
Sejak Pemilu 2024 berakhir, kata “relawan” tampaknya tidak berhenti bersama berakhirnya masa kampanye. Kata itu justru tetap hidup dalam percakapan politik. Ada relawan untuk tokoh ini, relawan untuk tokoh itu. Namanya bermacam-macam. Deklarasinya datang silih berganti. Ada yang tetap aktif membela figur yang pernah didukung, ada yang membangun jaringan baru, dan ada pula yang mulai mencari posisi dalam perubahan peta politik.
Ada kelompok yang tetap membawa nama Prabowo, ada yang mengorganisasi dukungan kepada Gibran, bahkan ada yang mulai berbicara tentang 2029. Agustus lalu, misalnya, kelompok Gibran Penerus Jokowi menyatakan mulai merapatkan barisan menuju 2029. Bolone Mase juga masih aktif sebagai jejaring relawan, sementara kelompok pendukung Prabowo tetap melakukan konsolidasi pasca pemilu.
Tentu tidak ada yang salah dengan menjadi relawan politik. Demokrasi membutuhkan partisipasi. Warga bebas mempercayai seseorang, mendukung gagasannya, mengajak orang lain memilihnya, bahkan memberikan waktu dan tenaga tanpa imbalan.
Namun, keadaan itu membuat saya merenunginya, mengapa kata relawan sekarang begitu mudah dilekatkan kepada orang?
Padahal, ingatan kita tentang relawan sesungguhnya jauh lebih luas. Ketika bencana datang, kita melihat orang-orang mengangkat korban, memasak makanan, mendirikan tenda, membersihkan lumpur, mendonorkan darah, atau mengantar bantuan ke daerah yang bahkan belum pernah mereka datangi. Mereka mungkin tidak mengenal siapa yang ditolong. Tidak tahu agamanya, pilihan politiknya, bahkan namanya.
Mereka datang karena ada manusia yang membutuhkan pertolongan.
Dari Persoalan, Bukan Pesona
Mengapa relawan politik berbasis figur semakin banyak? Salah satu jawabannya mungkin terletak pada perubahan cara kita berpolitik. Politik semakin personal. Media sosial membuat warga merasa dekat dengan tokoh mulai dari mengikuti kesehariannya, mendengar ucapannya setiap hari, mengenakan simbolnya, sampai membangun komunitas di sekitar namanya.
Tidak mengherankan bila kedekatan politik kemudian berubah menjadi kedekatan emosional. Masalah muncul ketika dukungan terhadap gagasan bergeser menjadi kesetiaan kepada orang. Ada perbedaan antara dukungan karena gagasan, dengan dukungan sosok orang.
Dukungan pada gagasan adalah pilihan politik, dan dukungan kepada sosok dapat berkembang menjadi loyalitas personal.
Dititik itulah makna kerelawanan layak direnungkan kembali. Relawan mestinya memiliki kemerdekaan. Bahkan kepada orang yang pernah didukungnya, ia tetap mampu mengatakan bahwa yang ini baik, tetapi yang itu keliru. Jika kemampuan untuk mengambil jarak menghilang, kerelawanan mudah berubah menjadi barisan pembela.
Pelajaran dari Solferino
Lebih dari satu setengah abad lalu, seorang warga Swiss bernama Henry Dunant menyaksikan akibat mengerikan Pertempuran Solferino di Italia pada 1859. Ribuan tentara tergeletak terluka. Dunant ikut mengorganisasi pertolongan bagi mereka tanpa membedakan dari pihak mana para korban berasal. Pengalaman itu kemudian melahirkan gagasan tentang organisasi bantuan sukarela dan menjadi salah satu awal lahirnya Gerakan Palang Merah Internasional.
Ada pelajaran sederhana dari Dunant bahwa kerelawanan lahir ketika seseorang menemukan persoalan yang lebih besar daripada dirinya.
Gerakan Palang Merah kemudian mengenal prinsip kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan, dan kesemestaan. Prinsip pelayanan sukarela menegaskan bahwa kerja kemanusiaan tidak digerakkan oleh keinginan memperoleh keuntungan. Betapa indahnya gagasan itu, dimana orang menolong bukan karena siapa yang ditolong, melainkan karena pertolongan memang dibutuhkan.
Sesungguhnya kita pun memiliki akar yang sama. Namanya gotong royong. Di kampung-kampung, orang membantu tetangga membangun rumah, menyiapkan hajatan, mengurus kematian, memperbaiki jalan, membersihkan saluran air, atau menjaga lingkungan. Tidak selalu ada spanduk. Tidak ada deklarasi. Sering kali bahkan tidak ada kamera. Orang datang tanpa pamrih, bekerja dengan tulus, lalu pulang dengan ikhlas.
Pandawara dan Generasi Baru
Semangat kerelawan selalu tumbuh di kalngan kaum muda. Secara psikologis, di masa itulah semangat aktivisme berkembang. Pandawara Group adalah salah satu contoh menarik. Lima anak muda dari Bandung berangkat dari kegelisahan terhadap banjir dan sampah di lingkungan mereka. Mereka kemudian membersihkan sungai dan memanfaatkan media sosial untuk mengajak masyarakat lebih peduli pada lingkungan. Aksi mereka telah berkembang ke berbagai sungai dan pesisir.
Saya menyukai pelajaran sederhana dari kisah mereka. Mereka tidak lebih dahulu mencari pengikut, dan mereka lebih dahulu menemukan persoalan. Lalu publik mengapresiasi, dukungan datang kemudian.
Ini juga menunjukkan bahwa menjadi relawan pada zaman digital tidak harus berarti bekerja diam-diam. Kebaikan boleh direkam. Kerja sosial boleh menjadi konten. Bahkan media sosial dapat memperluas partisipasi. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai persoalan publik hanya menjadi panggung untuk membesarkan diri.
Dari Dunant sampai Pandawara, polanya kurang lebih sama yakni ada masalah, muncul kepedulian, lalu lahir tindakan. Beda dengan pola belakangan ini, Bukan yang dimana seseorang dikagumi, kemudian dibela tanpa henti.
Merelakan Sebagian Diri
Sebagai dosen dan peneliti yang banyak bertemu kaum muda, saya justru berharap Indonesia memiliki semakin banyak relawan. Bukan hanya relawan “dadakan” apalagi “bayaran” ketika pemilu datang.
Kita membutuhkan relawan pendidikan untuk anak-anak yang tertinggal. Relawan lingkungan untuk sungai dan hutan. Relawan kebencanaan. Relawan kesehatan. Relawan untuk lansia dan penyandang disabilitas. Relawan literasi yang membawa buku ke tempat-tempat jauh. Bahkan di zaman banjir informasi sekarang, kita membutuhkan anak-anak muda yang bersedia membantu masyarakat mengenali hoaks dan menggunakan teknologi secara lebih sehat.
Kaum muda tidak harus menunggu menjadi pejabat, kaya, atau terkenal untuk berguna bagi orang lain.
Barangkali justru melalui kerelawanan seseorang belajar sesuatu yang semakin mahal pada zaman ini: menyediakan waktu untuk orang lain, mendengarkan persoalan yang bukan persoalannya sendiri, bekerja bersama orang yang berbeda, dan menemukan bahwa hidup tidak seluruhnya harus dihitung dengan keuntungan pribadi.
Politik pun tetap membutuhkan relawan. Tetapi seusai pemilu, relawan politik semestinya dapat tumbuh menjadi kekuatan kewargaan: mengawal janji, menyampaikan aspirasi masyarakat, mengkritik ketika kekuasaan keliru, dan mendukung ketika kebijakan memberi manfaat.
Tokoh akan datang dan pergi. Kekuasaan mempunyai batas waktu. Musim politik selalu berganti. Tetapi kemanusiaan, keadilan, pendidikan, lingkungan, dan kepentingan bersama akan terus membutuhkan orang-orang yang bersedia peduli.
Kini, tantangan kita bukan memperbanyak orang yang bersedia membela seseorang, tantangan kita adalah menumbuhkan generasi yang bersedia merelakan sebagian dirinya untuk sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Sebab, kerelawanan bukanlah soal kepada siapa kita setia, melainkan untuk nilai apa kita bersedia memberi diri.(*)
SUKO WIDODO
Akademisi Universitas Airlangga








