Tetirah Gayatri, Proyek Sunyi di Lereng Bromo yang Kini Menghidupkan Kembali Filosofi Majapahit

Pemandangan salah satu sudut bagian depan dari Tetirah Gayatri yang didirikan Yuliati Umrah dan tim ALIT di lereng Pegunungan Puspo, Pasuruan, Jawa Timur. (foto: ALIT untuk Cakrawarta)

PASURUAN, CAKRAWARTA.com – Kabut tipis turun perlahan di lereng pegunungan Puspo, Pasuruan, Jawa Timur. Di tengah udara dingin menuju jalur Bromo dan kawasan suku Tengger, berdiri sebuah kompleks kayu dan bambu bernama Tetirah Gayatri. Dari luar, tempat itu tampak seperti perkampungan Jawa kuno yang tersembunyi di tengah hutan.

Namun di balik kesunyiannya, Tetirah Gayatri menyimpan sebuah gagasan besar yaitu menghidupkan kembali filosofi Majapahit melalui pendidikan lingkungan, budaya, dan kehidupan berbasis alam.

Kompleks itu digagas Yuliati Umrah, alumnus FISIP Universitas Airlangga (UNAIR), yang sejak lima tahun terakhir memilih meninggalkan hiruk-pikuk kota dan mengabdikan hidupnya bagi konservasi lingkungan serta pendidikan anak-anak desa.

“Tempat ini kami bangun agar anak-anak, perempuan, dan masyarakat bisa kembali mengenali akar budayanya sekaligus belajar mencintai alam,” kata Yuliati pendiri Yayasan ALIT Indonesia pada media ini, Minggu (10/5/2026).

Tetirah Gayatri mulai dibangun pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020. Saat itu, Yuliati bersama sejumlah aktivis ALIT Indonesia mencari ruang baru untuk pendidikan alternatif berbasis alam dan budaya.

Pilihan mereka jatuh pada lahan hampir dua hektar di Desa Palangsari, Kecamatan Puspo, sebuah kawasan pegunungan yang saat pandemi dikenal memiliki angka penularan Covid-19 sangat rendah.

Momen religius saat pendirian awal Tetirah Gayatri. Tampak Yuliati Umrah (keempat dari kanan) dengan pakaian adat khas menyampaikan sambutan. (foto: ALIT untuk Cakrawarta)

Warga desa hidup sederhana dan dekat dengan alam. Mereka mengonsumsi sayuran kebun sendiri, meminum air dari sumber pegunungan, serta masih memanfaatkan tanaman herbal sebagai obat tradisional.

“Di sini saya melihat hubungan manusia dan alam masih terjaga,” ujar Yuliati.

Namun, keputusan menetap di Palangsari juga bermula dari pengalaman yang sulit dijelaskan secara logika.

Beberapa minggu sebelum pindah, Yuliati dan tim sempat tinggal di vila desa tetangga. Suatu hari, warga Palangsari datang dan bertanya tentang pesta gamelan yang disebut berlangsung semalaman.

Padahal, menurut Yuliati, tak pernah ada kegiatan apa pun.

“Gamelan kami bahkan sudah lama tidak dimainkan. Tapi warga mengaku mendengar suara gamelan sangat jelas dari arah tempat kami tinggal,” katanya.

Tak lama kemudian, warga justru menawarkan agar mereka pindah ke Palangsari. Dari situlah mereka menemukan lahan kebun terbengkalai di lereng hutan menuju Tosari dan kawasan Tengger.

Lahan itu lalu diubah secara gotong royong menjadi Tetirah Gayatri.

Nama “Tetirah” berarti beristirahat lahir dan batin, sedangkan “Gayatri” diambil dari nama Rajapatni Gayatri, tokoh perempuan penting Majapahit yang dikenal sebagai penjaga nilai kebijaksanaan dan persatuan Nusantara.

Seluruh kawasan dirancang menggunakan filosofi pembangunan Jawa kuno dan nilai Hasta Brata, delapan laku kepemimpinan dalam budaya Nusantara.

Salah satu sudut di Tetirah Gayatri yang khas dengan budaya Jawa kuno. (foto: ALIT untuk Cakrawarta)

Bangunan-bangunannya memiliki nama dan makna tersendiri.

Ada Pendopo Gajah Mada sebagai ruang kebudayaan dan pertemuan masyarakat, Gedung Wasis sebagai pusat literasi dan pendidikan, Gedung Wicaksana untuk ruang musyawarah dan pengambilan keputusan, hingga Kebun WARAS Ganesha yang berisi tanaman obat dan rempah tradisional.

Bahkan paviliun bambu untuk tamu dibangun menggunakan material ramah lingkungan dari rumah-rumah tua di Wonogiri, Jember, dan Sumenep Madura yang dibongkar lalu dirakit ulang di kawasan tersebut.

“Semua bangunan di sini punya filosofi tentang manusia, alam, dan kehidupan bersama,” ujar Yuliati.

Selain menjadi ruang budaya, Tetirah Gayatri juga dikembangkan sebagai pusat pertanian organik berbasis permakultur dan multi-crop. Beragam tanaman endemik Bromo dibudidayakan di kawasan itu bersama warga sekitar.

Sebagian hasil pengembangbiakan tanaman kini menjadi sumber ekonomi baru masyarakat desa.

Yuliati Umrah dan tim ALIT memetik hasil tanaman budidaya yang dikembangkan di Tetirah Gayatri. (foto: ALIT untuk Cakrawarta)

Selama lima tahun pertama, aktivitas Tetirah Gayatri lebih banyak difokuskan untuk internal lembaga dan warga binaan. Namun belakangan, sejumlah sekolah dan instansi pemerintah mulai menjadikan tempat itu sebagai lokasi belajar rutin.

Anak-anak datang untuk belajar menyemai benih, berkebun, memainkan gamelan, memasak hasil kebun, membatik, hingga memainkan permainan tradisional.

“Sekolah-sekolah sekarang mulai sadar bahwa pendidikan lingkungan tidak cukup diajarkan lewat buku,” kata Yuliati.

Menurut dia, anak-anak perlu mengalami langsung hubungan dengan alam agar tumbuh kesadaran ekologis dan kecintaan pada budaya leluhur.

Kini, Tetirah Gayatri kerap didatangi anak-anak sekolah untuk belajar mengenai budaya, alam dan lingkungan. (foto: ALIT untuk Cakrawarta)

Di tengah modernisasi yang semakin menjauhkan generasi muda dari akar tradisi, Tetirah Gayatri hadir dengan cara yang sunyi, perlahan, tetapi konsisten.

Tak ada papan reklame besar. Tak ada bangunan beton menjulang. Yang terdengar justru suara gamelan, anak-anak bercanda di kebun, serta desir angin pegunungan yang mengalir di sela bambu dan pepohonan.

Dari lereng Bromo itu, sebuah proyek kecil tentang masa depan sedang dibangun dan tentunya, dengan cara lama yang nyaris terlupakan dari seorang perempun tangguh dengan gagasan bernas, Yuliati Umrah.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi