Saturday, March 7, 2026
spot_img
HomePendidikanLTN PWNU Jatim: Ramadhan Momentum Menahan Diri dari Konten Negatif!

LTN PWNU Jatim: Ramadhan Momentum Menahan Diri dari Konten Negatif!

Ketua LTN PWNU Jatim Helmy M Noor (kanan) saat menjadi pemateri dalam kajian Ngaji Kentong Ramadhan di Kantor PWNU Jawa Timur, Surabaya, Jumat (6/3/2026) petang.(foto: PWNU Jatim untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur mengingatkan bahwa puasa Ramadhan tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari menyebarkan konten negatif di ruang digital.

Pesan itu disampaikan Wakil Ketua LTN PWNU Jatim, HA Karomi, dalam kajian Ngaji Kentong Ramadhan di Kantor PWNU Jawa Timur, Surabaya, Jumat (6/3/2026) petang.

Menurut Karomi, dalam pandangan ulama Nusantara KH Sholeh Darat, puasa memiliki dimensi spiritual yang lebih luas daripada sekadar menahan makan dan minum.

“Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi juga menahan hawa nafsu serta menjaga perilaku,” kata Karomi.

Ia menjelaskan, KH Sholeh Darat membagi puasa ke dalam tiga tingkatan. Pertama, puasa orang awam yang sekadar menahan lapar dan dahaga. Kedua, puasa khusus yang disertai dengan menjaga diri dari perbuatan buruk seperti ghibah dan dusta. Ketiga, puasa khususil khusus, yaitu puasa orang-orang yang hatinya senantiasa terhubung dengan Allah.

Menurut Karomi, pandangan tersebut relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini, terutama di tengah perkembangan media sosial.

“Puasa hendaknya juga dimaknai sebagai upaya menjaga lisan dan perilaku, termasuk ketika bermedia sosial agar tidak menyebarkan kebencian, hoaks, maupun provokasi,” ujarnya.

Karomi menambahkan, salah satu karya penting KH Sholeh Darat adalah Tafsir Faidurrahman yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Pegon. Karya yang telah berusia lebih dari satu abad itu menunjukkan upaya ulama Nusantara dalam mendekatkan ajaran Islam kepada masyarakat melalui pendekatan budaya lokal.

“Beliau memperkenalkan ajaran Islam dengan bahasa yang dekat dengan masyarakat agar lebih mudah dipahami. Bahkan, RA Kartini juga tercatat sebagai murid beliau,” kata Karomi.

Dalam pengantarnya, Ketua LTN PWNU Jatim Helmy M Noor mengatakan, salah satu ikhtiar lembaganya adalah menghidupkan kembali khazanah kitab klasik agar tetap relevan dengan kehidupan generasi masa kini.

“Kajian turats penting dilakukan agar generasi sekarang tetap terhubung dengan tradisi keilmuan ulama terdahulu, sekaligus memahami nilai-nilai Islam secara kontekstual,” ujar Helmy.

Sementara itu, Wakil Ketua Lembaga Ta’mir Masjid (LTM) PWNU Jatim Abu Zarrin Al-Hamidy menekankan pentingnya menghidupkan fungsi sosial masjid.

Menurut dia, masjid tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga ruang sosial yang memperkuat silaturahmi dan kepedulian antarwarga.

Ia menilai pengelola masjid memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga aktivitas masjid, termasuk keterbatasan pengurus maupun faktor keamanan.

Meski demikian, Zarrin optimistis para takmir masjid akan menyambut baik berbagai upaya yang mendorong masjid lebih terbuka bagi masyarakat, termasuk membantu para pemudik yang membutuhkan tempat beristirahat selama perjalanan.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular