
JAKARTA, CAKRAWARTA.com –Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026, dinamika internal organisasi mulai menghangat. Sejumlah pengurus wilayah dan cabang menyebut nama Prof. Dr. KH. Asrorun Ni’am Sholeh sebagai salah satu figur yang dipertimbangkan dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2027-2032.
Di kalangan kader muda, kiai berusia 48 tahun itu dinilai memiliki rekam jejak yang relatif lengkap, baik dalam struktur organisasi maupun di ruang publik yang lebih luas. Selain itu, ia kerap dipersepsikan sebagai figur yang tidak berada dalam pusaran konflik internal.
Saat ini, Asrorun Ni’am menjabat sebagai Katib Syuriyah PBNU periode 2022–2027. Ia juga pernah menduduki posisi yang sama pada periode sebelumnya, 2015–2021. Dalam Muktamar NU di Lampung tahun 2021, ia dipercaya menjadi Sekretaris Steering Committee yang mengawal jalannya persidangan hingga selesai.
Asrorun Ni’am lahir di Nganjuk, Jawa Timur, pada 31 Mei 1976. Ia merupakan putra dari KH Sholeh Sholihuddin, pengasuh Pesantren Hayya Alal Falah. Latar belakang pendidikannya mencerminkan perpaduan tradisi pesantren dan akademik modern.
Ia menempuh pendidikan di MAPK Jember (lulus 1993), melanjutkan studi sarjana di IAIA Jakarta (1997), serta meraih gelar Lc dari LIPIA Jakarta (2001). Pendidikan magister dan doktoralnya diselesaikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2002 dan 2008.
Pada Februari 2023, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Fikih di UIN Jakarta. Dalam pidato pengukuhannya, ia mengangkat tema transformasi fatwa dalam perilaku dan kebijakan publik di era milenial, sebuah gagasan yang dinilai relevan dengan tantangan zaman.
Selain berkiprah di dunia akademik, ia juga mengasuh Al-Nahdlah Islamic Boarding School di Depok sejak 2005.
Pengalaman di Ruang Publik
Di luar struktur NU, Asrorun Ni’am memiliki pengalaman dalam berbagai lembaga negara. Ia pernah menjadi Asisten Staf Khusus Wakil Presiden RI (2003-2004), Tenaga Ahli Komisi X DPR RI (2004-2010), serta Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 2010-2014.
Pada level internasional, ia tercatat sebagai Research Fellow di National University of Singapore pada 2010, serta mengikuti program kepemimpinan di Johns Hopkins University, Amerika Serikat, pada 2015.
Terbaru, pada Agustus 2025, ia terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Alumni IPNU periode 2025-2030 melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi dalam Musyawarah Nasional di Bondowoso, Jawa Timur.
Sejumlah pengurus daerah menyebutkan, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi munculnya dukungan terhadap Asrorun Ni’am. Di antaranya adalah latar belakangnya yang tidak terafiliasi secara langsung dengan partai politik, pengalaman lintas sektor, serta pandangan keagamaan yang dinilai adaptif terhadap perkembangan zaman.
“NU membutuhkan figur yang mampu merawat tradisi sekaligus merespons perubahan sosial,” ujar salah satu pengurus cabang di Jawa Timur.
Meski demikian, dinamika menuju Muktamar masih sangat terbuka. Sejumlah nama lain diperkirakan juga akan mengemuka seiring proses konsolidasi organisasi di tingkat wilayah dan cabang.
Di sisi lain, persiapan teknis Muktamar ke-35 masih menjadi perhatian. Hingga akhir April 2026, surat keputusan panitia pelaksana belum diterbitkan. Selain itu, sejumlah kepengurusan wilayah dan cabang juga dilaporkan masih dalam proses penuntasan administrasi.
Agenda penting seperti Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU yang menjadi prasyarat Muktamar juga belum diumumkan jadwal pelaksanaannya.
Pengurus Besar NU sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait bursa calon Ketua Umum. Sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi, pemilihan Ketua Umum PBNU merupakan kewenangan Muktamar dengan peserta yang memiliki hak suara dari pengurus wilayah dan cabang se-Indonesia.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








