Skill Up Mission 2026 Dimulai, Generasi Muda Disiapkan Jadi Young Change Maker

Momen technical meeting panitia dan peserta Skill Up Mission 2026 di Aula Kantor Disporapar Kabupaten Pamekasan, Madura, Minggu (27/9/2026). (foto: Inung)

PAMEKASAN, CAKRAWARTA.com – Langkah awal menyiapkan generasi muda sebagai young change maker dimulai. Skill Up Mission 2026 resmi memasuki tahap persiapan melalui Technical Meeting (TM) yang digelar di Aula Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Pamekasan, Minggu (27/9/2026).

Technical Meeting menjadi momentum awal untuk menyatukan pemahaman seluruh unsur yang terlibat, mulai dari konsep program, alur kegiatan, pembagian peran hingga berbagai persiapan teknis sebelum peserta mengikuti seluruh rangkaian Skill Up Mission.

Ketua Panitia Skill Up Mission, Marietta Annisa, mengatakan Technical Meeting penting untuk memastikan setiap pihak memiliki pemahaman yang sama sebelum program dimulai.

“Technical meeting menjadi titik awal untuk membangun kesiapan bersama. Kami ingin setiap pihak memahami perjalanan program, perannya masing-masing, serta bagaimana kita bersama-sama menciptakan proses belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi peserta,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Steering Committee (SC) Skill Up Mission, Linda Noviana Maulidiya, menjelaskan program tersebut tidak sekadar dirancang sebagai ruang untuk menambah pengetahuan peserta.

Menurutnya, Skill Up Mission mendorong anak dan remaja untuk berhadapan langsung dengan persoalan nyata di lingkungan sekitar. Peserta diajak mengenali masalah, memahami pengalaman masyarakat, bekerja dalam tim, hingga mengubah gagasan menjadi sebuah aksi.

“Prosesnya tidak berhenti pada menemukan masalah. Peserta akan belajar bagaimana memahami persoalan, mencari berbagai alternatif solusi, membuat dan menguji prototype, hingga mengimplementasikan serta mengukur dampak dari solusi yang dikembangkan,” jelasnya.

Rangkaian tersebut akan membawa peserta melalui sejumlah tahapan, mulai dari membangun tim, melakukan observasi, memahami pengalaman masyarakat atau pengguna, mendefinisikan masalah, mengembangkan alternatif solusi, membuat dan menguji prototype, hingga mengimplementasikan solusi dan mengukur dampaknya.

Karena itu, Technical Meeting tidak hanya menjadi forum persiapan teknis. Pertemuan tersebut juga menjadi fondasi untuk membangun komitmen, rasa memiliki, dan kolaborasi seluruh tim yang terlibat.

Setiap unsur diharapkan mampu menjalankan peran dan tanggung jawabnya secara konsisten. Sebab, keberhasilan Skill Up Mission tidak hanya ditentukan oleh desain program, tetapi juga oleh kekompakan orang-orang yang mendampingi peserta sepanjang proses belajar.

Skill Up Mission diarahkan menjadi pengalaman belajar berbasis persoalan nyata. Melalui pendekatan tersebut, peserta diharapkan mengembangkan sejumlah keterampilan penting, mulai dari critical thinking, creativity, communication, collaboration, empathy, leadership, hingga problem solving.

Dengan digelarnya Technical Meeting, Skill Up Mission 2026 resmi memasuki tahap persiapan pelaksanaan. Program ini diharapkan menjadi ruang tumbuh bagi lahirnya young change maker yang peka terhadap lingkungan, mampu bekerja bersama, dan berani membawa gagasan menjadi aksi nyata.

Skill Up Mission merupakan salah satu program Mandhâlâ Sènom yang berfokus pada pengembangan keterampilan anak usia SD hingga SMP.

Program tersebut dirancang sebagai ruang belajar berbasis pengalaman. Peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga diajak mengasah kemampuan komunikasi, kolaborasi, kreativitas, berpikir kritis, kepemimpinan, dan pemecahan masalah melalui aktivitas serta tantangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.(*)

Kontributor: Inung

Editor: Abdel Rafi