Wednesday, April 17, 2024
HomeSosial BudayaOrang Madura Suka Merantau? Inilah Alasannya

Orang Madura Suka Merantau? Inilah Alasannya

Rosi, pemuda asal Desa Mandung Kecamatan Kokop Kabupaten Bangkalan Madura yang merantau ke Kabupaten Sidoarjo. Nampak Rosi tengah melayani anak-anak usia SD saat membeli jajanan anak-anak yang dijualnya berupa cireng, telur gulung dan sejenisnya. (foto: bustomi/cakrawarta)

Surabaya, – Sering menjadi perbincangan bahwa masyarakat Madura yang nampak ada di mana saja. Seperti halnya di wilayah Nusantara, mulai pulau Jawa, Kalimantan, hingga Papua. Bahkan penjuru dunia seperti Arab Saudi, Turki, hingga Jepang. Menurut Pakar Antropologi Dr. Mohammad Adib, faktor ekonomi menjadi pendorong utama mengapa masyarakat suku Madura merantau ke mana-mana.

“Bermigrasi dilakukan oleh suku bangsa manapun, seperti contohnya masyarakat Minang yang mewajibkan laki-laki untuk merantau. Yang membedakan dengan suku Madura adalah mereka merantau karena mencari jalan hidup yang lebih sejahtera,” ujar Adib -sapaan akrabnya- pada media ini.

Motivasi budaya merantau masyarakat suku Madura dengan suku Minang sangat berbeda. Masyarakat Minang menganut sistem matrilineal, adat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu sehingga tidak punya hak warisan. Karena itulah, laki-laki ‘kurang berarti’ jika tidak merantau. Sementara itu, lanjut Adib, motif utama masyarakat Madura merantau adalah faktor ekonomi.

Seperti yang kita tahu, lanjut, Madura memiliki tanah yang tidak cocok atau tidak subur untuk menanam. Sehingga masyarakat Madura harus mengakali perekonomian mereka, yakni dengan cara merantau ke daerah lain.

“Faktor ekologi seperti tanah yang tidak subur itulah yang memaksa mereka untuk merantau mencari mata pencaharian di daerah lain,” imbuhnya.

Selanjutnya, kuantitas atau jumlah masyarakat suku Madura yang cukup banyak tidak sesuai dengan luas pulau Madura itu sendiri. Ada sekitar 7 juta jiwa masyarakat Madura per 2010, pulau Madura tak menampung populasi sebanyak itu, sehingga masyarakatnya harus pergi dari pulaunya.

Pakar Antroplogi FISIP Unair, Antropologi Dr. Drs. Mohammad Adib., M.Si. (foto: dokumen Unair)

“Tak serta-merta suku Madura saja yang merantau karena wilayah tak mencukupi. Ini juga berlaku bagi semua suku yang kuantitasnya banyak,” tegasnya.

Mayoritas masyarakat suku Madura yang merantau ke daerah lain cenderung memilih sektor ekonomi informal dalam meraih kesejahteraan. Hal itu terjadi karena permasalahan tingkat pendidikan. Masyarakat Madura, lanjut Adib, tidak memiliki tingkat pendidikan yang begitu tinggi.

“Pendidikan masyarakat Madura itu terbatas, maka pekerjaan apa saja mereka lakukan. Terutama pekerjaan fisik seperti buruh pabrik. Yang juga ada demand-nya,” imbuhnya.

“Sejarahnya pada zaman Belanda, orang Madura direkrut untuk kerja di pabrik gula,” tambahnya.

Karena itu, Adib berpesan kepada masyarakat suku Madura untuk meningkatkan keterampilannya agar tidak hanya bekerja sebagai pekerja fisik. Mengingat, ada lumayan banyak fasilitas yang telah disediakan negara.

“Maka, tingkatkan pendidikan karena sudah difasilitasi negara. Menyiapkan pendidikan di masa depan. Utamakan pendidikan, membongkar kultur informal. Merantaulah dengan skill, tidak hanya sebagai tenaga kasar,” pungkas pria yang merupakan Dosen Antropologi FISIP Unair itu.

(pkip/mar/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular