
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Silaturahmi tokoh-tokoh Palestina dengan para ulama Nahdlatul Ulama (NU) terus berlanjut. Kali ini, sejumlah tokoh penting Palestina menyambangi Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, dan bertemu dengan Rais Aam PBNU K.H. Miftachul Akhyar bersama jajaran ulama serta pengasuh pesantren di Jawa Timur.
Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk mempererat hubungan persaudaraan antara ulama Indonesia dan Palestina sekaligus membuka ruang dialog mengenai berbagai persoalan keumatan, kemanusiaan, dan solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Sejumlah tokoh Palestina hadir dalam pertemuan tersebut, yakni H.E. Dr. Mahmoud S.A. Al-Habash, Penasihat Presiden Palestina Bidang Keagamaan, H.E. Sheikh Mohammad A.M. Hussein, Imam Besar Masjid Al-Aqsa, Palestina serta Duta Besar Palestina untuk Republik Indonesia Abdulfattah A.K. Al-Satar.
Kehadiran para tokoh Palestina tersebut menjadi bagian dari rangkaian silaturahmi dengan para ulama dan kiai Nahdlatul Ulama di Jawa Timur.
Pertemuan berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan penuh keakraban. Selain menjadi ajang mempererat tali silaturahmi, pertemuan tersebut juga menjadi ruang dialog antara ulama Indonesia dan Palestina mengenai berbagai persoalan yang menyangkut keumatan dan kemanusiaan.
Rais Aam PBNU K.H. Miftachul Akhyar memberikan penegasan bahwa hati dan sikap warga NU akan terus membersamai rakyat Palestina yang tangguh dan Masjidil Aqsha yang diberkahi seraya senantiasa memohon kepada Allah agar menjaga Palestina dan rakyatnya serta mengaruniakan kepada kita semua kesempatan untuk bisa melaksanakan shalat di Masjidil Aqsha dalam keadaan merdeka dan mulia.
Pesantren sebagai Rumah Persaudaraan
Pertemuan di Pondok Pesantren Miftachussunnah kembali menegaskan peran pesantren sebagai ruang strategis untuk membangun dialog keumatan sekaligus memperkuat persaudaraan lintas bangsa.
Bagi Nahdlatul Ulama dan kalangan pesantren, hubungan dengan Palestina tidak semata-mata dibangun melalui hubungan antarlembaga. Ikatan tersebut juga tumbuh melalui persaudaraan, kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan, serta nilai-nilai keagamaan yang mempertemukan masyarakat Indonesia dan Palestina.
Kehadiran Imam Besar Masjid Al-Aqsa dan Penasihat Presiden Palestina Bidang Keagamaan juga memberikan kesempatan bagi para ulama Indonesia untuk mendengarkan secara langsung perspektif dan pengalaman para tokoh Palestina mengenai situasi yang dihadapi masyarakat Palestina.
Forum tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai gagasan dan dialog mengenai persoalan kemanusiaan serta hubungan persaudaraan antarbangsa.
Silaturahmi tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat gagasan bahwa ulama memiliki peran penting dalam membangun perdamaian dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Melalui dialog dan silaturahmi, hubungan antara ulama Indonesia dan Palestina diharapkan semakin erat serta mampu melahirkan kerja sama dalam bidang keagamaan, pendidikan, kemanusiaan, dan penguatan persaudaraan umat.
Pertemuan di Pondok Pesantren Miftachussunnah Surabaya itu pun menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat jembatan persaudaraan antara Indonesia dan Palestina, khususnya melalui hubungan antartokoh agama, pesantren, dan ulama.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








