
Ini sebuah catatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026. Sebuah ajaran kehidupan. Bahwa “tidak semua suara di luar sana layak kamu dengarkan”. Karena nadanya kerap sumbang dan tidak positif. Ada yang meragukan, ada yang meremehkan, dan ada yang mencoba membuatmu berhenti. Namun sering kali, itu bukan tentang kamu. Itu tentang ketakutan mereka sendiri dalam hidupnya.
Jadi jelas, tidak semua suara di luar sana memiliki niat baik atau pemahaman yang utuh tentang perjalananmu. Ada orang yang berbicara hanya dari sudut pandangnya sendiri, tanpa benar-benar mengetahui apa yang sedang kamu bangun, perjuangkan, atau korbankan. Jika semua suara itu kamu dengarkan, kamu bisa kehilangan arah, bahkan meragukan langkahmu sendiri.
Dalam konteks pendidikan, ungkapan “tidak semua hal di luar sana layak didengarkan” sangat relevan karena siswa dan pendidik hidup di tengah arus informasi yang begitu deras. Tidak semua opini, komentar, atau tren memiliki nilai edukatif atau kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika semua hal diserap tanpa penyaring, proses belajar dapat terganggu oleh distraksi, misinformasi, bahkan tekanan sosial yang melemahkan kepercayaan diri. Karena itu, pendidikan bukan hanya soal menyerap ilmu, melainkan juga melatih kemampuan berpikir kritis untuk memilah mana yang perlu didengar, dipertimbangkan, atau justru diabaikan.
Selain itu, ungkapan ini mengajarkan pentingnya fokus dan keteguhan dalam proses belajar. Banyak siswa yang kehilangan arah karena terlalu mendengarkan keraguan, ejekan, atau standar orang lain yang tidak sejalan dengan tujuan mereka. Padahal, setiap individu memiliki ritme dan jalur belajar yang berbeda. Dalam konteks ini, pendidikan seharusnya membentuk karakter yang kuat: mampu mendengar masukan yang membangun, namun tetap teguh pada tujuan. Dengan demikian, siswa tidak mudah goyah oleh “suara-suara” yang justru menghambat perkembangan diri mereka.
Ketika ada yang meragukan atau meremehkan, itu sering kali bukan cerminan dari kapasitasmu. Hal itu lebih mencerminkan batasan cara berpikir mereka. Orang hanya bisa menilai sejauh yang mereka pahami. Jadi, ketika mereka tidak melihat potensimu, bukan berarti potensimu tidak ada. Bisa jadi mereka belum sampai pada tingkat pemahaman yang memadai.
Banyak pula yang tanpa sadar mencoba membuatmu berhenti, bukan karena mereka jahat, melainkan karena mereka takut. Takut melihat perubahan, takut tertinggal, atau takut menghadapi kenyataan bahwa orang lain berani melangkah lebih jauh dari mereka. Ketakutan ini kerap muncul dalam bentuk komentar negatif, saran yang melemahkan, atau bahkan kritik yang menjatuhkan bahkan fitnah yang begitu kejam.
Di titik itulah, kamu perlu memiliki penyaring yang kuat. Belajar membedakan mana suara yang membangun dan mana yang hanya menguras energi. Tidak semua kritik harus ditelan, dan tidak semua opini harus dijadikan pegangan. Fokuslah pada suara yang mendorongmu bertumbuh, bukan yang membuatmu ragu untuk melangkah.
Karena itu, perjalanan ini adalah tentang dirimu sendiri. Kamu yang menjalani, kamu yang merasakan, dan kamu yang bertanggung jawab atas hasilnya. Maka, tetap dengarkan dirimu, jaga keyakinanmu, dan biarkan waktu yang membuktikan. Karena sering kali, suara paling penting bukan yang paling keras, melainkan yang paling jujur dari dalam dirimu sendiri.
Suara-suara yang negatif sering kali merepresentasikan dirinya sendiri. Teruslah melangkah hingga suara-suara itu mereda dengan sendirinya. Selamat Hari Pendidikan Nasional!(*)
SYARIFUDIN YUNUS
Dosen FBS Unindra dan Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka








