Friday, March 27, 2026
spot_img
HomeSosial BudayaKhutbah di Masjid IKN, KH Mahrus: Ketakwaan Harus Hidup, Bukan Seremonial

Khutbah di Masjid IKN, KH Mahrus: Ketakwaan Harus Hidup, Bukan Seremonial

Suasana Sholat Jumat di Masjid Ibu Kota Nusantara, Jumat (27/3/2026). (foto: Mukani)

IKN, CAKRAWARTA.com – Pesan tentang pentingnya menjaga ruh ketakwaan selepas Ramadhan mengemuka dalam khutbah Jumat pertama bulan Syawal 1447 Hijriah di Masjid Negara, Ibu Kota Nusantara (IKN), Jumat (27/3/2026).

Khutbah disampaikan oleh Dr. KH. Moh. Mahrus, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. Dalam khutbahnya, ia menekankan bahwa ketakwaan tidak boleh berhenti sebagai praktik seremonial yang hanya tampak selama Ramadhan.

“Ketakwaan harus hidup dalam keseharian, bukan sekadar seremonial yang hadir sesaat lalu hilang,” ujarnya.

Mengangkat tema “Membumikan Nilai Ketakwaan dalam Keseharian”, Mahrus mengingatkan bahwa ibadah puasa merupakan sarana pembentukan karakter, bukan sekadar ritual tahunan. Nilai-nilai yang dilatih selama Ramadhan, seperti kejujuran, kedisiplinan, dan pengendalian diri, menurut dia, harus terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari.

Rais Syuriah PCNU Kota Samarinda itu menjelaskan bahwa puasa mendidik manusia untuk patuh terhadap aturan, baik dalam aspek ibadah maupun sosial. Konsistensi menjadi ukuran utama ketakwaan.

“Ketakwaan justru diuji setelah Ramadhan berakhir, ketika tidak lagi ada suasana yang secara kolektif mengingatkan,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya hidup hemat dan sederhana. Puasa, kata dia, melatih kemampuan mengendalikan hawa nafsu sehingga seseorang mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta menghindari perilaku boros dan berlebih-lebihan.

Selain itu, Mahrus menekankan pentingnya mencari rezeki yang halal dan memperbanyak amal kebajikan. Nilai ketakwaan, menurut dia, tidak hanya berdampak pada kehidupan pribadi, tetapi juga membawa kemaslahatan bagi masyarakat dan lingkungan.

Dalam konteks pembangunan nasional, ia mengaitkan pesan tersebut dengan kehadiran IKN sebagai “kota dunia untuk semua”. Ia berharap pembangunan tidak semata berorientasi pada kemajuan fisik, tetapi juga pada nilai keberlanjutan dan kemanusiaan.

“Ketakwaan harus menjadi fondasi dalam membangun peradaban. IKN diharapkan menjadi simbol kehidupan yang harmonis, berkeadaban, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Khutbah Jumat ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Ramadhan tidak berhenti pada satu bulan, melainkan harus terus hidup dan mewarnai kehidupan umat dalam jangka panjang, termasuk dalam menghadapi tantangan pembangunan masa depan bangsa.(*)

Kontributor: Mukani

Editor: Abdel Rafi 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular