Ketua PCI Muslimat NU Malaysia Dorong Mahasiswa Indonesia Aktif Berorganisasi, Ini Alasannya

Momen yudisium di Institut Agama Islam Al-Urwatul Wutsqo Bulurejo, Diwek, Jombang, Senin (28/9/2026). (foto: Mukani)

JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Ketua Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) Muslimat NU Malaysia, Hj Mimin Mintarsih, mendorong mahasiswa Indonesia tidak hanya fokus pada aktivitas akademik, tetapi juga aktif berorganisasi untuk meningkatkan kapasitas diri sebelum terjun ke masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Hj Mimin saat memberikan orasi ilmiah dalam acara yudisium di Institut Agama Islam Al-Urwatul Wutsqo (IAI-UW) Bulurejo, Diwek, Jombang, Senin (28/9/2026).

Yudisium tersebut terbilang istimewa. Selain dihadiri civitas akademika dan para calon wisudawan, kegiatan itu menghadirkan Hj Mimin yang dikenal sebagai aktivis pendidikan di Malaysia, terutama dalam memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia.

Pada 2022, Hj Mimin menerima penghargaan Pelindungan WNI Award dari Kementerian Luar Negeri RI.

Dalam orasinya, alumni Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang itu mengungkapkan perkembangan organisasi NU di Malaysia.

“Semua lembaga dan badan otonom sudah ada berdiri di PCINU Malaysia, termasuk Muslimat NU yang sudah berdiri di 10 negara,” ujar alumni Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang ini.

“PCINU Malaysia berdiri tahun 1999, kebetulan saat itu deklarasinya di rumah saya,” ujarnya. “Bahkan sekarang sudah mendirikan Pondok Pesantren An-Nahdhoh,” tambahnya.

Menurutnya, banyak ruang pengabdian yang dapat dilakukan para sarjana setelah menyelesaikan pendidikan. Salah satunya melalui perhatian terhadap pendidikan anak-anak pekerja Indonesia di Malaysia.

Banyak pengabdian yang bisa dilakukan para sarjana. Dia mencontohkan nasib pendidikan anak pekerja lndonesia di Malaysia. “Ada beasiswa Adem bagi kalangan NU, kalau beasiswa Adik untuk anak-anak dari Papua,” tambahnya.

Hj Mimin juga memaparkan aktivitas lembaga pendidikan yang dikelolanya di Malaysia.

“Di lembaga saya saja ada 175 siswa, belum termasuk jenjang PAUD, lembaga kami di bawah KBRl dan yang lulus dapat sertifikat,” jelasnya. “Banyak kampus di lndonesia yang saya minta KKN internasional di lembaga kami untuk membantu mengajar,” tambahnya.

Karena itu, dirinya mendorong mahasiswa di Indonesia untuk aktif berorganisasi. Menurutnya, pengalaman berorganisasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan kapasitas mahasiswa ketika nantinya terjun ke tengah masyarakat.

Dirinya mendorong mahasiswa di Indonesia untuk aktif berorganisasi agar meningkat kapasitasnya. “Tidak hanya aktif di organisasi mahasiswa, karena itu sangat penting saat terjun ke masyarakat,” pesannya.

Sebanyak 163 mahasiswa IAI-UW ditetapkan sebagai calon wisudawan dalam yudisium tersebut. Mereka terdiri dari 110 mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan 53 mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI).

Rektor IAI-UW Dr. Zahrotun Ni’mah Afif menegaskan bahwa dukungan alumni menjadi bagian penting bagi perguruan tinggi dalam menghadapi kompetisi dengan banyak perguruan tinggi lainnya.

“Apalagi kampus IAI-UW sudah punya banyak program studi,” ujarnya.

Selain mendorong para lulusan untuk terus mengembangkan kapasitas, Rektor IAI-UW juga mengingatkan pentingnya menjaga etika ilmiah.

Dia juga berpesan pentingnya para wisudawan menjaga etika ilmiah. “Karena itu adab yang penting terus dijaga, jangan sampai pintar tapi menyalahi adab,” ujarnya.

Dirinya mencontohkan salah satu penyaji makalah seminar internasional di Eropa yang berasal dari Indonesia. “Dia pintar, tapi tidak jujur dalam melakukan penelitian yang dipresentasikan,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu peserta yudisium, Rahma Nur Mumpuni, mengaku bangga mengikuti proses tersebut. Ia menilai perubahan status kampus dari sekolah tinggi menjadi institut menjadi salah satu hal yang membanggakan bagi mahasiswa.

“Dulu kita masuk kampus kita masih berstatus sekolah tinggi, tapi sekarang menjadi institut, ini suatu yang membanggakan,” ujarnya.

Dia berharap agar mahasiswa terus meningkatkan kapasitasnya. “Demi meraih masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Selain Program Studi PAI dan MPI, IAI-UW juga memiliki program pascasarjana PAI. Kampus tersebut juga memiliki Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Ekonomi Syariah (ES), Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), dan Tadris Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (TIPA).(*)

Kontributor: Mukani

Editor: Abdel Rafi