Bukan Solidaritas Baru, Ketum PBNU Ungkap KH Hasyim Asy’ari Serukan Kemerdekaan Palestina Sejak 1938

Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (depan, ketiga dari kanan) saat menerima delegasi Palestina di Ponpes Tebuireng, Jombang, Minggu (27/9/2026). (foto: FPNU untuk Cakrawarta)

JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Dukungan terhadap perjuangan Palestina ternyata memiliki jejak panjang dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU) dan Pesantren Tebuireng. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2026-2031, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, mengungkapkan bahwa KH M Hasyim Asy’ari telah menyuarakan kemerdekaan Palestina sejak 1938.

“Kita memiliki hubungan yang sangat panjang dengan Palestina. Tahun 1938, Kiai Hasyim Asy’ari menyuarakan kemerdekaan bagi Palestina,” ujarnya pada acara Muhadharoh ‘Ammah di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Minggu (27/9/2026).

Muhadharoh ‘Ammah tersebut merupakan kunjungan utusan Palestina ke Pondok Pesantren Tebuireng. Kunjungan dihadiri Utusan Khusus dan Penasihat Presiden Palestina Bidang Agama dan Hubungan Islam HE Dr. Mahmoud Sedqi Abdalrahman Alhabbash, Imam Besar Masjid Al Aqsa HE Syekh Mohammad Ahmed Mohammed Hussein, serta Duta Besar Palestina untuk Indonesia HE Abdalfatah Ahmed Khalil Alsattari.

Kehadiran para tokoh Palestina tersebut menjadi momentum mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam suasana keilmuan, keumatan, dan kemanusiaan.

Forum tersebut juga membuka ruang dialog mengenai kondisi Palestina, peran umat Islam, serta pentingnya menjaga persaudaraan antarbangsa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pertemuan dengan Pengasuh di ndalem kasepuhan. Para tamu kemudian berziarah ke Maqbaroh Hadratussyeikh KH. M. Hasyim Asy’ari sebelum mengikuti sarasehan dan dialog bersama tokoh Palestina dan ulama.

Pertemuan itu sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran bersama mengenai nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, keadilan, dan penghormatan terhadap hak-hak bangsa Palestina.

KH Abdul Hakim Mahfudz menegaskan pentingnya ukhuwah islamiah serta peran pesantren sebagai ruang terbuka bagi dialog dan penguatan kepedulian terhadap berbagai persoalan kemanusiaan.

Kehadiran tokoh-tokoh Palestina di Tebuireng juga menjadi kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk mendengar langsung perspektif dan pengalaman dari para tokoh yang berada dekat dengan persoalan Palestina.

Pesantren Tebuireng menegaskan komitmennya untuk terus mempererat tali silaturahmi serta kerja sama lintas negara, khususnya dengan Palestina.

Komitmen tersebut merupakan bentuk konsistensi dalam meneladani jalur perjuangan Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy’ari.

Gus Kikin menyampaikan bahwa KH Hasyim Asy’ari tidak hanya mengabdikan hidupnya untuk dakwah keagamaan dan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga memiliki wawasan geopolitik Islam yang kuat serta solidaritas internasional yang tinggi.

“Solidaritas untuk Palestina bukan hal baru bagi Tebuireng dan Nahdlatul Ulama. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari telah meneladankannya sejak masa-masa awal perjuangan. Beliau memelopori pembacaan Qunut Nazilah secara konsisten untuk mendoakan keselamatan rakyat Palestina, sebuah tradisi spiritual dan solidaritas yang terus kita jaga hingga hari ini,” ujar Gus Kikin.

Gus Kikin juga menjelaskan, Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia di mana mayoritas merupakan warga Nahdliyin memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk mengambil peran aktif di panggung internasional.

Oleh karena itu, penguatan hubungan internasional, terutama di bidang pendidikan dan kebudayaan, menjadi langkah krusial untuk masa depan lembaga pendidikan Islam di Indonesia.

Sementara itu, kehadiran Imam Besar Masjid Al-Aqsa serta Penasihat Presiden Palestina Bidang Keagamaan memberikan dimensi keagamaan yang kuat dalam forum tersebut.

Masjid Al-Aqsa bukan hanya memiliki kedudukan penting bagi umat Islam, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah dan identitas bangsa Palestina.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi