Saturday, March 21, 2026
spot_img
HomeSosial BudayaKhutbah Idul Fitri di Masjid Al-Akbar: Jangan Jadi Muslim “Pembuat Masalah”

Khutbah Idul Fitri di Masjid Al-Akbar: Jangan Jadi Muslim “Pembuat Masalah”

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memberikan sambutan dalam momen Sholat Id di Masjid Al Akbar Surabaya, Sabtu (21/3/2026). (foto: BPP MAS untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pesan kuat disampaikan dalam khutbah Idulfitri di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Sabtu (21/3/2026). Imam Besar masjid tersebut, Prof. Dr. H.M. Ali Aziz, M.Ag., mengingatkan umat Islam agar tidak menjadi “pembuat masalah”, melainkan hadir sebagai pemberi solusi di tengah masyarakat.

Shalat Idulfitri di masjid terbesar di Jawa Timur itu diikuti sekitar 50.000 jamaah. Sejumlah pejabat turut hadir, antara lain Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak.

Dalam khutbah bertema “Muslim Berdampak, Muslim Problem Solver”, Ali Aziz menegaskan bahwa ibadah Ramadhan seharusnya membentuk pribadi yang tidak hanya saleh secara individual, tetapi juga bermanfaat secara sosial.

Imam Besar Masjid Al-Akbar Surabaya Prof. Dr. H.M. Ali Aziz, M.Ag saat menyampaikan khutbah Sholat Id, Sabtu (21/3/2026). (foto: BPP MAS untuk Cakrawarta)

“Ramadhan melatih kita menahan hawa nafsu dan memperbanyak sedekah. Artinya, kita dididik menjadi muslim yang memberi kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut dia, ajaran Islam menempatkan manusia terbaik sebagai yang paling bermanfaat bagi sesama (anfa’uhum linnas). Dalam Al Quran, konsep tersebut sejalan dengan rahmatan lil ‘alamin, yakni kehadiran umat Islam sebagai pembawa kebaikan dan solusi bagi persoalan kemanusiaan.

Sebaliknya, ia mengingatkan adanya kecenderungan sebagian individu yang justru menjadi sumber masalah di tengah masyarakat. “Itulah yang disebut sebagai problem maker, yang kehadirannya tidak memberi manfaat, bahkan menimbulkan persoalan,” katanya.

Ali Aziz menekankan, semangat Ramadhan seharusnya melahirkan pribadi-pribadi yang berdampak luas, baik melalui ilmu, karya, maupun kontribusi sosial. Ia mencontohkan tokoh-tokoh besar seperti Al-Khawarizmi dan Ibnu Sina dalam bidang ilmu pengetahuan, serta KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari dalam bidang sosial-keagamaan di Indonesia.

Ia juga menyinggung capaian ilmuwan muda asal Madura, Achmad Syaifuddin, yang masuk dalam daftar dua persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia. Temuan teknologi filtrasi air yang dikembangkannya dinilai memberi manfaat besar bagi masyarakat.

“Dampak itu tidak harus selalu dalam bentuk penemuan besar. Bisa melalui tenaga, pemikiran, maupun ilmu yang kita miliki,” ujarnya.

Puluhan ribu jamaah memenuhi Masjid Al Akbar Surabaya dalam momen Sholat Id, Sabtu (21/3/2026). (foto: BPP MAS untuk Cakrawarta)

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa setiap peran memiliki bentuk kontribusi masing-masing. Bagi pemimpin dan legislator, kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat merupakan wujud manfaat yang nyata.

“Setiap posisi memberi ruang untuk berbuat kebaikan. Yang terpenting adalah bagaimana kita tidak menjadi bagian dari masalah, melainkan bagian dari solusi,” katanya.

Sementara itu, rangkaian perayaan Idulfitri di Masjid Al-Akbar juga diwarnai kegiatan Gema Takbir pada malam sebelumnya. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadiri kegiatan tersebut yang menampilkan pertunjukan rampak bedug dari berbagai unsur, termasuk TNI/Polri, wartawan, dan komunitas sosial.

Menjelang Idulfitri, Khofifah juga melakukan silaturahmi ke sejumlah ulama di Jawa Timur, di antaranya KH Miftachul Akhyar di Surabaya dan KH Anwar Manshur di Kediri.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular