Sunday, March 1, 2026
spot_img
HomePendidikanHanan Attaki di Masjid Al-Akbar: Saatnya “Caper” kepada Allah, Bukan Lagi kepada...

Hanan Attaki di Masjid Al-Akbar: Saatnya “Caper” kepada Allah, Bukan Lagi kepada Manusia

Pendakwah nasional, Hannan Attaki saat mengisi kajian bertajuk Spirit of Ramadhan di Masjid Al Akbar, Surabaya, Minggu (1/3/2026). (foto: BPP MAS untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pendakwah milenial mengajak puluhan ribu jamaah menggeser orientasi hidup dari mencari perhatian manusia menjadi mencari perhatian Tuhan. Dalam kajian bertajuk Spirit of Ramadhan di Masjid Al Akbar, Surabaya, Minggu (1/3/2026), ia menyebut tiga cara agar seorang Muslim bisa “viral di langit”.

Di hadapan sekitar 40.000 peserta, yang didominasi generasi Z, Hanan menilai kebiasaan “caper” atau mencari perhatian manusia justru melelahkan secara batin.

“Sebelas bulan kita caper kepada manusia dan terbukti itu melelahkan. Manusia punya ego, mudah lupa pada kebaikan orang, bahkan sering sulit menghargai,” ujarnya.

Ia menyinggung fenomena media sosial yang membuat orang berlomba-lomba tampil dan mencari validasi. Namun, menurut dia, respons manusia kerap tak sebanding dengan energi yang dikeluarkan.

“Coba saja caper di media sosial, semua diposting habis-habisan. Tapi netizen itu manusia, pelit memberi apresiasi. Kadang tidak dilihat, tidak di-like. Itu melelahkan,” katanya, disambut senyum jamaah.

Menurut Hanan, Ramadhan menjadi momentum untuk mengalihkan orientasi tersebut. “Sekarang saatnya kita geser, bukan lagi caper kepada manusia, tetapi caper kepada Allah. Siapa yang memperbaiki hubungan dengan Allah, Allah yang akan memperbaiki hubungannya dengan manusia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, manusia tidak akan pernah merasa cukup jika hanya mengejar pengakuan di bumi. “Raga kita tercipta dari tanah, bisa kenyang oleh unsur bumi. Tapi jiwa kita berasal dari langit, hanya bisa kenyang oleh unsur langit,” katanya.

Tiga Jalan “Viral di Langit”

Hanan merinci tiga langkah konkret. Pertama, membiasakan taubat. Ia menganjurkan istighfar minimal dua hingga tiga kali sehari serta meluangkan waktu untuk shalat taubat. Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 222 tentang kecintaan Allah kepada hamba yang bertaubat dan menyucikan diri.

“Kita ingin dicintai Allah. Maka jadikan taubat sebagai kebiasaan, bukan hanya saat merasa bersalah besar,” tuturnya.

Kedua, memperbanyak amalan sunnah setelah menunaikan yang wajib. Dzikir, menurut dia, menjadi amalan yang ringan tetapi berdampak besar. “Minimal tasbih 33 kali. Kalau kita mendekat lewat amalan sunnah hingga Allah cinta, apa pun yang kita minta akan dikabulkan,” katanya, merujuk pada hadis tentang kedudukan amalan sunnah.

Ia juga mengingatkan bahwa dzikir tidak terbatas di masjid. “Bahkan disebutkan, berdzikir di pasar punya keutamaan tersendiri. Ada malaikat yang berkeliling mencari orang yang berdzikir,” ujarnya.

Ketiga, beramal dalam sunyi, yakni menyembunyikan amal saleh dari publikasi. Inilah, kata dia, yang paling menantang, terutama bagi generasi yang akrab dengan budaya unggah dan pamer di media sosial.

“Ini amalan yang berat. Kita terbiasa menampilkan semuanya. Padahal, amal yang dirahasiakan justru bisa membuat kita viral di langit, bukan viral di bumi,” katanya.

Kajian yang digelar PT Panglima Express Travel itu berlangsung khidmat. Di akhir tausiyah, Hanan kembali mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan spiritual bukan pada seberapa banyak pengakuan manusia, melainkan seberapa dekat seseorang dengan Tuhannya.

“Kalau Allah sudah cinta, urusan di bumi akan terasa lebih ringan,” ujarnya.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular