
LUMAJANG, CAKRAWARTA.com – Bencana tidak pernah menunggu siapa yang siap dan siapa yang belum. Karena itu, kemampuan relawan untuk bergerak cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran menjadi salah satu kunci dalam penanganan keadaan darurat.
Kesadaran tersebut mendorong NU Care-Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jawa Timur menggandeng Shenzhen Rescue Volunteers Federation (SRVF) dari China untuk memperkuat kapasitas relawan kebencanaan melalui pelatihan manajemen bencana di Lumajang, Kamis (24/9/2026).
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari program Community Emergency Response Partnership (CERP) dengan tema “Skills for Safety, Neighbors for Each Other”. Kegiatan di Jawa Timur dilaksanakan di tiga daerah, yakni Kabupaten Lamongan pada Selasa (22/9/2026), Kota Surabaya pada Rabu (23/9/2026), dan Kabupaten Lumajang pada Kamis (24/9/2026).
Direktur Wilayah NU Care-LAZISNU Jawa Timur Moch Rofii Boenawi mengatakan, kegiatan tersebut merupakan hasil kerja sama NU Care-LAZISNU PBNU dengan SRVF untuk meningkatkan kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi bencana.
“Penanganan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Diperlukan koordinasi dan pembagian tugas yang jelas agar setiap unsur dapat menjalankan perannya dengan baik,” kata Rofii dalam keterangannya di Lumajang, Jumat (25/9/2026).
Pelatihan melibatkan berbagai unsur kebencanaan dan kemanusiaan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Di antaranya LAZISNU, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU), NU Peduli, Banser Tanggap Bencana (Bagana), Garda Fatayat NU (Garfa), Corps Brigade Pembangunan (CBP), Korps Pelajar Putri (KPP), serta Sako Pramuka Ma’arif NU.
Keterlibatan banyak unsur tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana membutuhkan kerja kolektif. Ketika keadaan darurat terjadi, kecepatan respons harus diikuti dengan koordinasi yang jelas agar bantuan tidak tumpang tindih dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat terdampak.
Rofii mengatakan, kehadiran NU dalam penanganan bencana dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari tahap sebelum bencana, tanggap darurat hingga pemulihan.
Salah satu contohnya terlihat dalam penanganan dampak erupsi Gunung Semeru di Lumajang. Sebelum pelatihan berlangsung, tim SRVF diajak melihat langsung hunian tetap bagi penyintas erupsi di Candipuro.
Hunian tersebut dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung, termasuk tiga rumah ibadah dan minimarket.
“Jadi, sebelum acara ini kamu membawa tim SRVF melihat langsung hunian tetap di Candipuro. Di sana juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti tiga rumah ibadah dan minimarket. Ini bukti bahwa NU juga hadir dan membantu warga terdampak pasca bencana,” ujar Rofii.
Menurut Rofii, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa kesiapsiagaan tidak cukup dibangun ketika bencana sudah terjadi. Relawan harus memiliki pemahaman mengenai tugas dan tanggung jawabnya sejak sebelum bencana hingga fase pemulihan.
Karena itu, pelatihan manajemen bencana diarahkan untuk memperkuat kemampuan relawan dalam menghadapi situasi darurat, termasuk memahami proses evakuasi, pendataan, distribusi bantuan hingga pemulihan masyarakat.
“Relawan perlu memahami tugas dan tanggung jawabnya sejak sebelum bencana terjadi, saat tanggap darurat, hingga tahap pemulihan. Dengan demikian, penanganan di lapangan dapat dilakukan secara terarah,” katanya.
Rofii berharap peningkatan kapasitas tersebut dapat memperkuat koordinasi antar lembaga sekaligus membentuk relawan yang mampu menjalankan tugas kemanusiaan secara terstruktur sesuai kondisi di lapangan.
“Rangkaian pelatihan di sejumlah daerah tersebut sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan sumber daya manusia dalam menghadapi bencana,” ucapnya.
Dari Pelatihan Indonesia Menuju China
Manajer Human Resources General Affairs (HRGA) NU Care-LAZISNU PBNU Dewi Rochmawati mengatakan, kerja sama dengan SRVF dilakukan karena organisasi tersebut memiliki kompetensi dalam bidang penyelamatan dan kebencanaan.
Dewi menyebut kolaborasi tersebut juga menjadi kelanjutan dari sejumlah inisiatif kerja sama antara pihak Indonesia dan China yang sebelumnya dilakukan oleh sejumlah lembaga NU.
Program CERP sendiri dirancang dalam empat angkatan atau batch. Batch pertama dilaksanakan di delapan titik, antara lain Jakarta, Bogor, Tangerang, Yogyakarta, dan Karawang. Sementara batch berikutnya berlangsung di sejumlah daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.
Namun, program tersebut tidak berhenti pada pelatihan di Indonesia. Peserta terbaik dari setiap batch nantinya mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan di China dan dipersiapkan menjadi trainer.
Skema tersebut diharapkan membuat pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta tidak berhenti pada individu. Para peserta yang telah mendapatkan pelatihan lanjutan dapat kembali membagikan pengetahuan tersebut kepada relawan lainnya.
Menurut Dewi, tujuan program bukan hanya meningkatkan kemampuan individu dalam menghadapi bencana, tetapi juga membangun kekuatan kolektif melalui NU Peduli.
“Ini harus dilaksanakan secara kolektif dan bersama-sama untuk menghasilkan sebuah kekuatan yang kita sebut dengan NU Peduli untuk menghadapi kesiapsiagaan kita terhadap bencana,” pungkasnya.
Kolaborasi NU Care-LAZISNU dengan SRVF tersebut pada akhirnya menempatkan kesiapsiagaan sebagai bagian penting dari kerja kemanusiaan. Sebab, ketika bencana datang, waktu untuk belajar sudah habis. Yang dibutuhkan adalah relawan yang telah siap bergerak, memahami tugasnya, dan mampu bekerja bersama.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








