Monday, July 15, 2024
spot_img
HomeUncategorizedKasus Pelajar Gertak Polisi: Siapa Yang Jahat?

Kasus Pelajar Gertak Polisi: Siapa Yang Jahat?

496146_620

Kasihan juga si SD, pelajar kelas 3 SMA dari Medan ini. Ia melakukan pelanggaran lalu lintas, lalu memaki-maki polwan (polisi wanita) yang menghentikan laju kendaraannya.

Ia juga ‘menjual’ nama seorang jenderal yang diaku sebagai ayahnya. Malangnya, ada yang merekam aksi itu dan mengunggahnya di media sosial. Belakangan, diketahui Si Jenderal bukan ayah kandung. Hanya kerabat.

SD di-bully netizen dan media. Lalu di tengah situasi itu ayah kandungnya meninggal dunia. Si Jenderal pun harus meminta maaf atas ulah kerabat kecilnya. Semua merasa malu dan dipermalukan.

Seperti banyak orang Indonesia yang lain, sebenarnya dia terkena #IlusiSuperhero. Merasa punya dewa pelindung. Aksi SD ini hanya satu kasus kecil. Sepele. Narasi-narasi yang lebih besar sangat banyak.

Relasi politisi-jenderal, pengusaha-jenderal, intelektual-jenderal, preman-jenderal atau gabungan-gabungannya dan banyak contoh lain. Jauh lebih membahayakan dan menyedihkan ketika seorang cukong ‘nakal’ merasa dilindungi seorang pejabat, politisi bahkan jenderal.

Hari ini seorang ayah telah jadi korban. Sementara setiap hari, rakyat selalu jadi korban dari relasi-relasi hitam tadi. Sayang, kita terjebak pada #microtrends.

Itu kultur yang dibangun sejak lama. Kebetulan di Medan nampak sangat jelas. Tapi di sekeliling kita pun banyak. Misal, pemasangan aksesoris atau atribut yang menunjukkan sebuah kendaraan dan penggunanya adalah keluarga besar TNI/POLRI.

Secara psikis sebenarnya itu adalah suatu upaya menghindar dari jeratan hukum, kebal hukum ataupun berada di atas hukum dengan menunjukkan simbol-simbol yang dianggap bisa jadi juru selamatnya.

Sederhananya, ketika menampilkan itu sebenarnya kita sedang menunjukkan kecenderungan untuk melanggar hukum dan berharap terbebas dari konsekuensi atau sanksi-nya.

Praktik itu ditumbuhsuburkan dalam interaksi di keluarga, pertemanan dan komunitas. Sementara di sisi lain, ‘jiwa korsa’ yang diperluas, menjadi pupuk penyuburnya.

Dan sekali lagi kasus SD ini menunjukkan betapa parahnya etika jurnalistik dan interaksi di media sosial. Jurnalis dan netizen telah membunuh ayah SD dan main hakim sendiri menghabisi masa depan remaja putri itu. Tidak ada inisial, apalagi blur wajah.

Kita jahat. Jahat sekali!

KHAIRUL FAHMI

Pemerhati Sosial dan Isu Keamanan pada Institute For Security And Strategic Studies (ISESS)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular