
Di tengah kegelisahan publik tentang capaian kognitif siswa, yang kerap disederhanakan menjadi angka-angka “IQ” atau skor asesmen, kita sering luput melihat persoalan yang lebih mendasar yakni arah pendidikan kita masih terlalu meniru logika pabrik. Seragam, terstandar, mengejar output yang mudah diukur, tetapi sering mengabaikan proses batin, daya rasa, dan keberanian berekspresi.
Dalam konteks ini, lomba monolog dan baca puisi siswa SD dalam rangka memperingati Raden Ajeng Kartini 2026 yang diadakan oleh Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen adalah angin segar. Bukan sekadar perayaan seremonial tetapi lomba merupakan intervensi kecil dan penting untuk menutup celah besar dalam sistem pendidikan kita.
Narasi tentang “IQ rendah” sering kali menjadi pembenaran untuk memperketat latihan-latihan kognitif seperti drilling matematika, hafalan, dan pengulangan. Padahal, pendekatan semacam ini justru memperkuat watak “pabrik” yang kita keluhkan.
Cara di atas melatih anak menjadi benar, tetapi tidak selalu diajak untuk menjadi utuh. Mereka mungkin mampu menjawab soal, tetapi belum tentu mampu memahami diri, mengelola emosi, atau menyampaikan gagasan dengan percaya diri. Di sinilah pendidikan kehilangan ruhnya.
Lomba seni, khususnya monolog dan puisi, menghadirkan ruang yang berbeda. Ia bekerja pada wilayah yang sering disebut “otak kanan” seperti imajinasi, empati, intuisi, dan ekspresi. Meski demikian, menyederhanakannya sebagai sekadar “otak kanan” juga kurang tepat karena sebenarnya yang terjadi adalah sebuah integrasi.
Ketika seorang anak membawakan monolog, ia tidak hanya menghafal teks (kognitif), tetapi juga menafsirkan makna (analitis), merasakan emosi (afektif), mengatur tubuh dan suara (psikomotorik), serta berani tampil di depan publik (karakter). Ini adalah pembelajaran yang utuh, sesuatu yang sulit dicapai melalui metode pengajaran yang terlalu mekanistik.
Lebih jauh, seni memberi ruang bagi kegagalan yang sehat dalam sistem “pabrik”, kesalahan sering dihukum seperti karena nilai turun atau peringkat merosot. Akibatnya, anak menjadi takut mencoba. Dalam seni, kesalahan adalah bagian dari proses kreatif.
Ekspresi yang belum tepat tidak langsung dianggap salah, melainkan dilihat sebagai tahap menuju kematangan. Lingkungan seperti ini penting untuk membangun keberanian, daya tahan (resilience), dan rasa percaya diri, unsur-unsur kunci dalam pembentukan karakter.
Peringatan Hari Kartini memberi dimensi tambahan yang kuat karena Kartini tidak dikenang karena skor akademiknya, tetapi karena keberaniannya berpikir dan menyuarakan kegelisahan zamannya. Ia menulis, berefleksi, dan melampaui batas-batas sosial yang mengungkungnya. Ketika anak-anak hari ini membawakan monolog tentang Kartini atau membacakan puisi yang terinspirasi darinya, mereka tidak sekadar mengulang sejarah tetapi mereka sedang berlatih menjadi subjek, individu yang punya suara, bukan sekadar objek dari sistem pendidikan.
Tentu, lomba seni bukan solusi tunggal. Ia tidak otomatis meningkatkan capaian literasi numerik atau menggantikan kebutuhan akan pengajaran dasar yang kuat. Lomba juga mengisi ruang yang selama ini kosong yaitu ruang pembentukan manusia yang peka, berani, dan mampu mengartikulasikan dirinya. Tanpa ruang ini, kita berisiko menghasilkan generasi yang cakap secara teknis tetapi rapuh secara emosional dan sosial.
Pertanyaannya kemudian, apakah ruang seperti ini akan terus menjadi “ekstrakurikuler” yang sesekali hadir, ataukah menjadi bagian integral dari desain pendidikan kita? Jika kita serius ingin keluar dari jebakan “pabrik”, maka pendekatan seni tidak boleh diposisikan sebagai pelengkap, melainkan sebagai metode.
Guru perlu didorong untuk mengintegrasikan ekspresi kreatif dalam pembelajaran sehari-hari, bukan hanya di kelas bahasa, tetapi juga dalam sains, IPS, bahkan matematika. Kurikulum perlu memberi ruang bagi proses, bukan hanya hasil dan sistem evaluasi perlu lebih menghargai keberagaman cara belajar dan berekspresi.
Di tingkat kebijakan, ini menuntut keberanian untuk menggeser paradigma. Ukuran keberhasilan pendidikan tidak bisa semata-mata berbasis angka yang mudah dibandingkan. Kita perlu indikator yang menangkap perkembangan karakter seperti kepercayaan diri, empati, kemampuan bekerja sama, dan keberanian menyampaikan pendapat. Memang lebih sulit diukur, tetapi justru di situlah letak tantangan kepemimpinan pendidikan.
Di tingkat sekolah dan keluarga, perubahan bisa dimulai dari hal sederhana mulai dari memberi ruang anak untuk bercerita, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menghargai proses, bukan hanya hasil. Lomba monolog dan puisi menunjukkan bahwa ketika diberi kesempatan, anak-anak mampu melampaui ekspektasi kita. Mereka bisa merasakan, berpikir, dan berbicara dengan cara yang jernih dan jujur.
Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah, pendidikan bukanlah soal memilih antara “otak kiri” atau “otak kanan”, antara kognitif atau afektif. Pendidikan adalah tentang membentuk manusia seutuhnya. Dalam lanskap yang masih didominasi logika pabrik, ruang-ruang seni seperti lomba monolog dan baca puisi menjadi oase, tempat anak-anak belajar menjadi manusia, bukan sekadar produk dan mungkin, dari oase-oase kecil inilah perubahan besar akan tumbuh. Semoga.(*)
EVA K SUNDARI
Pendiri dan Direktur Program Institut Sarinah serta juri Lomba Monolog dan Puisi TK-SD








