
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Muslim, mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memperkuat keimanan dan pemahaman moderasi beragama di tengah kehidupan sosial yang semakin beragam. Penguatan tersebut dinilai penting untuk menjaga harmoni sosial di lingkungan perkotaan yang multikultural.
Ajakan itu disampaikan Muslim dalam kegiatan Ramadhan Cendekia yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur di Surabaya, Selasa (24/2/2026).
Menurut Muslim, keberagaman merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Perbedaan latar belakang, suku, bahasa, dan budaya merupakan realitas sosial yang perlu disikapi dengan pemahaman dan sikap saling menghormati.
“Manusia diciptakan dalam keberagaman. Perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling mengenal dan membangun kehidupan bersama secara harmonis,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keimanan dan moderasi beragama harus berjalan seiring. Keyakinan yang kuat, menurut dia, tidak berarti menutup diri dari perbedaan, melainkan mampu hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat yang majemuk.
Muslim juga mengingatkan pentingnya pemahaman agama yang utuh, tidak hanya sebatas praktik ritual, tetapi juga mencakup pemaknaan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, termasuk sikap toleransi dan penghormatan terhadap sesama.
“Moderasi beragama adalah sikap yang sejalan dengan nilai-nilai ajaran agama. Keyakinan dijalankan dengan teguh, tetapi tetap menghargai perbedaan sebagai bagian dari kehidupan,” katanya.
Ia menambahkan, generasi muda perlu dibekali literasi keagamaan yang memadai agar mampu menghadapi berbagai arus pemikiran dan perubahan sosial di era modern. Peran keluarga, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat menjadi penting dalam membentuk pemahaman keagamaan yang sehat dan konstruktif.
Dalam kesempatan yang sama, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur juga menyoroti kontribusi organisasi dalam bidang pemberdayaan masyarakat, termasuk sektor pertanian. Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian PWNU Jawa Timur, Hagus Tarno, mengatakan sejumlah cabang telah mengembangkan inovasi produk pertanian, seperti benih hibrida, pupuk organik, dan produk pangan olahan.
“Inovasi tersebut diharapkan dapat diperkuat melalui dukungan organisasi, sehingga memberi manfaat bagi masyarakat dan mendukung ketahanan pangan,” ujarnya.
Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa penguatan nilai-nilai keagamaan dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan sebagai bagian dari upaya membangun kehidupan sosial yang harmonis dan berkelanjutan di tengah keberagaman.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi



