
Film Operasi Pesta Copet mulai tayang di bioskop Indonesia pada 27 Agustus 2026, sekitar sebulan lalu. Film ini layak disimak, karena menggambarkan situasi kekinian dan pesannya menggelitik. Kehadirannya menarik bukan hanya karena menggabungkan komedi dan kriminal, tetapi juga karena membawa persoalan ekonomi dan ketimpangan sosial ke tengah ruang yang identik dengan hiburan, konsumsi, dan gaya hidup. Film ini mengambil latar festival musik Pestapora, bahkan proses produksinya dilakukan dengan memanfaatkan suasana festival secara langsung.
Film tidak pernah hadir dalam ruang sosial yang kosong. Ketika sebuah film hadir pada suatu waktu tertentu, cerita di layar akan berhadapan dengan realitas yang sedang berlangsung di masyarakat. Karena itu, Operasi Pesta Copet menarik dibaca bukan sekadar sebagai tontonan komedi kriminal, tetapi sebagai teks budaya yang berkelindan dengan kehidupan masyarakat urban hari ini.
Konser dan festival musik kini bukan hanya ruang untuk menikmati musik, namun juga menjadi ruang untuk mengekspresikan identitas, membangun pergaulan, mengikuti tren, membuat konten, dan mencari pengalaman yang dianggap sebagai bentuk healing. Di dalamnya bertemu musik, hiburan, konsumsi, gaya hidup, dan industri kreatif.
Ada ironis dalam film ini. Di balik gemerlap tersebut terdapat realitas yang berbeda. Kemewahan dan keterbatasan ekonomi dapat hadir berdekatan. Sebagian orang memiliki kemampuan membeli pengalaman hiburan, sementara sebagian lainnya menghadapi tekanan ekonomi yang membuat ruang yang sama dibaca sebagai peluang untuk bertahan hidup.
Dalam film, kerumunan Pestapora menjadi ruang bertemunya dua kepentingan. Penonton datang untuk menikmati musik dan suasana festival, sementara kelompok pencopet melihat keramaian sebagai kesempatan melakukan aksi. Kepadatan massa, perhatian penonton yang terpusat pada panggung, serta suasana euforia menjadi kondisi yang memungkinkan kejahatan berlangsung.
Film kemudian membawa kita pada pertanyaan yang lebih jauh, yakni siapa sebenarnya yang sedang berpesta?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar permainan kata, namun membuka persoalan tentang bagaimana ruang kota dan ruang hiburan dapat dinikmati secara berbeda oleh kelompok masyarakat yang berbeda pula.
Bagi sebagian orang, konser adalah pengalaman yang dibeli. Bagi sebagian lainnya, kerumunan konser justru merupakan ruang mencari penghasilan.
Tokoh Ijal -yang diperankan aktor muda kawakan Iqbal Ramadhan- dan kawan-kawannya berada dalam situasi tersebut. Tekanan ekonomi mendorong mereka mengambil jalan kriminal. Film tidak dengan sendirinya membenarkan tindakan mereka. Pencopetan tetap merupakan tindakan melanggar hukum. Namun, film mengajak penonton melihat bahwa kejahatan tidak selalu lahir dari ruang sosial yang kosong.
Di sinilah Operasi Pesta Copet dapat dibaca melalui gagasan dekonstruksi oposisi biner. Dalam perspektif post-strukturalism, Jacques Derrida mempertanyakan oposisi-oposisi yang sering dianggap stabil seperti benar dan salah, legal dan ilegal, pelaku dan korban, pusat dan marginal. Oposisi tersebut tidak selalu berdiri secara mutlak karena di dalamnya terdapat relasi dan hierarki yang dapat dipertanyakan.
Film ini membuka ruang untuk pertanyaan, apakah Ijal dan kawan-kawannya semata-mata pelaku kejahatan, atau sekaligus merupakan korban dari kondisi sosial yang lebih luas?
Pertanyaan tersebut bukan berarti menghapus tanggung jawab individu. Justru penting membedakan antara menjelaskan sebuah tindakan dan membenarkan tindakan tersebut. Kemiskinan dapat menjadi konteks yang membantu menjelaskan mengapa seseorang mengambil keputusan tertentu, tetapi tidak otomatis menghapus konsekuensi moral dan hukumnya.
Ada paradoks, dalam menggambarkan kehidupan masyarakat kelas bawah dan kemewahan kota modern. Kota sering dipandang sebagai ruang yang menawarkan kesempatan hidup lebih baik, tapi kemajuan kota tidak bias dinikmati sebagian besar warganya.. Kemewahan dan kemiskinan bahkan dapat hidup berdampingan dalam jarak yang sangat dekat.
Pencopetan, perilaku kriminal yang biasa dilakukan masyarakat bawah, adalah kejahatan yang mudah dilihat. Pelakunya berada di ruang publik, korbannya jelas, dan tindakannya dapat segera dikenali. Sebaliknya, penyalahgunaan kekuasaan dapat berlangsung melalui mekanisme yang lebih kompleks mulai dari jabatan, prosedur, jaringan kepentingan, atau institusi.
Mengapa kejahatan masyarakat kecil begitu mudah terlihat, sementara penyalahgunaan kekuasaan dapat bersembunyi di balik struktur dan legitimasi formal? Film menggambarkan kedua fenomena di kota. Persandingan fenomena itu, memungkinkan kita melihat bahwa persoalan kriminalitas tidak hanya berkaitan dengan individu, tetapi juga dengan relasi kuasa dan struktur sosial yang menentukan bagaimana sebuah tindakan dikenali, dinilai, dan diproses.
Komedi sebagai Kritik
Menariknya, seluruh persoalan tersebut disampaikan melalui komedi. Humor membuat persoalan serius tentang kemiskinan, kriminalitas, dan ketimpangan terasa lebih ringan, tetapi sekaligus membuka ruang bagi satire.
Penonton dapat tertawa melihat kekacauan para pencopet, menikmati kemeriahan konser, sekaligus melihat kontradiksi yang berada di baliknya. Di sinilah komedi bekerja bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai cara untuk membicarakan persoalan sosial tanpa harus selalu hadir dalam bentuk yang menggurui.
Karena itulah, Operasi Pesta Copet bukan hanya cerita tentang pencopet di tengah festival music, tetapi mempertemukan dua wajah kehidupan kota, mereka yang datang untuk membeli kegembiraan dan mereka yang melihat keramaian sebagai peluang bertahan hidup.
Derrida mengingatkan bahwa di balik setiap oposisi selalu terdapat relasi kuasa yang menempatkan satu sisi lebih tinggi dan sisi lainnya lebih rendah. Karena itu, di balik panggung-panggung megah, gemerlap kota, dan narasi tentang kemajuan, kita perlu bertanya, yakni siapa yang berada di pusat dan siapa yang tetap berada di pinggir. Sebab kemajuan tidak semestinya diukur dari seberapa megah panggung yang dibangun, tetapi dari seberapa adil kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dan untuk siapa sebenarnya pembangunan itu diselenggarakan.(*)
ADE KUSUMA
Dosen Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur dan Pengurus ISKI Jawa Timur








