Thursday, March 19, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomEkoprofetologi (Di) Penghujung Ramadan

Ekoprofetologi (Di) Penghujung Ramadan

(foto: diunggah dari kanal Youtube FILM KISAH NABI MUHAMMAD DARI LAHIR
SAMPAI BELIAU WAFAT @lengkarang)

“Kenabian dalam Islam pada dasarnya adalah keyakinan bahwa orang-orang tertentu, yang dikaruniai kemampuan intelektual dan spiritual yang luar biasa, dipilih untuk menerima pengetahuan dan bimbingan ilahi, yang kemudian mereka sampaikan kepada umat manusia.” — Fazlur Rachman (1919-1988), Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (Mizan 2003)

Di ujung Ramadan, ekoprofetologi Islam dapat dibaca sebagai refleksi mendalam tentang hubungan antara tauhid, kenabian, dan tanggung jawab manusia terhadap kehidupan.

Fazlur Rahman menegaskan bahwa kenabian adalah keyakinan bahwa orang-orang tertentu, dengan kapasitas intelektual dan spiritual luar biasa, dipilih untuk menerima pengetahuan ilahi dan menyampaikannya kepada umat.

Dalam kerangka ini, profetologi bukan sekadar doktrin teologis, melainkan praksis yang menghidupkan tauhid dalam kehidupan sosial, politik, dan moral.

Rahman menunjukkan bahwa para nabi adalah agen moral dan spiritual yang diutus untuk mengingatkan manusia akan Tuhan, menegakkan keadilan, dan membimbing masyarakat menuju kehidupan yang benar.

Ketegangan antara filsafat yang mencoba menjelaskan kenabian secara rasional dan ortodoksi yang menekankan transendensi menjadi bagian dari dinamika intelektual Islam.

Namun, keduanya bertemu dalam kesadaran bahwa kenabian adalah jembatan antara manusia dan Tuhan, sebuah komunikasi yang menuntut keterlibatan moral dan spiritual.

Dalam Major Themes of the Qur’an (1982), Rahman menegaskan kesinambungan profetologi bahwa setiap nabi membawa pesan yang sama tentang tauhid dan keadilan, meski dalam konteks sejarah yang berbeda.

Dikutip Rahman berikut: para nabi “…agen moral dan spiritual yang diutus untuk menghidupkan kembali kesadaran manusia akan Tuhan, menegakkan keadilan, dan membimbing masyarakat menuju kehidupan yang benar.

Hal ini menegaskan bahwa kenabian adalah fenomena universal yang melampaui batas waktu dan tempat.

Sementara, Kahlil Gibran, melalui The Prophet (Sang Nabi), menghadirkan profetologi dalam bentuk sastra puitis.

Dalam prosa puitis agama, Gibran menulis, “Apakah aku ini harpa yang dapat disentuh oleh tangan Yang Mahakuasa, atau seruling yang dapat dihembuskan oleh napas-Nya?

Selain itu, Ia menyalurkan refleksi tentang cinta, kebebasan, kerja, hukum, persahabatan, hingga kematian dengan bahasa yang sederhana namun penuh kedalaman.

Gibran menekankan bahwa cinta membawa kebahagiaan sekaligus penderitaan, kebebasan sejati adalah kesadaran akan tanggung jawab, dan kematian bukan akhir melainkan pintu menuju kehidupan lain.

Dengan prosa liriknya, ia menempatkan kenabian sebagai simbol universal yang melintasi batas agama dan budaya.

Lagi, di ujung Ramadan ini, ekoprofetologi Islam mengingatkan bahwa kenabian bukan hanya tentang wahyu, tetapi tentang amanah ekologis dan sosial.

Nabi adalah teladan yang menghidupkan tauhid dalam praksis kehidupan, menegakkan keadilan, dan membimbing manusia untuk menjaga bumi sebagai khalifah.

Ramadan sendiri menjadi ruang spiritual untuk menginternalisasi pesan profetik: menahan diri, memperkuat solidaritas, dan menyadari keterhubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Akhirnya, di dalam Al-Qur’an, ada tiga keutamaan Nabi Muhammad SAW yang ditegaskan melalui ayat-ayat untuk menempatkan beliau sebagai cahaya, rahmat, dan teladan.

Pertama, Surah Al-Ma’idah ayat 15 menyatakan, “Sesungguhnya telah datang kepadamu dari Allah cahaya dan Kitab yang menerangkan.

Para mufassir menafsirkan “cahaya” sebagai Nabi Muhammad SAW, yang hadir membawa Al-Qur’an untuk menuntun manusia keluar dari kegelapan menuju petunjuk Ilahi.

Kedua, Surah Al-Anbiya ayat 107 menegaskan, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”

Kehadiran Nabi bukan hanya untuk umat Islam, melainkan untuk seluruh makhluk, membawa pesan kasih sayang, perdamaian, dan keadilan universal.

Ketiga, Surah Al-Ahzab ayat 21 yang menekankan, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”

Ayat ini menegaskan bahwa Nabi adalah model ideal dalam akhlak, ibadah, dan kepemimpinan.

Ketiga ayat tersebut membentuk gambaran utuh tentang Nabi Muhammad SAW sebagai figur transenden sekaligus manusia teladan.

Sebagai nur, beliau adalah cahaya yang menuntun umat menuju kebenaran.

Sebagai rahmatan lil-‘alamin, beliau membawa pesan kasih sayang yang melintasi batas agama dan budaya.

Sebagai uswatun hasanah, beliau menjadi teladan moral dan spiritual yang harus diikuti dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi atas keutamaan ini mengingatkan bahwa Nabi bukan hanya penyampai wahyu, tetapi juga pembimbing yang menghadirkan nilai-nilai Ilahi dalam praksis sosial, politik, dan etika.

Di ujung Ramadan, kesadaran akan tiga keutamaan ini menjadi pengingat bahwa cahaya, rahmat, dan teladan Nabi adalah fondasi bagi umat Islam untuk menata kehidupan dengan penuh kasih, keadilan, dan kesetiaan kepada Tuhan.

Dengan demikian, ekoprofetologi Islam menegaskan bahwa kenabian adalah fondasi spiritual sekaligus praksis ekologis.

Ia menghubungkan manusia dengan transendensi dan mengingatkan bahwa keberanian moral serta kesadaran ekologis adalah bagian dari amanah profetik yang harus terus dihidupkan.

#coverlagu: “Rindu Rosul” adalah salah satu lagu religi paling populer dari grup musik legendaris Indonesia, Bimbo. Lagu ini pertama kali dipopulerkan pada era 1970-an dan hingga kini masih sering diperdengarkan saat perayaan hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Idul Fitri, dan bulan Ramadhan.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular