
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan masyarakat agar tidak tergesa-gesa menilai atau menyalahkan seseorang hanya dari potongan ceramah yang beredar di media sosial.
Pesan itu ia sampaikan saat memberikan Ceramah Subuh di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Sabtu (7/3/2026), di hadapan sekitar seribu jamaah. “Jangan salahkan orang dari potongan ceramah. Bisa jadi kita belum sampai pada maksud utuh dari apa yang disampaikan penceramah,” kata Nasaruddin.
Ia menyinggung pengalamannya sendiri ketika potongan pernyataannya tentang zakat 2,5% yang disampaikan di Jakarta pada 26 Februari lalu viral dan menuai polemik.
Menurut Nasaruddin, pernyataan tersebut bukan berarti ia menganggap zakat tidak wajib. Ia hanya menegaskan bahwa upaya pemberdayaan umat tidak cukup hanya melalui zakat, tetapi juga harus dioptimalkan melalui instrumen lain seperti wakaf, infak, dan sedekah.
“Dana sosial keagamaan yang ada sebenarnya sangat besar. Kalau dikelola dengan baik, itu bisa menjadi kekuatan untuk mengatasi kemiskinan umat,” ujarnya.
Dalam ceramahnya, Nasaruddin juga mencontohkan pengelolaan dana sosial keagamaan di sejumlah negara Timur Tengah.
Ia menyebutkan bahwa di Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, kementerian wakaf mampu menghimpun dana sosial keagamaan hingga 25-40% untuk pemberdayaan masyarakat secara produktif dan berkelanjutan.
Karena itu, ia berharap Masjid Al-Akbar Surabaya dapat menjadi contoh dalam optimalisasi dana sosial keagamaan bagi kesejahteraan jamaah. “Mari kita jadikan Masjid Al-Akbar sebagai contoh dalam ikhtiar pemberdayaan umat melalui pengelolaan dana sosial keagamaan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Nasaruddin juga mengajak umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk meningkatkan martabat keberagamaan.
Menurut dia, dalam kehidupan spiritual selalu ada proses peningkatan derajat. “Al-Quran bahkan mengatakan, ‘wahai orang beriman, berimanlah’. Itu bukan berarti orang yang tidak beriman diminta beriman, tetapi orang beriman diajak meningkatkan kualitas imannya,” kata Nasaruddin.
Ia menekankan bahwa ibadah tidak semata-mata dijalankan sebagai kewajiban formal, tetapi harus dilandasi rasa cinta kepada Tuhan.
Menurutnya, ada perbedaan antara orang yang sekadar taat dan orang yang benar-benar beribadah.
Orang yang hanya memandang ibadah sebagai kewajiban, kata dia, cenderung menjalankannya secara formal. Sebaliknya, orang yang beribadah dengan kesadaran spiritual akan menghayati ibadah secara lebih mendalam.
“Kalau puasa hanya dipahami sebagai kewajiban, kita akan merasa terbebani. Tetapi kalau dijalankan karena cinta kepada Allah, ibadah itu justru menjadi ringan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menjaga perilaku, ucapan, dan pikiran. “Puasa bukan hanya soal fiqih, tetapi juga spiritualitas. Bukan hanya lahir, tetapi juga batin,” kata Nasaruddin.
Sebelum memulai ceramahnya, Nasaruddin mengajak jamaah membaca surah Al-Fatihah untuk Try Sutrisno, salah satu tokoh yang berjasa dalam pembangunan Masjid Al-Akbar Surabaya, yang wafat pada 2 Maret 2026.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Agama juga menyerahkan bantuan sosial keagamaan senilai Rp100 juta kepada Badan Pelaksana Pengelola Masjid Al-Akbar Surabaya.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi



