Thursday, April 9, 2026
spot_img
HomeSains TeknologiAlgoritma Media Sosial Picu Polarisasi, Guru Besar UNAIR Soroti Pentingnya Literasi Multikultural

Algoritma Media Sosial Picu Polarisasi, Guru Besar UNAIR Soroti Pentingnya Literasi Multikultural

Prof. Yuyun Wahyu Izzati Surya, S.Sos., MA., Ph.D., saat orasi ilmiah dalam momen pengukuhan guru besar dirinya dalam bidang Ilmu Media Digital dan Multikulturalisme di Aula Garuda Mukti, Gedung Kantor Manajemen Kampus MERR C UNAIR, Surabaya, Kamis (9/4/2026). 

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Di tengah masifnya penggunaan media sosial, masyarakat modern menghadapi ancaman polarisasi yang kian tajam akibat peran algoritma yang bekerja secara tak kasatmata. Realitas digital justru berpotensi menjauhkan individu dari nilai keberagaman karena sistem yang menyaring informasi secara sepihak.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Yuyun Wahyu Izzati Surya, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR), dalam orasi ilmiah pengukuhan guru besarnya. Bertempat di Aula Garuda Mukti, Gedung Kantor Manajemen Kampus MERR C UNAIR, Kamis (9/4/2026), ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Media Digital dan Multikulturalisme.

Dalam orasinya, Yuyun menyoroti bagaimana kuasa algoritma dapat mengubah interaksi sosial menjadi ruang yang tertutup terhadap perbedaan pandangan dan perspektif baru. Ia menilai, ada urgensi untuk mengembalikan fungsi media digital sebagai ruang yang sehat bagi perayaan multikulturalisme.

“Algoritma yang menyaring konten berdasarkan preferensi pengguna memiliki kemampuan mendikte informasi yang dikonsumsi. Akibatnya, individu hanya terpapar pada opini yang memperkuat keyakinannya sendiri,” ujar Yuyun.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk isolasi intelektual, ketika pengguna media sosial hanya menerima validasi atas pandangannya terhadap suatu peristiwa.

Menurut Yuyun, dominasi algoritma kerap mengesampingkan fakta demi mengejar keterlibatan pengguna melalui konten yang bersifat emosional. Situasi ini memunculkan ekosistem digital yang tidak sehat dan didorong oleh logika viralitas.

“Digitalisasi seharusnya memperkaya interaksi multikultural. Namun, dalam praktiknya, teknologi ini justru sering memicu polarisasi yang membahayakan integrasi sosial,” ujarnya.

Ia juga menyoroti adanya strategi yang secara sengaja memanfaatkan konten ofensif dan tidak akurat untuk memancing kemarahan publik. Konten semacam itu dinilai efektif meningkatkan interaksi pengguna sekaligus menguntungkan secara finansial maupun politik.

“Kepentingan ekonomi sering kali mengabaikan tanggung jawab moral untuk menjaga keberagaman dan harmoni di ruang publik digital,” kata Yuyun.

Tanpa kesadaran dan pemahaman yang memadai, praktik yang ia sebut sebagai tribalisme digital berpotensi merusak harmoni sosial. Karena itu, literasi terhadap cara kerja teknologi menjadi penting agar masyarakat tidak sekadar menjadi objek manipulasi data.

“Ancaman terbesar tanpa literasi kritis adalah melemahnya penghargaan terhadap perbedaan dan tergerusnya keberagaman sosial,” ujarnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Yuyun menawarkan konsep literasi multikulturalisme sebagai upaya membekali masyarakat dengan pemahaman kritis sekaligus empati sosial. “Literasi multikulturalisme adalah pengetahuan tentang pentingnya menghargai perbedaan, sehingga dapat menghindari stereotip terhadap kelompok sosial lain dalam interaksi di media digital,” tuturnya.

Ia menegaskan, masa depan Indonesia bergantung pada kemampuan masyarakat merawat kemajemukan. Teknologi, menurut dia, seharusnya menjadi alat pemersatu, bukan pemicu perpecahan akibat perbedaan pandangan.

“Pengguna media digital perlu mengedepankan objektivitas melalui budaya partisipatif, dengan membuka diri terhadap beragam perspektif untuk melawan narasi kebencian,” katanya.(*)

Kontributor: Abdel Rafi

Editor: Umar Faruq

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular