Sunday, March 1, 2026
spot_img
HomePendidikanKetua Lesbumi PWNU Jatim: Medsos Jangan Jadi Panggung “Njeplak”, Ramadhan Momentum Menata...

Ketua Lesbumi PWNU Jatim: Medsos Jangan Jadi Panggung “Njeplak”, Ramadhan Momentum Menata Literasi

Ketua Lesbumi PWNU Jatim Riadi Ngasiran kegiatan Ngaji Kentong Ramadhan 1447 Hijriah PWNU Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (28/2/2026) malam. (foto: PWNU Jatim untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jawa Timur, Riadi Ngasiran, menyoroti maraknya percakapan di media sosial yang dinilainya kerap minim literasi dan kompetensi. Ia menyebut, tidak sedikit akun yang berbicara isu publik tanpa dasar data dan pemahaman memadai.

“Persoalan kita sekarang, tidak semua yang bergerak di media sosial itu melek media. Derajat kebenarannya jadi meragukan. Kalau istilah orang Surabaya, masih asal njeplak alias ngomong politik tanpa paham politik, tidak ekspert, hanya clomet atau celoteh,” ujar Riadi dalam kegiatan Ngaji Kentong Ramadhan 1447 Hijriah PWNU Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (28/2/2026) malam.

Dalam forum bertema Literasi dan Kreativitas, Kontemplasi di Arus Deras Informasi itu, Riadi mengingatkan bahwa gaya komunikasi tanpa kompetensi kerap berubah menjadi olok-olok, bukan kritik yang mencerahkan. Menurut dia, kritik yang sehat harus ditopang data, nalar, dan etika.

Ia mengajak masyarakat memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai momentum jeda dari derasnya arus informasi digital. “Kita diberi kemampuan berpikir. Gunakan Ramadhan untuk kontemplasi. Teladani kiai-kiai terdahulu yang gemar menulis. Jangan hanya mengonsumsi gawai tanpa menghasilkan karya kreatif,” katanya.

Riadi mencontohkan, ruang publik seperti Taman Bungkul di Surabaya dapat menjadi sumber inspirasi tulisan dari berbagai sudut pandang, mulai dari aspek ruang kota hingga dinamika kulinernya. Kreativitas, menurut dia, bisa dimulai dari hal sederhana, seperti membuat catatan harian atau mengikuti diskusi di ruang-ruang komunitas.

Pandangan senada disampaikan Afif Hidayatul MH, aktivis Gerakan Literasi Lesbumi PWNU Jawa Timur. Ia menilai generasi Z dan Alpha bukan tidak gemar membaca, melainkan lebih terbiasa mengakses konten singkat dan visual.

“Anak-anak Gen Z atau Gen Alpha itu bukan malas baca, tetapi bacaan mereka lebih banyak konten pendek. Karena itu perlu akses bacaan yang sesuai minat mereka, dikemas dengan gambar dan bahasa yang dekat dengan keseharian,” ujar Afif.

Ia juga mengingatkan risiko konsumsi informasi tanpa verifikasi, yang dapat memudahkan publik terjebak hoaks. Afif mencontohkan beredarnya konten digital yang mengatasnamakan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani dan belakangan diketahui merupakan hasil manipulasi artificial intelligence atau akal imitasi (AI).

“Ini tantangan kita. Jangan menelan mentah-mentah bacaan digital. Perlu cek dan ricek. Bacaan fisik yang memiliki basis data dan referensi jelas tetap penting,” katanya.

Dalam rangkaian Ngaji Kentong Ramadhan sebelumnya, Kamis (26/2/2026), Ketua Lembaga Wakaf dan Pertanahan PWNU Jawa Timur KH Shodiqun Karim dan pengurus Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum PWNU Jawa Timur Jamil juga menekankan pentingnya bukti tertulis dalam konteks hukum. Bukti tertulis, menurut mereka, tetap menjadi dasar paling kuat dalam penyelesaian perkara.

Rangkaian diskusi tersebut menjadi bagian dari ikhtiar PWNU Jawa Timur mendorong budaya literasi, terutama di tengah derasnya arus informasi digital yang kian sulit dibendung.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular