Thursday, March 19, 2026
spot_img
HomeSosokMengenang Ali Larijani, Filsuf di Tengah Dentum Perang

Mengenang Ali Larijani, Filsuf di Tengah Dentum Perang

Ali Larijani. (foto: istimewa)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Di sebuah malam yang koyak oleh suara ledakan di Teheran, sejarah Iran kembali kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruhnya. Ali Larijani yang seorang politikus juga negarawan, sekaligus filsuf, gugur dalam serangan udara Israel dan Amerika Serikat pada Selasa (17/3/2026). Ia wafat pada usia 67 tahun, di puncak pengaruhnya sebagai figur yang oleh banyak pengamat disebut sebagai “pemimpin de facto” Iran di tengah perang yang berkecamuk.

Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang pejabat tinggi. Ia adalah bab yang ditutup dari kisah panjang seorang intelektual yang menjelma menjadi arsitek kekuasaan.

Dari Hafiz hingga Filsuf Kant

Ali Larijani bukanlah tipikal politisi yang lahir dari lorong-lorong kekuasaan semata. Ia datang dari dunia yang sunyi yaitu dunia teks, tafsir, dan pemikiran.

Lahir di Najaf, Irak, 3 Juni 1958, dalam keluarga religius berpengaruh, Larijani menghafal Al-Qur’an sejak muda. Sebuah fondasi spiritual yang kemudian berjalan beriringan dengan pendidikan modernnya. Ia menempuh studi ilmu komputer dan matematika, sebelum berbelok ke filsafat Barat dan meraih gelar doktor dengan fokus pada pemikiran Immanuel Kant.

Di ruang akademik, ia menulis tentang rasionalitas, metafisika, dan sintesis apriori yakni tema-tema berat dalam tradisi Kantian. Karya-karyanya, seperti Metode Matematika dalam Filsafat Kant dan Intuisi serta Penilaian A Priori Sintetis, memperlihatkan upayanya menjembatani dunia eksakta dan spekulasi filosofis.

Namun, seperti banyak intelektual dalam sejarah Timur Tengah, jalan sunyi itu tidak lama. Revolusi, kekuasaan, dan konflik memanggilnya.

Meniti Tangga Kekuasaan

Selepas Revolusi Iran, Larijani masuk ke dalam lingkar inti negara: bergabung dengan Garda Revolusi (IRGC), memimpin lembaga penyiaran nasional, hingga menjadi Menteri Kebudayaan.

Puncaknya, ia menjabat Ketua Parlemen Iran selama lebih dari satu dekade (2008-2020) dan dua kali menjadi Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, posisi yang membuatnya berada di jantung keputusan strategis, termasuk program nuklir Iran.

Ia dikenal sebagai “pragmatis konservatif” yaitu seorang yang mampu berbicara dengan Barat dalam perundingan nuklir, tetapi tetap teguh menjaga garis ideologis republik Islam. Dalam negosiasi, ia lentur. Dalam kekuasaan, ia tegas.

Bahkan, setelah wafatnya Ali Khamenei pada awal 2026, Larijani disebut-sebut menjadi figur paling berpengaruh di Iran, menjembatani militer, ulama, dan birokrasi dalam satu simpul kekuasaan.

Di Antara Rasio dan Kekerasan

Namun hidup Larijani bukan hanya tentang filsafat dan diplomasi. Ia juga terikat pada wajah keras negara.

Dalam gelombang protes besar Iran 2025-2026, ia dituduh menjadi salah satu arsitek penindasan, dengan ribuan korban jiwa akibat tindakan aparat.

Di sinilah paradoks itu mengeras dimana seorang pembaca Kant, filsuf moralitas dan rasio justru harus berdiri di tengah keputusan-keputusan yang menjauh dari ideal rasionalitas universal.

Ia adalah gambaran klasik seorang intelektual yang terseret arus realpolitik yaitu ketika gagasan bertemu kekuasaan, namun kekuasaan menuntut kompromi.

Kematian di Ujung Konflik

Kematian Larijani datang cepat dan brutal. Ia tewas dalam serangan udara yang diklaim sebagai bagian dari operasi militer Amerika Serikat dan Israel dalam konflik yang lebih luas dengan Iran.

Serangan itu juga menewaskan anggota keluarganya. Dunia menyaksikan bagaimana seorang “kingmaker” atau pengatur keseimbangan kekuasaan, justru lenyap dalam hitungan detik.

Para analis menyebut kematiannya sebagai pukulan besar bagi struktur politik Iran, bahkan disebut sebagai kehilangan terbesar sejak kematian tokoh militer Qassem Soleimani pada 2020.

Warisan Ali Larijani

Apa yang tersisa dari Ali Larijani? Bukan hanya jabatan panjang atau keputusan politik. Tetapi juga jejak seorang manusia yang hidup di dua dunia: dunia ide dan dunia kuasa.

Ia menulis tentang rasio, tetapi hidup dalam dunia yang sering menolak rasionalitas. Ia memahami filsafat Barat, tetapi berdiri kokoh dalam sistem politik Timur yang kompleks.

Dalam dirinya, kita melihat satu ironi besar yaitu pengetahuan tidak selalu menjinakkan kekuasaan tapi kekuasaan  sering kali mengubah arah pengetahuan.

Kini, Larijani telah pergi. Yang tertinggal adalah pertanyaan sunyi, sebagaimana sering diajukan oleh Kant sendiri yaitu “Apakah manusia benar-benar mampu bertindak menurut akal budi, ketika sejarah terus menuntut keputusan di luar nalar?”. Entahlah. (*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular