraris dan kultur Nahdliyin. Pendidikan dasar dan menengah dijalaninya sembari belajar di pesantren salaf di desanya. Setelah menempuh pendidikan di sekolah kejuruan, ia melanjutkan pendidikan tinggi sekaligus aktif sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Universitas Islam Malang.
“Dari aktivis PMII di Malang tersebut akhirnya membawa saya menjadi pengurus PMII Jawa Timur,” katanya.
Pengalaman sebagai aktivis kemudian membawanya berkiprah di lingkungan NU hingga menjadi dosen dan aparatur sipil negara di UIN Sunan Ampel Surabaya. Pengalaman tersebut, kata Yusuf, menjadi salah satu sumber gagasan yang kemudian dituangkan dalam berbagai tulisan opini.
Edy M Yaqub mengapresiasi penerbitan buku tersebut. Sebagai jurnalis, ia menilai sejumlah gagasan Yusuf Amrozi relevan dengan perkembangan masyarakat, terutama tulisan yang membahas fenomena realitas virtual.
Sementara itu, Sholihuddin menyoroti perjalanan intelektual Yusuf yang telah dikenalnya sejak sama-sama menjadi aktivis PMII. Ia mengapresiasi konsistensi Yusuf dalam menghasilkan karya tulis di tengah kesibukannya sebagai dosen dan peneliti.
Diskusi kemudian berkembang dalam sesi tanya jawab. Sejumlah peserta menanyakan cara Yusuf membagi waktu antara mengajar, melakukan penelitian, menulis artikel ilmiah, dan menghasilkan karya populer.
Yusuf mengatakan manajemen waktu menjadi salah satu kunci untuk menjalankan berbagai aktivitas tersebut. Dalam penelitian dan penulisan artikel jurnal ilmiah, ia juga menilai kolaborasi dengan mahasiswa dan sesama dosen penting dilakukan.
Menurut dia, keterlibatan mahasiswa dan kolaborasi akademik tidak hanya membantu proses penelitian, tetapi juga membuka ruang pertukaran gagasan dan memperkaya perspektif dalam menghasilkan karya ilmiah.
Mozaik Kehidupan merupakan buku ke-10 yang ditulis Yusuf Amrozi. Buku tersebut mendapat sambutan dari Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid.
Buku itu juga dilengkapi prolog dari Pemimpin Redaksi Harian Duta Masyarakat Mokhammad Kaiyis dan epilog dari Ketua Lembaga Kajian dan Konsultasi (LKK) PCNU Kota Surabaya Ely Rosyidah, yang juga merupakan istri Yusuf Amrozi.
Sekretaris PWNU Jawa Timur Muhammad Faqih turut memberikan apresiasi terhadap konsistensi Yusuf dalam menulis.
Menurut Faqih, kemampuan menghasilkan buku dan tulisan opini di tengah kesibukan sebagai dosen merupakan sesuatu yang patut diapresiasi.
“Walaupun kelihatannya ringan, tetapi tidak semua dosen mampu melakukannya, menulis buku dan menulis opini selain mengajar dan meneliti di bidangnya,” kata Faqih.
Bagi ISNU Surabaya, diskusi tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman akademik, aktivitas organisasi, dan tradisi literasi. Mozaik Kehidupan menjadi contoh bagaimana pengalaman personal dan kegelisahan akademik dapat diolah menjadi gagasan yang dapat dibaca dan didiskusikan publik.(*)
Editor: Abdel Rafi








